Di Balik Megahnya Bendungan Lau Simeme, Ada Desa yang Tenggelam dan Harapan Baru dari Wisata Lokal

Bendungan Lau Simeme. (Foto: Matius/Mistar)
Menurut informasi yang diterimanya, masih terdapat sekitar 30 persen lahan di sejumlah wilayah, termasuk Kuala Dekah, Sari Laba, Penen, dan Mardingding, yang berkaitan dengan persoalan pembebasan lahan. Sebagian perkara disebut masih berproses melalui jalur hukum hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung.
Komando menilai, perbedaan pandangan mengenai nilai ganti rugi merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari proses pembebasan lahan berskala besar. Di satu sisi, pembangunan bendungan menjadi bagian dari kebutuhan infrastruktur. Di sisi lain, masyarakat yang lahannya terdampak memiliki kepentingan atas hak mereka yang perlu diselesaikan.
Karena itu, di tengah megahnya infrastruktur yang kini berdiri, penyelesaian persoalan warga tetap menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan Bendungan Lau Simeme.
Sebelum bendungan dibangun, sebagian besar masyarakat Kuala Dekah menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan, lanjut Komando Ginting. Sawit, karet, dan jagung menjadi komoditas yang banyak diusahakan warga. Kini, setelah sebagian lahan terendam, masyarakat harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah.
Ia menjelaskan, warga yang masih memiliki lahan di luar kawasan genangan tetap melanjutkan aktivitas pertanian. Namun, luas lahan yang bisa diusahakan semakin terbatas karena sebagian masuk ke dalam lokasi bendungan.
“Sekarang warga mengusahakan lahan yang tidak terkena dampak pembangunan bendungan,” ujar Komando.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa dampak pembangunan tidak berhenti ketika warga meninggalkan rumah lama dan menempati tempat tinggal baru. Kehidupan ekonomi mereka juga harus menemukan pola baru agar tetap berjalan.
Bagi keluarga yang memiliki kebun atau ladang di lokasi lain, aktivitas pertanian masih bisa dilanjutkan. Namun, bagi mereka yang kehilangan sebagian besar lahan produktif, perubahan itu menuntut penyesuaian terhadap sumber penghasilan.
Di tengah kondisi tersebut, muncul peluang yang sebelumnya tidak pernah benar-benar dibayangkan: kawasan bekas permukiman dan perbukitan yang kini mengelilingi bendungan mulai menarik perhatian wisatawan.
Kisah Bendungan Lau Simeme, dari Kawasan Genangan Menjadi Tujuan Wisata
Dahulu, air yang menenggelamkan rumah dan ladang kini menghadirkan wajah baru bagi Kuala Dekah, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Pemandangan bendungan yang luas, perbukitan yang mengelilinginya, serta suasana alam yang relatif terbuka menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke tempat ini.
Kawasan ini mulai ramai, terutama pada hari Minggu, hari libur nasional, dan hari libur keagamaan. Kehadiran pengunjung kemudian membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Warung-warung sederhana didirikan di sejumlah titik. Warga mulai menjual makanan dan minuman, sementara aktivitas parkir turut memberikan kesempatan untuk memperoleh penghasilan.
Komando mengatakan, masyarakat mulai melihat potensi tersebut ketika air bendungan naik dan pengunjung berdatangan. Masyarakat pun mulai membangun warung dan pondok sederhana untuk melayani pengunjung. Meski demikian, Komando mengakui lahan tempat mereka membuka usaha bukanlah milik pribadi warga.
Karena itu, menurutnya, pengembangan wisata ke depan perlu dibarengi dengan penataan kawasan dan kejelasan kebijakan agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat berlangsung dengan lebih baik. Ia melihat kehadiran wisatawan sebagai peluang yang patut dikembangkan, terutama bagi warga yang selama ini mengandalkan pertanian dan perkebunan.
“Kalau wisatawan datang dalam jumlah banyak, tentu perekonomian warga akan meningkat,” terangnya.
Bahkan, pada hari-hari ramai pengunjung, Komando mengaku ikut membantu mengatur parkir. Kawasan yang mulai dikenal luas itu terkadang mengalami kepadatan kendaraan, terutama ketika jumlah pengunjung meningkat pada akhir pekan. Fenomena tersebut menjadi gambaran bagaimana sebuah kawasan yang semula dibangun untuk kepentingan infrastruktur kini mulai memiliki fungsi ekonomi tambahan bagi masyarakat di sekitarnya.
Potensi wisata itu masih berada pada tahap awal. Belum semua fasilitas tersedia, dan belum ada rencana pengembangan terperinci yang dipastikan akan diterapkan. Wacana aktivitas wisata air, seperti penggunaan jetski, misalnya, belum dapat direalisasikan. Menurut Komando, kegiatan semacam itu membutuhkan izin, regulasi yang jelas, perlengkapan keselamatan, dan jaminan asuransi untuk mengantisipasi risiko kecelakaan.
Bagi Komando, potensi wisata tidak cukup hanya mengandalkan pemandangan alam. Pengelolaan yang aman dan tertata juga diperlukan agar kawasan ini dapat berkembang secara berkelanjutan.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER













































