Tembung, Tempat Pertemuan Tak Sengaja yang Berlanjut ke Simpang Jodoh

Perkebunan Bandar Klippa. (Foto: Facebook/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Jauh sebelum Tembung tumbuh menjadi kawasan ramai di perbatasan Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, wilayah ini menyimpan kisah pertemuan tak sengaja antara pekerja perkebunan dan warga setempat.
Pertemuan yang kemudian berlanjut menjadi ajang mencari pasangan di Simpang Jodoh itu menjadi bagian dari sejarah yang melatari nama kedua wilayah tersebut.
Tembung merupakan nama wilayah yang diambil dari bahasa Melayu, yang berarti tempat perjumpaan yang tidak disengaja.
Pada 1875, Tembung masih berbentuk kampung. Wilayah ini menjadi tempat pertemuan ribuan kuli perkebunan Bandar Klippa dengan orang kampung.
Terus berkembang, Simpang Jodoh pun menjadi destinasi pada malam hari. Wilayah ini disebut-sebut banyak mempertemukan jodoh antara pekerja dan orang kampung.
Puncaknya pada 1905, Deli Maatschappij menggabungkan perkebunan Timbang Deli dan Bandar Klippa. Secara otomatis, jumlah pekerja semakin banyak di atas lahan seluas 6.000 meter persegi tersebut.
Budayawan Sumatera Utara, OK Zulfani Anhar, membenarkan informasi tersebut. Ia menyebut Tembung merupakan tempat perjumpaan yang tidak disengaja.
“Tembung itu bahasa Melayu. Karena pekerja perkebunan dominan berasal dari luar Sumatra, jadi banyak pertemuan yang tidak disengaja dengan orang kampung sana. Itulah awal mulanya,” cerita OK kepada Mistar, Senin (26/10/2026).
Dari pertemuan itu, kata OK, para pekerja dan orang kampung berlanjut dengan saling tebar pesona di Simpang Jodoh.
“Kalau zaman dulu, saat pekerja perkebunan gajian besar, mereka malam harinya ke Simpang Jodoh. Di sana saling tebar pesona dan mencari hiburan. Bahkan banyak yang bersua jodohnya. Makanya disebut Simpang Jodoh,” ceritanya.
Karena banyaknya aktivitas masyarakat, Simpang Jodoh mulai ramai dengan aktivitas perniagaan orang kampung. Salah satu yang paling terkenal hingga sekarang adalah Rujak Simpang Jodoh.
“Kondisi ini masih tetap berlangsung sampai tahun 1950. Setiap malam Kamis dan Minggu, sangat ramai warga datang ke Simpang Jodoh. Sekarang juga sebenarnya masih ramai yang datang, tapi makna awal terbentuknya Simpang Jodoh sudah bergeser," tuturnya.
"Pesatnya geliat ekonomi hingga kepentingan sekarang sudah berbeda. Aktivitas perniagaan juga meningkat di sana. Tapi itulah awal mula terbentuknya dua wilayah tersebut,” pungkasnya mengakhri. (hm25)














































