Friday, July 31, 2026
home_banner_first
MEDAN

Desak Dapur MBG Bermasalah Ditutup, Komisi E DPRD Sumut: Jangan Cari Kaya!

Mistar.idSelasa, 16 Juni 2026 pukul 05.00 WIB
desak_dapur_mbg_bermasalah_ditutup_komisi_e_dprd_sumut_jangan_cari_kaya

Wakil Ketua Gerindra Sumut sekaligus Ketua Komisi E DPRD Sumut, Muhammad Subandi, saat memberikan keterangan di ruangannya, Senin (15/6/2026). (Foto: Ari/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Ketua Komisi E DPRD Sumatera Utara, Muhammad Subandi, melontarkan pernyataan tegas terkait polemik yang terus membayangi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengingatkan seluruh pihak yang terlibat agar tidak menjadikan program strategis nasional tersebut sebagai ladang mencari keuntungan pribadi.

Menurutnya, pemerintah harus bertindak tegas terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tidak memenuhi standar pelayanan dan kualitas makanan bagi siswa.

“Jangan cari kaya di MBG. Kalau ada dapur yang tidak layak, harus ditertibkan, kalau perlu ditutup. Tidak boleh mengambil keuntungan dari makanan anak-anak dan program mulia ini,” tegasnya kepada Mistar saat ditemui di DPRD Sumut, Senin (15/6/2026).

Politisi Gerindra itu menilai seluruh komponen biaya operasional seperti tenaga kerja, listrik, air, hingga yayasan pelaksana sudah memiliki porsi anggaran tersendiri. Untuk itu, menurutnya, tidak ada alasan bagi oknum tertentu untuk mengurangi kualitas makanan demi meraup keuntungan lebih besar.

“Kalau mau cari kaya dari MBG, itu sudah salah. Program ini dibuat untuk membantu masyarakat, bukan untuk memperkaya segelintir orang,” katanya.

Ia turut menyoroti pentingnya penyaluran MBG kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan. Ia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi agar program lebih banyak menyentuh anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama di wilayah pinggiran dan pedesaan.

Ia menilai masih banyak sekolah yang hingga kini belum mendapatkan layanan MBG, padahal kebutuhan di lapangan sangat besar.

“Barusan saya menerima pesan dari kepala sekolah di Sei Mencirim yang mempertanyakan kenapa mereka belum mendapatkan MBG. Artinya masih banyak yang membutuhkan program ini,” ujarnya.

Ia mengaku sering berdialog langsung dengan masyarakat dan menemukan banyak keluarga yang kesulitan menyediakan uang saku maupun sarapan untuk anak-anak mereka.

“Saya tanya langsung kepada ibu-ibu di masyarakat, apakah sanggup memberi Rp10 ribu setiap hari kepada anaknya. Banyak yang bilang tidak sanggup. Jadi jangan bicara tanpa melihat kondisi di lapangan. Setiap bulan, minimal 500 masyarakat saya temui untuk survei itu,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Subandi juga membagikan kisah yang menurutnya menjadi bukti nyata manfaat program MBG bagi masyarakat miskin.

Ia menceritakan seorang anak sekolah yang harus berjalan kaki sejauh enam kilometer untuk menuju sekolah. Sebelum ada MBG, anak tersebut kerap memilih tidak berangkat ketika hujan turun. Namun, kondisi berubah setelah sekolahnya mendapatkan program makan bergizi gratis.

“Anak itu bilang kalau tidak sekolah dia rugi dua kali. Ketinggalan pelajaran dan tidak dapat makan bergizi. Karena di rumah memang tidak selalu ada sarapan. Tetapi sejak ada MBG, ia sudah rajin sekolah,” ungkap Subandi.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN