Bisnis Kopi Angkringan Medan Menjamur, Bertahan di Tengah Gempuran Coffee Shop

Salah satu angkringan kopi di Jalan Gatot Subroto, Kota Medan. Mereka masih bertahan di tengah gempuran coffee shop yang viral dan Instagramable. (Foto: Donny/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Malam masih terlihat sepi. Namun, satu per satu anak muda mulai berdatangan dan duduk santai di kedai kopi angkringan di Jalan Gatot Subroto, Medan.
Semakin malam, pengunjung semakin ramai menikmati kopi sekaligus suasana Kota Medan setelah melewati hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari.
Ya, kedai kopi angkringan di Kota Medan tampaknya mulai menjamur. Anak-anak muda pun mulai membidik bisnis ini, meski tantangan yang dihadapi tidak sedikit, termasuk cuaca yang belakangan ini kurang bersahabat.
Di tengah gempuran coffee shop mewah dengan harga puluhan ribu rupiah di Kota Medan, keberadaan angkringan kopi kaki lima dengan konsep tradisional masih tetap bertahan.
Meski kondisi saat ini terpantau sepi pembeli, para pelaku UMKM angkringan tetap optimistis. Mereka menjadikan angkringan sebagai solusi tempat nongkrong hemat bagi anak muda tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Pantauan Mistar TV di kawasan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Nibung, Kota Medan, Senin (3/11/2026) malam, sejumlah lapak angkringan tampak masih buka hingga larut malam, meski jumlah pengunjung tidak seramai dulu.
Kondisi sepi ini diduga karena pergeseran gaya hidup anak muda yang kini lebih memilih tempat nongkrong berpendingin udara dan Instagramable untuk membuat konten media sosial. Namun, bagi sebagian anak muda lainnya, angkringan justru menjadi destinasi favorit karena harganya yang sangat ekonomis.
Salah satu pelaku UMKM angkringan, Jose, mengaku omzet penjualannya kini menurun drastis dibandingkan setahun lalu. Dalam enam bulan terakhir, ia mulai merasakan sepinya pengunjung yang berdampak pada pendapatan.
Selain persaingan dengan coffee shop modern, lapaknya yang berada di pinggir jalan tanpa atap membuat pelanggan enggan bertahan lama, terutama saat hujan turun pada malam hari.
Jose bercerita, sebelum membuka angkringan di Jalan Gatot Subroto, ia sempat membuka usaha di kawasan Sei Belutu dengan menyewa rumah. Namun, usahanya tidak berjalan mulus dan akhirnya gulung tikar setelah satu tahun.
“Sebelumnya saya buka di Sei Belutu, di situ saya sewa rumah. Rupanya berjalan satu tahun, ternyata prosesnya tidak segampang itu dan terakhir gulung tikar. Kemudian melihat peluang angkringan kopi sedang lagi tren dan berpikir untuk memulai usaha seperti ini dan puji Tuhannya mendapatkan keuntungan yang lumayan,” ujar Jose.
Ia menyebut, membuka angkringan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan membuka coffee shop.
“Membuka angkringan ini saya bilang cukup mudah ya ketimbang membuka coffee shop. Kalau coffee shop kan butuh modal yang cukup besar. Kalau angkringan ini tidak terlalu besar karena tidak perlu sewa rumah atau ruko, cukup sewa lapak dan membeli kursi-kursi kecil,” jelasnya.
Usahanya di Jalan Gatot Subroto sendiri sudah berjalan lebih dari dua tahun dan telah memberikan hasil yang lumayan, meski enam bulan terakhir mengalami penurunan.
“Selama 2 tahun kita buka ini, baru 6 bulan terakhir lah kita mengalami sepi pengunjung dan pendapatan menurun. Tetapi apa pun itu, intinya harus tetap semangat dan terus berusaha,” ucapnya.






































