Domino Menembus Sekat Generasi, dari Warung Kopi Menuju Arena Prestasi

Masyarakat lintas usia mengikuti Medan Turnamen Domino HGI 2026 di GOR Astaka Pancing, Medan. (Foto: Ari/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Dari warung kopi hingga arena kompetisi, domino punya cara tersendiri untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai usia. Permainan yang dahulu identik dengan hiburan santai ini kini mulai menunjukkan wajah berbeda, bahkan membuka peluang untuk berkembang menjadi arena prestasi.
Permainan yang tampak sederhana ini memiliki daya tarik tersendiri. Lebih dari sekadar hiburan, permainan ini menuntut strategi, konsentrasi, ketepatan, kemampuan membaca situasi, serta kecakapan dalam mengambil keputusan.
Namun, di balik popularitasnya, domino tidak pernah sepenuhnya lepas dari stigma negatif. Banyak orang kerap mengaitkan permainan ini dengan perjudian. Persepsi tersebut membuat domino lebih sering dipandang sebagai kegiatan pengisi waktu luang yang berkonotasi negatif, alih-alih sebagai permainan yang berpotensi berkembang menjadi cabang olahraga yang diakui.
Seiring berjalannya waktu, berbagai upaya mulai dilakukan untuk mengubah persepsi tersebut. Permainan domino kini bergerak ke ranah yang lebih profesional melalui penyelenggaraan berbagai kompetisi dan turnamen. Jika sebelumnya identik dengan kedai kopi dan suasana santai, permainan ini kini diperkenalkan sebagai cabang olahraga yang mengedepankan keterampilan, strategi, sportivitas, dan disiplin.
Salah satu kompetisi domino secara profesional dilaksanakan di GOR Astaka Pancing, Medan, melalui kegiatan Medan Turnamen Domino HGI 2026. Salah seorang peserta, Yahya Molana, 21 tahun, menyampaikan ia menyambut baik adanya ruang ekspresi baru bagi anak muda melalui permainan domino.
“Biasa saya main domino ini sama kawan-kawan tongkrongan rumah, sekolah hingga saat ini kuliah. Tetapi saya rasa ini ruang baru ya, karena kompetisinya saya dipertemukan dengan para peserta yang usianya jauh di atas saya, bisa dibilang petarung-petarung dari warung kopi,” katanya kepada Mistar sembari tertawa.
Senada dengan Yahya, peserta lainnya, Deddy Achek, 47 tahun, mengungkapkan dalam kompetisi domino, pengalaman saja tidak bisa dijadikan tolok ukur. Pasalnya, bermain domino membutuhkan ketelitian dan insting atau feeling yang kuat.
“Tidak bisa kalau hanya berangkat dari pengalaman bermain. Tetapi karena kita main tim, jadi harus ada naluri feeling yang kuat, kartu dan angka berapa yang bisa kita dapatkan poin kemenangan besar. Tambah lagi, saingan kita banyak anak muda yang masih energik,” ucap Deddy.
Pembentukan Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) merupakan bagian dari upaya untuk mendorong transformasi tersebut. Melalui organisasi ini, permainan domino diarahkan ke dalam kerangka yang lebih terstruktur, mencakup tata kelola, aturan resmi, pengembangan atlet, serta kompetisi yang terorganisasi.
Ketua Umum PORDI, Andi Jamaro Dulung, mengatakan pihaknya berkomitmen mengubah stigma masyarakat terhadap permainan domino menjadi lebih positif. Menurutnya, kehadiran kompetisi domino yang dilaksanakan secara profesional dapat berperan penting dalam menekan angka penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, dan kejahatan lainnya.
“Ada lima prinsip dalam bermain domino berdasarkan ketentuan yang kami sampaikan. Kelima prinsip itu adalah No Judi, No Narkoba, No Alkohol, dan No Smoking. Kemudian untuk 1T-nya adalah Tertib Beribadah. Ini menjadi kunci,” katanya kepada wartawan pada 31 Oktober 2026 di GOR Astaka Pancing, Medan.
Tidak berhenti di situ, ia menyampaikan pihaknya sedang berupaya melaksanakan sosialisasi secara menyeluruh terkait regulasi dan ketentuan bermain domino secara seragam.
“Setiap kompetisi yang kami laksanakan, di kegiatan itu kami sudah siapkan barcode. Di barcode itu terlampir aturan dan ketentuan secara jelas, dan ter-update jika terjadi perubahan dalam aturan, sehingga informasi yang kami sosialisasikan dapat dipahami secara maksimal,” ucapnya.
Namun, pergeseran ini tentu bukan sekadar memindahkan permainan dari meja kedai kopi ke arena turnamen profesional. Lebih dari itu, terdapat misi yang lebih luas, yakni menumbuhkan budaya bermain yang sehat sekaligus menjauhkan olahraga domino dari praktik perjudian.
Pada akhirnya, sebuah permainan tidak ditentukan oleh stigma yang melekat, melainkan oleh budaya dan nilai-nilai yang dikembangkan masyarakat di dalamnya. Dalam permainan domino, keterampilan seperti berpikir strategis, pengendalian emosi, rasa hormat terhadap lawan, dan kepatuhan terhadap aturan merupakan elemen penting yang harus diutamakan.
Nilai-nilai ini juga menciptakan lingkungan pembelajaran yang dapat dinikmati oleh semua kalangan usia. Potensi domino sebagai permainan antargenerasi menjadi daya tarik utama lainnya. Pasalnya, di tengah perkembangan berbagai jenis permainan modern, domino menyediakan ruang pertemuan bagi generasi muda dan generasi yang lebih tua untuk berinteraksi dalam arena yang sama.
Perbedaan usia, latar belakang, dan profesi tidak lagi menjadi penghalang ketika setiap peserta diberikan kesempatan yang setara untuk berkompetisi dengan semangat sportivitas.
Pengembangan yang konsisten, penyelenggaraan kompetisi profesional, serta komitmen tegas untuk menolak perjudian menjadi landasan penting dalam membangun citra baru olahraga ini. Pada akhirnya, domino bukan sekadar soal memenangkan permainan dengan menyusun kepingan di atas meja.
Permainan ini mengasah strategi, kecerdasan, kesabaran, rasa kebersamaan, dan sportivitas. Dari warung kopi hingga arena kompetisi, dan dari stigma negatif menuju pencapaian, domino memiliki peluang untuk membuktikan sebuah hiburan populer dapat berkembang menjadi olahraga yang membanggakan.
Transformasi ini tentu memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Organisasi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas perlu berperan dalam mempromosikan permainan domino sebagai olahraga yang positif.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sumut, Mahfullah, sebelumnya mengatakan domino memiliki indikator yang secara umum dapat dipahami masyarakat sebagai sebuah permainan.
“Ini menjadi bagian pemersatu, kami memberikan fasilitas seluasnya untuk kompetisi. Domino merupakan permainan yang hadir di tengah masyarakat. Tentunya karena ini olahraga masyarakat dan berada di bawah naungan KORMI, maka kami siap memberikan dukungan fasilitas dan bantuan dana hibah,” tegasnya.
Lebih jauh, Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Sumut, Daffasya Sinik, mengatakan bahwa permainan domino bukan olahraga yang baru lahir atau baru muncul di tengah masyarakat, melainkan sudah dikenal sejak lama.
“Untuk itu, kita berkomitmen olahraga ini harus menjadi lebih profesional. Hari ini PORDI dan KORMI memfasilitasi teman-teman untuk terjun langsung dan bertanding serta memberikan ruang secara profesional. Tentunya kita berharap olahraga ini kembali hidup pada tingkat desa maupun kelurahan. Ke depan, kita akan berupaya berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tetapi fokus kami pada 2027, domino Sumut siap menang pada PORNAS 2027,” katanya. (hm25)











































