Harga Minyak Dunia Turun 1,5 Persen, Pasar Menanti Hasil Perundingan Iran

Ilustrasi. (Foto: Reuters/Eli Hartman)
Jakarta, MISTAR.ID - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan lebih dari 1% pada perdagangan Senin (2/11/2026). Penurunan ini dipicu harapan pasar terhadap kemajuan perundingan Iran dan Qatar untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun US
111,84 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US 102,56 per barel.
Sebelumnya, harga Brent menutup perdagangan Oktober di posisi tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik AS-Iran menjelang pemilu sela Amerika Serikat yang berlangsung pada Selasa.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan harapan terhadap kemajuan diplomasi dan tidak adanya eskalasi militer signifikan selama akhir pekan telah meredakan tekanan harga minyak untuk sementara waktu.
"Harapan yang masih tersisa terhadap kemajuan diplomasi, ditambah dengan tidak adanya eskalasi militer yang berarti selama akhir pekan, telah meredakan ketegangan harga untuk sementara waktu," ujar Waterer, dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026).
Meski demikian, pasar minyak masih dibayangi ketidakpastian. Waterer menilai ketegangan politik terkait Iran berpotensi kembali meningkat setelah pemilu sela AS. Kondisi tersebut bahkan dapat mendorong harga minyak Brent mendekati US$120 per barel.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut perundingan dengan mediator Qatar menunjukkan perkembangan positif. Iran juga menegaskan kesiapannya menghadapi berbagai kemungkinan, baik melalui jalur pertahanan maupun diplomasi.
Perundingan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Situasi ini turut meningkatkan biaya energi dan pengiriman barang secara global.
Tekanan terhadap sektor energi juga muncul setelah kelompok Houthi Yaman yang pro-Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi. Namun, dua dari tiga perusahaan pelacak kapal mencatat ekspor minyak mentah Arab Saudi justru meningkat pada Oktober dibandingkan September.
Sementara itu, negara-negara anggota OPEC+, termasuk Rusia, sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk Desember dalam pertemuan pada Minggu (1/11/2026).
Keputusan tersebut sekaligus menutup peluang perubahan kebijakan produksi dalam waktu dekat. OPEC+ masih dihadapkan pada gangguan rantai pasok dan ekspor minyak akibat perang Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.(hm25/detikfinance)
PREVIOUS ARTICLE
Menekraf Berharap Desa Disulap Jadi Mesin Ekonomi Kreatif





































