Sunday, November 1, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Pengusaha Muda Medan: Penguatan Produk dan SDM Jadi Fondasi Pertumbuhan Bisnis

Mistar.idMinggu, 1 November 2026 pukul 12.55 WIB
pengusaha_muda_medan_penguatan_produk_dan_sdm_jadi_fondasi_pertumbuhan_bisnis_

CEO SkySeaid, Sky Salim dalamdiskusi bertajuk Marketing that Moves the Business. (Foto: Amita/Mistar)

Medan, MISTAR.ID - Fondasi bisnis yang kokoh tidak bergantung pada besarnya anggaran iklan, melainkan kombinasi antara kualitas produk, sistem operasional, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Hal ini diungkapkan CEO SkySeaid, Sky Salim dalam diskusi bertajuk Marketing that Moves the Business, terkait kiat sukses membangun strategi bisnis dan pemasaran di era modern.

Pria berusia 22 tahun ini mencontohkan sejumlah usaha kuliner populer yang tetap dipadati pengunjung setiap hari tanpa melakukan kampanye promosi berbayar secara masif.

Baginya, produk berkualitas dapat mendorong konsumen melakukan promosi secara sukarela melalui organic user-generated content (konten yang dibuat pengguna secara organik).

"Ini membuktikan, product is the trigger. Menurut saya, zaman sekarang the sustainable marketing adalah kita punya produk bagus ditambah SDM dan sistem yang bagus. Marketing-nya 20 persen saja," katanya dalam kegiatan Clapham Conversation, Minggu (1/11/2026).

Menurutnya, ketika sebuah merek sudah memiliki produk yang mumpuni, fokus pemasaran bukan lagi mencari banyak Key Opinion Leader (KOL) atau memborong iklan konvensional yang mahal. Perusahaan cukup menerapkan strategi marketing retention untuk menjaga loyalitas pelanggan yang sudah ada.

Sky juga menekankan strategi membangun merek dalam jangka panjang (branding) dan aktivitas penjualan harian (marketing) harus dibedakan. Menurutnya, kedua hal tersebut memiliki disiplin ilmu yang berbeda dan tidak bisa digabungkan.

"Branding and marketing are two different things. Kita gak bisa suruh tukang listrik mengerjakan pipa air," ucapnya.

Oleh karena itu, jika sebuah perusahaan ingin membangun merek yang bertahan lama, urusan pencitraan perlu diserahkan kepada ahlinya. Hal tersebut juga harus diimbangi dengan memastikan kualitas produk dan SDM internal sudah optimal.

Saat ditanyakan terkait kanal digital yang menjadi motor penggerak bisnisnya, Sky mengatakan bahwa setiap platform media sosial memiliki peran dan Key Performance Indicator (KPI) yang berbeda.

"Untuk itu, menyamakan konten di semua platform merupakan pendekatan yang kurang tepat. Misalnya Instagram, harus jadi bottom funnel atau etalase untuk mereka mengirim pesan. Jika membandingkan chat di DM TikTok dan Instagram, mana lebih possible jadi conversation? Menurut saya di Instagram," ucapnya.

Sementara itu, TikTok dinilai sangat efektif menempati posisi top funnel untuk mendulang viralitas. Namun, pemanfaatannya harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing bisnis, baik Business-to-Consumer (B2C) maupun Business-to-Business (B2B).

Terkait tren teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Sky mengambil jalan tengah. Menurutnya, pemanfaatan AI tidak bisa ditolak mentah-mentah, tetapi juga tidak boleh dijadikan satu-satunya andalan (rely on). AI ideal digunakan untuk mempercepat riset dan pengumpulan data yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.

Dalam menghadapi kondisi ekonomi makro saat ini, Sky mengajak pengusaha muda agar tidak mudah mengeluhkan situasi eksternal yang berada di luar kendali.

"Kalau kita lagi di samudera dan membawa kapal, kemudian ada tsunami atau ombak besar, emangnya kita komplain ke Tuhan? Kan gak bisa. Jadi, kita harus mikir cara agar bisa mempertahankan kapal. Fokus pada apa yang bisa dikontrol," ujarnya.

Di kesempatan itu, Sky juga memberikan motivasi kepada para pemula yang ingin merintis usaha. Ia mengingatkan agar para pebisnis senantiasa kembali pada visi awal dan tujuan esensial berbisnis, yaitu menghadirkan manfaat yang luas bagi orang lain. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN