Sunday, November 1, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Protes Biaya Hidup di Jerman Berujung Ricuh, Toko di Frankfurt Dijarah

Mistar.idMinggu, 1 November 2026 pukul 13.45 WIB
protes_biaya_hidup_di_jerman_berujung_ricuh_toko_di_frankfurt_dijarah

Polisi menahan seorang demonstran yang melakukan penjarahan di Frankfurt. (foto: Reuters)

Frankfurt, MISTAR.ID - Aksi demonstrasi menentang tingginya biaya hidup dan pemangkasan anggaran pelayanan publik di sejumlah kota Jerman berujung kerusuhan pada Sabtu (31/10/2026) malam waktu setempat. Sedikitnya dua toko di pusat Kota Frankfurt dijarah, sementara bentrokan antara demonstran dan polisi juga terjadi di Berlin, Cologne, serta Hamburg.

Polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan massa yang melakukan kekerasan. Sejumlah petugas layanan darurat menjadi sasaran lemparan kembang api, batu, dan botol.

Dilansir dari BBC, Minggu (1/11/2026), demonstrasi tersebut awalnya berlangsung relatif damai dan diikuti ribuan orang. Aksi itu digelar kelompok kampanye Gen Z regelt, yang berarti "Generasi Z mengambil kendali".

Para demonstran menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari peningkatan anggaran pendidikan, penanganan tingginya biaya hidup, penolakan pemangkasan belanja publik, hingga penolakan terhadap kewajiban mengikuti dinas militer.

Penyelenggara memperkirakan jumlah peserta mencapai puluhan ribu orang. Namun, otoritas di Frankfurt, Munich, dan Berlin mencatat jumlah demonstran mencapai sekitar 18.000 orang, atau kurang lebih setengah dari perkiraan penyelenggara.

Juru bicara Gen Z regelt, Lina Friedrich, mengatakan demonstrasi tersebut bertujuan memperjuangkan perdamaian dan kebebasan, bukan perang maupun pemaksaan.

"Kami menginginkan dukungan yang lebih baik bagi sistem kesehatan dan pendidikan. Kami menentang wajib militer dan mendukung pembagian beban yang lebih adil," ujarnya.

Situasi berubah ketika malam tiba. Kepolisian Frankfurt melalui media sosial X melaporkan terjadinya kerusuhan di pusat kota. Sejumlah jendela toko dirusak, sementara bom molotov dilemparkan ke arah petugas layanan darurat.

Kepolisian juga melaporkan bahwa sebuah toko senjata menjadi sasaran perusakan. Dua senjata berhasil disita setelah polisi menangkap seorang tersangka. Sejumlah penangkapan lainnya turut dilakukan di Frankfurt.

Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse, Roman Poseck, menyebut sekitar 100 orang yang diidentifikasi sebagai ekstremis sayap kiri telah menyusup ke dalam demonstrasi di Frankfurt.

Poseck menyayangkan aksi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi kekerasan. Ia juga memperingatkan agar kerusuhan di Jerman tidak berkembang seperti yang terjadi di Prancis.

"Kita semua masih mengingat gambaran dari Prancis: penjarahan, pembakaran rumah dan kendaraan polisi, serta serangan terhadap petugas kepolisian," katanya.

Gelombang Protes Meluas di Eropa

Kerusuhan di Jerman terjadi di tengah gelombang demonstrasi besar di berbagai negara Eropa. Aksi tersebut dipicu persoalan biaya hidup, perumahan, pendidikan, dan pemangkasan anggaran pelayanan publik.

Di Prancis, lebih dari 320.000 orang turun ke jalan pada Sabtu dalam rangkaian demonstrasi yang berlangsung selama tiga pekan berturut-turut. Aksi tersebut sebagian besar berjalan damai, meskipun bentrokan terjadi di sejumlah kota, termasuk Toulouse, Lyon, dan Marseille.

BBC melaporkan lebih dari 500 orang ditangkap menyusul bentrokan di sejumlah kota tersebut. Polisi juga menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa di beberapa lokasi.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengatakan seorang anggota kepolisian terluka akibat serangan bom molotov. Sementara itu, kepolisian Paris melaporkan sejumlah perusuh menyerang aparat keamanan menggunakan berbagai benda.

Demonstrasi juga berlangsung di Italia, khususnya di Roma dan Turin. Aksi di kedua kota tersebut turut diwarnai bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa.

Di Portugal, polisi membubarkan kamp tenda yang baru didirikan setelah ribuan orang menggelar demonstrasi menentang kebijakan perumahan. Para demonstran menilai rancangan kebijakan terkait pasar sewa justru berpotensi memperburuk krisis perumahan.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah kenaikan harga rumah di Portugal yang tercatat lebih dari dua kali lipat selama satu dekade terakhir.

Gelombang demonstrasi yang didominasi anak muda belakangan meluas ke sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Belgia, Irlandia, Spanyol, Portugal, Italia, Yunani, Serbia, dan Albania.

Meski tuntutan di setiap negara berbeda, para demonstran memiliki keresahan yang serupa, yakni meningkatnya biaya hidup, sulitnya memperoleh tempat tinggal yang terjangkau, persoalan pendidikan, serta pemangkasan anggaran pelayanan publik. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN