Sunday, November 1, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Negara dengan Utang Rumah Tangga Terbesar di Dunia, Apakah RI Termasuk?

Mistar.idSenin, 2 November 2026 pukul 06.30 WIB
negara_dengan_utang_rumah_tangga_terbesar_di_dunia_apakah_ri_termasuk_

Ilustrasi, negara dengan utang rumah tangga terbesar di dunia. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

Jakarta, MISTAR.ID (2/11/2026) — Pembahasan soal utang negara di Indonesia yang mencapai ribuan triliun kerap ramai diperbincangkan. Namun, di tingkat global, beban utang rumah tangga di sejumlah negara maju justru jauh lebih besar.

Utang negara yang besar tidak selalu berbahaya selama rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih dalam batas aman dan digunakan secara produktif untuk menggerakkan perekonomian.

Banyak negara maju memiliki rasio utang terhadap PDB di atas 100 persen hingga lebih dari 200 persen. Utang tersebut cenderung stabil karena mereka menggunakan sistem anggaran defisit untuk membiayai pembangunan jangka panjang.

Ukuran kesehatan utang dilihat dari perbandingannya dengan PDB, bukan jumlah nominalnya. Di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, batas aman rasio utang terhadap PDB maksimal 60 persen.

Di sisi lain, beban utang rumah tangga di sejumlah negara maju sangat besar, bahkan mencapai ratusan ribu dolar Amerika Serikat (AS) per orang.

Mengutip Visual Capitalist yang bersumber dari Bank for International Settlements (BIS) dan UN World Population Prospects, seperti dilansir CNBC Indonesia, Minggu (1/11/2026), Swiss menjadi negara dengan utang rumah tangga per kapita terbesar di dunia pada kuartal I-2026.

Utang rumah tangga per orang di Swiss mencapai 153.138 dolar AS atau sekitar Rp2,7 miliar dengan asumsi kurs Rp18.120 per dolar AS. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan Amerika Serikat yang mencatat 60.103 dolar AS atau Rp1,09 miliar.

Tingginya utang rumah tangga tidak selalu berarti kondisi keuangan masyarakat bermasalah. Di banyak negara maju, utang besar berkaitan dengan harga rumah yang mahal, pinjaman hipotek jangka panjang, serta akses kredit yang luas.

Di Swiss, salah satu faktor utamanya adalah sistem hipotek. Insentif pajak dan praktik pemberian pinjaman mendorong pemilik rumah mempertahankan utang hipotek dalam jangka waktu lebih lama.

Menariknya, enam dari 10 negara dengan utang rumah tangga per kapita terbesar berada di Eropa, yakni Swiss, Norwegia, Belanda, Denmark, Swedia, dan Inggris.

AS memiliki profil berbeda. Utang pemerintah mencapai sekitar 44 persen dari total pendapatan per kapita sebesar 224.000 dolar AS, dibandingkan hanya 9 persen di Swiss. Hal ini menggambarkan pola pinjaman yang sangat berbeda antarnegara.

Kenaikan harga rumah di berbagai negara membuat utang rumah tangga menjadi bagian penting dalam ekonomi modern. Di satu sisi, utang tinggi bisa mencerminkan kepemilikan aset, akses kredit luas, dan pasar properti yang kuat. Di sisi lain, beban besar membuat rumah tangga lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga, perlambatan ekonomi, hingga penurunan harga properti.

Indonesia tidak masuk dalam daftar tersebut. Tingkat penetrasi hipotek dan kredit konsumsi di Indonesia masih di bawah 40 persen terhadap PDB, jauh di bawah negara maju seperti Swiss yang rasio utang rumah tangga terhadap PDB mencapai 123 persen.

Dengan kata lain, utang rumah tangga yang tinggi tidak selalu berarti krisis. Namun, semakin besar utangnya, semakin sensitif kondisi keuangan masyarakat terhadap perubahan ekonomi. (hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN