Friday, August 21, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

"Pilih Kami atau Iran", AS Ancam Sanksi Terberat dalam Sejarah

Mistar.idJumat, 21 Agustus 2026 pukul 16.27 WIB
pilih_kami_atau_iran_as_ancam_sanksi_terberat_dalam_sejarah_

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat, (28/5/2026). (Foto: Antara)

news_banner

Washington, MISTAR.ID (21/8/2026) – Amerika Serikat (AS) bersiap menjatuhkan sanksi ekonomi "terberat dalam sejarah" terhadap Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut langkah itu sebagai bagian dari isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar yang pernah ada di dunia.

"Tekanan ekonomi ini berarti kami akan melibatkan semua sekutu. Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia," kata Bessent kepada CNBC, Kamis (29/8/2026).

Ultimatum untuk Sekutu ASBessent secara terbuka memberikan ultimatum kepada negara-negara sekutu AS.

Mereka diminta memilih, bersama AS atau bersama Iran?. "Jika Anda bersikeras melakukan transaksi dengan mereka, baik itu mentransfer uang, membeli minyak mereka, atau memfasilitasi transfer melalui kapal laut, maka Departemen Keuangan AS dan Pemerintah AS akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menindak," tegasnya.

Menurut Bessent, tujuannya jelas, melumpuhkan perekonomian "rezim pembunuh" tersebut.

"Kami akan menghancurkan perekonomian rezim ini. Dengan begitu, kemampuan mereka memproyeksikan kekuatan melalui kelompok proksinya akan terbatas. Mereka tidak akan bisa membayar tentara. Iran juga akan menghadapi inflasi signifikan, baik harga pangan maupun inflasi umum," ujarnya.

Bessent menambahkan, langkah ini juga akan menekan harga minyak global lebih cepat, terlepas dari potensi "kemacetan" di Selat Hormuz.

Iran: Ini Terorisme Ekonomi

Ancaman AS langsung ditampik Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut "D-Day ekonomi" dari Presiden Donald Trump sebagai upaya pengalihan isu dari krisis utang dan tingginya bunga di AS.

"Menggandakan kebijakan yang gagal hanya akan membawa kekalahan lebih lanjut, dan permusuhan dari rakyat Iran. Terorisme ekonomi AS mengancam ekonomi global dan kedaulatan di seluruh dunia," kata Araghchi, dikutip Reuters, Kamis (29/8/2026).

Trump sendiri pada Rabu (28/8/2026) mengumumkan tindakan ekonomi paling keras terhadap Iran.

Ia menyatakan negara mana pun yang memberi bantuan keuangan kepada Teheran akan menghadapi konsekuensi berat.

Hubungan AS-Iran kembali memanas setelah gencatan senjata April dan kesepakatan kerangka kerja 17 Juni lalu gagal dilanjutkan.

Perundingan terhenti akibat perbedaan soal jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Belakangan, kedua negara juga saling serang secara militer. AS menghantam sejumlah sasaran di Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.(Extreet-id.com/Anadolu/Antara/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN