Iran Diduga Incar Aset Militer AS di Eropa, NATO Siap Hadapi Ancaman

Bendera NATO (Foto: Reuters/File)
Belgia, MISTAR.ID – NATO siap menghadapi ancaman Iran yang diduga akan menyerang aset militer Amerika Serikat (AS) di Eropa dalam waktu dekat.
“NATO siap menghadapi ancaman apa pun dan akan selalu melakukan apa yang diperlukan untuk membela semua Sekutu,” kata seorang pejabat NATO dalam pernyataan tertulis yang dikutip Anadolu, Kamis (20/8/2026).
NATO tetap berkomitmen melindungi seluruh negara anggotanya dari ancaman maupun agresi eksternal.
Keyakinan itu turut didukung kemampuan sistem pertahanan udara NATO yang telah diuji dalam situasi nyata. Pada awal 2026, sistem pertahanan udara aliansi disebut berhasil menggagalkan empat serangan rudal balistik yang diluncurkan dari Iran ke arah Turkiye.
Pernyataan NATO tersebut muncul setelah sejumlah laporan media menyebut militer Iran sedang memetakan kemungkinan sasaran di antara fasilitas militer AS di Eropa Tenggara.
Bulgaria menjadi salah satu wilayah yang disebut dalam laporan tersebut. Negara itu baru saja memberikan izin penggunaan Pangkalan Udara Bezmer untuk pesawat tanker pengisi bahan bakar milik AS. Siprus juga masuk dalam daftar lokasi yang disebut berpotensi menjadi sasaran.
Negosiasi AS-Iran Masih Buntu
Munculnya laporan mengenai potensi ancaman tersebut bertepatan dengan mandeknya upaya diplomasi antara Washington dan Teheran. Negosiasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz belum menemukan titik temu, sementara peluang dilanjutkannya pembicaraan antara kedua negara semakin menipis.
Trump bahkan mengatakan tidak ada pembicaraan maupun komunikasi yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan pemerintah Iran.
Di sisi lain, sejumlah pejabat militer Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa pangkalan militer yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap wilayah Iran dapat dianggap sebagai sasaran.
Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang ditujukan untuk mengakhiri perang sekaligus membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas. Namun, kesepakatan tersebut kemudian gagal setelah kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran dan permusuhan kembali meningkat.
Sejak saat itu, berbagai upaya diplomatik belum berhasil menghasilkan terobosan, baik terkait pembukaan kembali Selat Hormuz maupun rencana melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan yang lebih komprehensif. (Anadolu)























