Wednesday, October 7, 2026
home_banner_first
WISATA

Hampir 5 Juta Perjalanan Wisnus Masuk Sumut, Mereka Pergi ke Mana?

Mistar.idRabu, 7 Oktober 2026 pukul 21.22 WIB
hampir_5_juta_perjalanan_wisnus_masuk_sumut_mereka_pergi_ke_mana

Hampir 5 Juta Perjalanan Wisnus Masuk Sumut, Mereka Pergi ke Mana? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/10/2026) — Sumatera Utara semakin mengukuhkan diri sebagai pasar besar wisata domestik. Pada Agustus 2026, hampir 5 juta perjalanan Wisatawan Nusantara (Wisnus) tercatat menuju Sumut. Ke mana saja jutaan perjalanan itu mengalir?

Sumatera Utara mencatat 4.998.772 perjalanan Wisnus pada Agustus 2026, tumbuh 7,51 persen secara tahunan. Angka ini menempatkan Sumut sebagai salah satu provinsi dengan pergerakan wisatawan domestik terbesar di Indonesia.

Namun, ada satu catatan penting: data resmi Wisnus September 2026 belum dirilis BPS hingga 7 Oktober 2026. Karena itu, angka Agustus menjadi data terbaru yang dapat digunakan untuk membaca arah pasar wisata Sumut.

Dan angkanya menunjukkan satu hal: wisata domestik Sumut bukan lagi pasar kecil.

Hampir 5 Juta Perjalanan dalam Sebulan

Secara kumulatif, Januari–Agustus 2026, Sumut telah mencatat sekitar 41,33 juta perjalanan Wisnus.

Rata-rata terdapat lebih dari 5 juta perjalanan per bulan, meski jumlahnya berfluktuasi. Pada Maret 2026, misalnya, perjalanan Wisnus bahkan mencapai sekitar 6,43 juta.

Besarnya angka ini memperlihatkan bahwa Sumut memiliki basis pasar domestik yang kuat—mulai dari perjalanan keluarga dan akhir pekan hingga wisata alam, kuliner, budaya, event, dan perjalanan antarkota.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar berapa banyak Wisnus datang, tetapi ke mana mereka bergerak dan berapa lama mereka tinggal?

Medan dan Deli Serdang Jadi Simpul Perjalanan

Data BPS kabupaten/kota terbaru yang tersedia menunjukkan kuatnya peran Medan dan Deli Serdang sebagai pusat pergerakan Wisnus.

Pada Mei 2026, Medan mencatat 1.059.505 perjalanan, sementara Deli Serdang mencapai 912.008 perjalanan.

Besarnya angka tersebut memperlihatkan bahwa wisata Sumut tidak hanya bertumpu pada destinasi alam.

Medan memiliki mesin wisatanya sendiri: kuliner, sejarah, budaya, hiburan, belanja, ekonomi kreatif, dan berbagai event.

Di sisi lain, posisi Medan dan Deli Serdang juga menjadikannya simpul penting menuju berbagai destinasi lain di Sumatera Utara.

Berastagi: Magnet Wisata Pegunungan

Dari kawasan perkotaan, arus Wisnus bergerak ke destinasi pegunungan.

Karo, dengan Berastagi sebagai salah satu magnet utamanya, mencatat 368.366 perjalanan Wisnus pada Mei 2026.

Daya tariknya bukan hanya udara sejuk. Ada wisata alam, agrowisata, kuliner, budaya Karo, hingga rekreasi keluarga.

Pola ini memperlihatkan bahwa pasar Wisnus Sumut sangat beragam. Wisatawan domestik tidak selalu mencari destinasi ikonik; mereka juga mencari perjalanan singkat yang mudah dijangkau dan bisa dinikmati bersama keluarga.

Danau Toba: Bukan Satu Destinasi, tetapi Banyak Pintu

Jika ada ikon pariwisata Sumut yang paling dikenal secara nasional dan internasional, jawabannya tentu Danau Toba.

Namun, dari perspektif perjalanan Wisnus, Danau Toba sebaiknya tidak dipandang sebagai satu destinasi tunggal.

Pada Mei 2026, Simalungun mencatat 307.839 perjalanan Wisnus, Toba 141.346, dan Samosir 128.438 perjalanan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kawasan Danau Toba memiliki beberapa pintu masuk dan karakter destinasi yang berbeda.

Samosir, misalnya, bukan hanya menawarkan panorama danau, tetapi juga budaya Batak, event, serta pengalaman wisata berbasis komunitas.

Pada September 2026, The Caldera Culture Festival dan Samosir International Choir Competition ikut menghidupkan kawasan ini. Event yang digelar 24–27 September ini melibatkan sekitar 2.000 peserta paduan suara dari berbagai daerah di Indonesia.

Event semacam ini penting karena wisatawan yang datang untuk sebuah acara berpotensi melanjutkan perjalanan dengan menginap, menikmati kuliner, berbelanja, dan menjelajah destinasi sekitar.

Jangan Lupakan Wisata Bahari Sumut

Potensi Wisnus Sumut juga tidak berhenti di Medan, Berastagi dan Danau Toba.

Pesisir barat, Sibolga–Tapanuli Tengah hingga Kepulauan Nias menawarkan pasar berbeda: pantai, surfing, snorkeling, diving, island hopping, wisata bahari keluarga, hingga kuliner laut.

Ini menjadi peluang penting untuk mendistribusikan perjalanan Wisnus agar pertumbuhan pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada destinasi yang sudah populer.

Dengan kata lain, Sumut memiliki beberapa “mesin” pariwisata sekaligus:

Medan untuk urban tourism, Berastagi dan Karo untuk wisata pegunungan, Danau Toba untuk alam dan budaya, serta kawasan pesisir dan Nias untuk wisata bahari.

Tantangan Berikutnya Bukan Mendatangkan Wisnus

Hampir 5 juta perjalanan dalam sebulan menunjukkan bahwa pasar Wisnus Sumut sudah tersedia dalam skala besar.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana perjalanan tersebut menghasilkan lama tinggal dan belanja wisata yang lebih tinggi.

Satu perjalanan sehari tentu memberikan dampak ekonomi yang berbeda dibandingkan perjalanan tiga hari dua malam.

Karena itu, peluang terbesar Sumut adalah membangun rantai perjalanan antardestinasi.

Misalnya, wisatawan tidak hanya datang ke Medan, tetapi melanjutkan perjalanan ke Berastagi dan Danau Toba. Atau wisatawan datang untuk sebuah event di Samosir sekaligus menjelajah kawasan sekitar.

Semakin panjang perjalanan, semakin banyak sektor yang ikut menikmati dampaknya: hotel, restoran, transportasi, UMKM, pemandu wisata, ekonomi kreatif hingga pelaku atraksi.

Menunggu Data September

Data September 2026 masih perlu ditunggu dari BPS untuk mengetahui apakah tren perjalanan Wisnus Sumut kembali meningkat atau mengalami koreksi dibandingkan Agustus.

Tetapi satu pesan sudah terlihat jelas dari data yang tersedia:

Sumatera Utara memiliki pasar wisata domestik yang sangat besar.

Hampir 5 juta perjalanan Wisnus dalam satu bulan bukan sekadar angka statistik. Di baliknya terdapat jutaan aktivitas ekonomi—orang yang menginap, makan, bepergian, membeli oleh-oleh, menghadiri event, menikmati alam, dan mengunjungi destinasi.

Maka pertanyaan penting bagi pariwisata Sumut ke depan bukan lagi:

“Apakah Wisnus datang ke Sumut?”

Melainkan:

“Bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama, menjelajah lebih banyak destinasi, dan membelanjakan lebih banyak uang di daerah?”

Itulah peluang terbesar di balik pertumbuhan Wisnus Sumut.

(kemenpar/bps/sumutprov/*hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN