Kabut Asap Ancam Perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia

Matahari terbit tertutup kabut asap di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (9/10/2023). (Foto: Detik)
Kuala Lumpur, MISTAR.ID - Kabut asap yang semakin memburuk di sejumlah wilayah Malaysia mulai memunculkan kekhawatiran terhadap pelaksanaan perayaan Hari Kebangsaan pada 31 Agustus 2026.
Pemerintah Malaysia menyatakan akan mempertimbangkan kembali sejumlah kegiatan perayaan apabila kondisi kabut asap terus memburuk.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Datuk Seri Arthur Joseph Kurup, mengatakan persoalan tersebut akan dibawa ke kabinet jika situasi semakin parah.
Pertimbangan itu diperlukan karena rangkaian perayaan Hari Kebangsaan dan Hari Malaysia melibatkan mobilitas masyarakat dalam jumlah besar serta berbagai kegiatan di luar ruangan.
"Jika situasinya mengkhawatirkan, saya akan membawa masalah ini ke kabinet agar keputusan dapat dibuat kemudian. Namun, pada dasarnya, prioritas utama selalu memastikan keselamatan dan kesehatan masyarakat," kata Arthur, Jumat (21/8/2026), dikutip dari Kompas.com.
Meski demikian, pemerintah belum mengambil keputusan mengenai perubahan atau pembatalan rangkaian perayaan. Arthur bilang, masih terlalu dini untuk memastikan kondisi cuaca pada 31 Agustus. Menurut dia, prakiraan yang lebih akurat baru dapat diperoleh sekitar empat atau lima hari sebelum hari pelaksanaan.
Karena itu, pemerintah masih memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca dari hari ke hari. 3 stasiun catat udara baik, 8 tidak sehat Data awal yang diterima pemerintah Malaysia pada Jumat menunjukkan kondisi kualitas udara sudah memburuk di sejumlah wilayah.
Dari 68 stasiun pemantauan kualitas udara di seluruh Malaysia, hanya tiga stasiun yang mencatat kualitas udara dalam kategori baik. Sebanyak 56 stasiun berada pada kategori sedang, delapan tidak sehat, dan satu lainnya masuk kategori sangat tidak sehat.
Sebagian besar wilayah yang terdampak berada di Sarawak bagian selatan, yang lokasinya berdekatan dengan Kalimantan. Arthur mengatakan sebagian besar titik panas yang terpantau saat ini berada di Kalimantan dan Sumatera.
Kondisi tersebut berpotensi berkontribusi terhadap kabut asap lintas batas yang berdampak ke Malaysia.
"Kebanyakan wilayah yang terdampak berada di Sarawak bagian selatan karena lokasinya dekat dengan Kalimantan," ujarnya. (Kompas)
























