Tuesday, September 15, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Menggila

Mistar.idSelasa, 15 September 2026 pukul 17.54 WIB
konflik_timur_tengah_memanas_harga_minyak_dunia_kembali_menggila

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Menggila. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (15/9/2026) — Konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Serangan kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran terhadap Arab Saudi, ditambah terganggunya jalur ekspor minyak di kawasan Teluk, membuat kekhawatiran terhadap pasokan energi global kembali membesar.

Harga minyak mentah Brent pada Selasa (15/9/2026) naik lebih dari 1% hingga mencapai sekitar US$107,35 per barel. Pasar semakin cemas setelah serangan terhadap infrastruktur energi Saudi dan gangguan lalu lintas kapal di kawasan Hormuz serta Laut Merah meningkatkan risiko pasokan minyak dunia.

Situasi ini menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah bukan lagi sekadar persoalan keamanan regional. Gangguan pada jalur distribusi minyak dan gas mulai memberikan tekanan langsung terhadap pasar energi, inflasi, biaya transportasi, hingga harga bahan bakar di berbagai negara.

Eskalasi Houthi-Saudi Menambah Tekanan Baru pada Pasar Minyak

Kelompok Houthi melancarkan serangan baru menggunakan rudal dan drone ke sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk pangkalan udara di Khamis Mushait.

Houthi menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas peningkatan serangan udara Saudi terhadap posisi mereka di Yaman. Dalam beberapa hari terakhir, Houthi juga memperluas penguasaan wilayah di pesisir Laut Merah dan merebut Pulau Perim yang berada di pintu masuk strategis Laut Merah.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena jalur Laut Merah dan Bab el-Mandeb merupakan bagian penting dari jaringan perdagangan energi antara Timur Tengah, Asia, dan Eropa.

East-West Pipeline Saudi juga mengalami penghentian setelah serangan udara yang menurut Riyadh dilakukan oleh milisi yang didukung Iran di Irak.

Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu dibangun untuk memungkinkan Saudi mengirim minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz. Gangguan berkepanjangan pada pipa tersebut berpotensi mengurangi pasokan minyak global hingga sekitar 4%.

Kenapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam krisis energi saat ini.

Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman tersebut selama ini menjadi salah satu pintu utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen Teluk menuju pasar dunia.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa arus minyak melalui Hormuz pada paruh pertama 2025 mencapai sekitar 20,9 juta barel per hari, setara dengan sekitar 20% konsumsi petroleum global dan sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut dunia.

Yang membuat situasi semakin genting, sebagian besar minyak yang melewati Hormuz dikirim ke Asia. EIA memperkirakan sekitar 89% minyak mentah dan kondensat yang melewati selat tersebut pada paruh pertama 2025 menuju pasar Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Artinya, gangguan di Hormuz tidak membutuhkan perang besar di seluruh dunia untuk memicu krisis energi. Cukup dengan membuat kapal-kapal enggan melintas, biaya asuransi melonjak, atau pengiriman tertunda, harga minyak global sudah bisa terdorong naik.

Bagaimana Jika Hormuz Benar-Benar Ditutup?

Inilah skenario yang paling ditakuti pasar.

Saat ini lalu lintas kapal di Selat Hormuz sudah turun drastis. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Hormuz pada Senin, dibandingkan rata-rata sekitar 125 transit per hari sebelum perang. Aktivitas di Bab el-Mandeb juga ikut menurun.

Jika penutupan berlangsung penuh dan berkepanjangan, dampaknya dapat jauh lebih besar.

Kapasitas jalur alternatif seperti pipa Saudi dan rute ekspor lain tidak cukup untuk sepenuhnya menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Hormuz. Akibatnya, pasar akan berebut pasokan yang tersedia.

Dalam kondisi tersebut, harga Brent berpeluang menembus US$120 per barel. Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga dapat bergerak lebih tinggi apabila gangguan berlangsung selama beberapa pekan dan negara-negara produsen gagal menambah pasokan. Goldman Sachs sebelumnya memperingatkan harga minyak dapat mencapai sekitar US$120 per barel jika gangguan pelayaran di Timur Tengah semakin parah.

Namun, angka US$120 bukan kepastian. Harga minyak akan sangat bergantung pada berapa lama gangguan berlangsung, seberapa besar cadangan strategis dilepas, kemampuan produsen lain meningkatkan produksi, serta seberapa cepat permintaan global merespons harga yang lebih mahal.

Negara Mana yang Paling Terdampak?

Asia menjadi kawasan yang paling rentan.

China, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan pembeli utama minyak yang melewati Hormuz. Sekitar 84% minyak dan 83% LNG yang melewati jalur tersebut pada 2024 ditujukan ke pasar Asia.

China memiliki cadangan strategis yang relatif besar sehingga memiliki bantalan menghadapi gangguan sementara. Namun, importir yang sangat bergantung pada pasokan Timur Tengah tetap menghadapi risiko kenaikan biaya energi apabila gangguan berlangsung lama.

Dampaknya kemudian bisa merembet ke Eropa dan Amerika Serikat melalui kenaikan harga minyak global.

Amerika Serikat memang memiliki produksi minyak domestik yang besar sehingga ketergantungannya terhadap minyak Teluk lebih rendah dibanding sejumlah negara Asia. Namun, harga minyak merupakan komoditas global. Ketika harga Brent melonjak, konsumen dan perusahaan di AS tetap menghadapi tekanan biaya.

Bagaimana Konflik Saudi-Houthi Memengaruhi Harga BBM?

Kenaikan harga minyak mentah biasanya tidak langsung tercermin di harga BBM pada hari yang sama.

Namun, apabila harga minyak bertahan tinggi, biaya bahan bakar di tingkat global akan ikut meningkat. Dampaknya dapat masuk melalui harga bensin, solar, avtur, biaya logistik, hingga ongkos produksi berbagai barang.

Bagi negara yang banyak mengimpor minyak atau produk BBM, tekanan tersebut bisa menjadi persoalan fiskal. Pemerintah harus memilih antara menaikkan harga BBM, meningkatkan subsidi, atau menanggung sebagian kenaikan biaya melalui anggaran negara.

Indonesia juga tidak sepenuhnya kebal. Meskipun Indonesia bukan salah satu negara yang paling bergantung langsung pada minyak yang melewati Hormuz, kenaikan harga minyak dunia dapat memengaruhi biaya impor energi, harga produk BBM, nilai tukar, inflasi, dan biaya distribusi barang.

Dengan kata lain, konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia tetap bisa terasa di SPBU dan rantai pasok domestik.

Mengapa AS Belum Turun Langsung Melawan Houthi?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting setelah Saudi Arabia meminta dukungan Amerika Serikat menghadapi serangan Houthi.

Namun, hingga Selasa (15/9), Washington masih menahan diri untuk melakukan intervensi militer langsung terhadap Houthi. Menurut Reuters, tiga sumber menyebut AS sejauh ini menolak permintaan Saudi untuk melakukan intervensi militer langsung dan membatasi dukungan pada bantuan intelijen.

Keputusan tersebut tidak berarti AS tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah secara keseluruhan. Washington saat ini sudah menghadapi konflik langsung dengan Iran, sehingga membuka front militer baru di Yaman berisiko memperluas perang.

Bagi pemerintahan Donald Trump, intervensi langsung terhadap Houthi juga membawa risiko memperpanjang perang di Yaman dan menciptakan komitmen militer baru yang sulit dikendalikan.

Karena itu, AS tampaknya memilih menjaga ruang diplomasi sambil memberikan dukungan kepada Saudi tanpa langsung membuka front baru melawan Houthi.

Apa Peran Iran dalam Konflik Ini?

Iran menjadi salah satu faktor utama yang membuat konflik Saudi-Houthi memiliki dampak lebih luas.

Houthi merupakan kelompok yang beraliansi dengan Iran. Dalam perkembangan terbaru, kelompok tersebut meningkatkan serangan terhadap Saudi ketika Iran sendiri berhadapan dengan tekanan dan konflik di kawasan Teluk.

Teheran juga memiliki pengaruh strategis terhadap Selat Hormuz. Iran menyatakan selat tersebut masih berada di bawah kendalinya, sementara lalu lintas kapal komersial telah merosot tajam sejak perang dimulai pada Februari.

Inilah yang membuat pasar minyak menghadapi apa yang bisa disebut sebagai risiko dua jalur.

Di satu sisi, Hormuz menghadapi gangguan dari konflik Iran. Di sisi lain, Bab el-Mandeb dan jalur Laut Merah semakin terancam akibat ekspansi Houthi.

Jika kedua jalur strategis tersebut terganggu dalam waktu bersamaan, kemampuan pasar global untuk mengalihkan pasokan minyak menjadi semakin terbatas.

Harga Minyak US$120, Seberapa Realistis?

Target US$120 bukan lagi skenario yang bisa dianggap mustahil.

Brent sudah bergerak di atas US$100 per barel dan mencapai sekitar US$107 pada 15 September. Di tengah gangguan pasokan yang semakin luas, analis melihat peluang harga bergerak menuju US$120 jika ketidakpastian berlangsung lebih lama.

Namun, pasar minyak juga memiliki mekanisme penyeimbang.

Produsen dari luar kawasan dapat meningkatkan pasokan. Pemerintah negara-negara konsumen dapat menggunakan cadangan strategis. Konsumen juga dapat mengurangi permintaan ketika harga terlalu tinggi.

Karena itu, pertanyaan terbesarnya bukan semata-mata “apakah minyak bisa mencapai US$120?”, melainkan “berapa lama minyak akan bertahan di atas US$100?”

Jika gangguan hanya berlangsung singkat, lonjakan harga berpotensi mereda.

Tetapi jika Hormuz, Bab el-Mandeb, dan infrastruktur energi Saudi sama-sama terganggu selama berminggu-minggu, risiko lonjakan harga minyak sekaligus inflasi global akan jauh lebih besar.

Konflik Regional, Risiko Global

Perkembangan terbaru di Timur Tengah memperlihatkan bagaimana konflik yang bermula dari pertarungan regional dapat berubah menjadi persoalan ekonomi dunia.

Serangan Houthi terhadap Saudi bukan hanya persoalan Riyadh dan Sanaa. Ketika serangan tersebut mengancam jalur ekspor minyak dan pelayaran internasional, dampaknya langsung masuk ke pasar global.

Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena menghubungkan produsen energi terbesar di Teluk dengan konsumen utama di Asia. Sementara itu, penguasaan Houthi atas wilayah strategis di Laut Merah menciptakan risiko baru di sisi lain jalur perdagangan.

Dengan harga Brent telah menembus US$100 dan lalu lintas kapal di jalur-jalur utama energi terus menurun, pasar kini menghadapi satu pertanyaan besar: apakah konflik Timur Tengah akan berhenti sebagai krisis geopolitik, atau berubah menjadi krisis energi global?

Jawabannya akan sangat menentukan arah harga minyak, inflasi, suku bunga, hingga biaya hidup masyarakat dunia dalam beberapa bulan ke depan.

(reuters/eia/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN