Harga Karet Dunia Ikuti Minyak Mentah, Produksi Sumut Tertekan Hujan

Petani mengumpulkan getah karet di kebun di Desa Deuah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Kamis (9/7/2026). (foto: Antara)
Medan, MISTAR.ID - Curah hujan tinggi pada kuartal IV 2026 menekan produksi karet di wilayah Sumatera Utara (Sumut). Meski demikian, penurunan pasokan tersebut diperkirakan tidak banyak memengaruhi pembentukan harga karet dunia yang saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan geopolitik.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa penurunan produksi karet pada kuartal IV merupakan pola yang berulang setiap tahun berdasarkan hasil observasi lapangan.
Pada kuartal IV tahun sebelumnya, produksi pada salah satu sampel petani atau perkebunan sempat turun hingga 17 persen. Menurutnya, penurunan produksi diperkirakan kembali terjadi pada kuartal IV 2026 akibat tingginya curah hujan.
Namun, penurunan pasokan tidak serta-merta mendorong kenaikan harga apabila hanya didasarkan pada faktor fundamental domestik.
"Untuk saat ini, penetapan harga karet lebih dipengaruhi sentimen geopolitik, dibandingkan faktor fundamental seperti penurunan persediaan karet di pasaran. Permintaan (demand) berpeluang bertahan di tengah eskalasi konflik yang meluas belakangan ini," kata Gunawan, Selasa (27/10/2026).
Saat ini, harga karet dunia terpantau berada di kisaran 2,57 dolar AS per kilogram (kg) dan cenderung menguat seiring kenaikan harga minyak mentah dunia.
Sebelumnya, harga karet sempat turun ketika harga minyak mentah anjlok di bawah 100 dolar AS per barel. Namun, pulihnya harga minyak mentah, khususnya jenis Brent yang menyentuh 117 dolar AS per barel, turut diikuti pemulihan harga karet.
"Tapi, harga karet sekarang belum mampu balik ke puncak tertingginya di 2,66 dolar AS per kg seperti pertengahan Oktober lalu," ucapnya.
Gunawan menegaskan, fluktuasi harga karet saat ini terutama dipengaruhi faktor eksternal. Dinamika ketegangan geopolitik global akan tetap menjadi penentu pergerakan harga karet dalam jangka pendek.
Ia mencontohkan tekanan harga karet yang terjadi pada awal Oktober lalu, ketika eskalasi perang di Timur Tengah mereda di tengah dinamika kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran.
"Jika eskalasi konflik ini memanas, maka dalam jangka pendek peluang kenaikan demand karet dan kenaikan harga karet akan bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Saya melihat harga karet masih naik, setidaknya hingga tutup 2026 ini," ujarnya. (*)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER












































