Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Karet Dunia Dekati Level Tertinggi

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Karet Dunia Dekati Level Tertinggi. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Medan, MISTAR.ID (11/9/2026) — Memanasnya konflik di Timur Tengah berdampak pada pergerakan komoditas global, salah satunya karet alam. Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyoroti kenaikan harga karet dunia yang mendekati level harga pada 2013 silam.
Berdasarkan data, harga karet alam di pasar global terpantau 2,49 dolar AS per kilogram (kg). Kenaikan ini terjadi saat harga minyak mentah dunia tembus di atas 100 dolar AS per barel.
"Secara historis, harga karet memang biasanya diuntungkan saat eskalasi konflik geopolitik memanas. Kondisi tersebut dipicu naiknya permintaan karet untuk memenuhi kebutuhan industri militer," katanya, Jumat (11/9/2026).
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia memberi dorongan bagi harga karet alam. Gunawan menyebut ini sebagai positive cross-price elasticity of demand.
"Tingginya harga minyak mentah membuat biaya produksi karet sintetis yang berbahan baku olahan minyak bumi menjadi mahal. Situasi itu membuat industri harus mencari komoditas substitusi seperti karet alam, yang akhirnya membuat harga komoditas itu mengalami kenaikan," ucapnya.
Melihat dinamika politik global saat ini, ia memprediksi secara fundamental harga karet dunia berpeluang naik atau setidaknya bertahan tinggi.
Proyeksi ini mungkin terjadi jika konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran berpeluang terus berlanjut hingga masa kepemimpinan Presiden AS Donald Trump berakhir.
Sebagai perbandingan historis, rekor capaian harga karet tertinggi terjadi pada Agustus 2011, di mana harganya sempat menyentuh 4,7 dolar AS per kg.
Namun, sejak saat itu, karet tidak pernah kembali menyentuh harga tersebut. Hal tersebut dikarenakan tingginya harga dapat memicu pabrikan melakukan peralihan konsumsi secara besar-besaran ke karet sintetis.
"Ada beberapa faktor fundamental yang berpeluang menjadi katalis pendorong kenaikan lanjutan pada harga karet. Selain eskalasi konflik global yang berpotensi memburuk, faktor lain yang perlu diwaspadai adalah gangguan anomali cuaca di negara penghasil utama yang dapat menekan angka produksi karet secara drastis," ujarnya. (hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER




































