Friday, September 11, 2026
home_banner_first
NASIONAL

KKB Diduga Teror Keluarga CPNS Asal NTT yang Tewas Ditembak di Wamena, Video Call Pakai HP Korban

Mistar.idJumat, 11 September 2026 pukul 11.49 WIB
kkb_diduga_teror_keluarga_cpns_asal_ntt_yang_tewas_ditembak_di_wamena_video_call_pakai_hp_korban

KKB Diduga Teror Keluarga CPNS Asal NTT yang Tewas Ditembak di Wamena, Video Call Pakai HP Korban

news_banner

Kupang, MISTAR.ID — Duka keluarga Willy Mboik (24), CPNS perempuan asal Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin dalam setelah muncul dugaan teror dari anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menggunakan telepon seluler milik korban.

Willy sebelumnya tewas ditembak oleh KKB di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (9/9/2026) sore.

Setelah kejadian tersebut, keluarga Willy di Rote Ndao dan Kota Kupang disebut menerima panggilan video dari seseorang yang diduga anggota KKB. Yang membuat keluarga semakin terpukul, video call tersebut diduga dilakukan menggunakan handphone milik Willy.

Rekaman percakapan itu kemudian beredar di media sosial. Dalam video tersebut, seorang anggota keluarga Willy terdengar mempertanyakan alasan korban dibunuh.

"Anak saya ada salah apa sampai kau bunuh?" ujar pria dalam rekaman tersebut.

Pria itu juga menyampaikan bahwa perbuatan pelaku akan mendapatkan balasan.

Sementara orang yang berada di sisi lain panggilan video memberikan respons yang tidak terdengar jelas. Ia juga disebut menunjukkan gestur mengejek, tertawa, hingga mengacungkan jari tengah.

Keluarga Willy Mengaku Diteror

Paman Willy, Johanes Baba, mengatakan keluarga di Rote Ndao dan Kupang merasa trauma setelah menerima sejumlah panggilan video tersebut.

Menurut Johanes, panggilan dilakukan setelah Willy dinyatakan meninggal dunia akibat penembakan.

"Kemarin pagi yang teror-teror di Rote dan di Kupang sini video call. Video call ini yang pegang HP-nya almarhum," ujar Johanes di Kupang, Jumat (11/9/2026).

Keluarga mengaku sangat terpukul atas kematian Willy. Mereka juga meminta adanya pendampingan dan perlindungan dari aparat keamanan karena masih ada anggota keluarga yang bekerja di Papua, termasuk kakak korban.

Johanes berharap kakak Willy dapat dipindahkan dari Papua untuk menghindari potensi ancaman.

"Jika perlu difasilitasi untuk dipindahkan. Kita keluarga minta untuk dipindahkan. Karena mereka diancam dan diteror," katanya.

Pelaku Sempat Minta Alamat untuk Kirim HP Willy

Johanes juga mengungkapkan bahwa seseorang yang melakukan video call sempat menanyakan alamat keluarga. Alasannya, orang tersebut disebut ingin mengirimkan handphone milik Willy.

Namun, keluarga menolak memberikan alamat.

Mereka justru meminta agar handphone tersebut diserahkan kepada anggota TNI yang berada di Papua.

"Sempat mereka telepon itu, katanya minta alamat untuk kirim handphone korban. Saat itu telepon istri saya, jadi dijawab silakan kasih ke Pak Tentara di sana saja," ungkap Johanes.

Willy Baru Lolos CPNS dan Bertugas di Dinas Pertanian

Willy merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ia merantau ke Papua sekitar tiga tahun lalu setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Beberapa bulan sebelum kejadian, Willy mengikuti seleksi CPNS dan dinyatakan lolos. Ia kemudian ditempatkan sebagai aparatur sipil negara di Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan bertugas di Dinas Pertanian.

Menurut Johanes, komunikasi terakhir dengan Willy berlangsung sekitar pekan sebelumnya. Saat itu tidak ada tanda-tanda bahwa korban sedang menghadapi ancaman serius.

Di mata keluarga, Willy dikenal sebagai sosok pendiam dan penurut. Selama kuliah, ia bahkan tinggal bersama Johanes di Kupang.

Kepergian Willy menjadi pukulan berat bagi keluarga yang kini hanya memiliki ayah sebagai orang tua.

Jenazah Willy dijadwalkan dimakamkan pada Minggu (13/9/2026) di kampung halamannya, Kelurahan Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, NTT.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN