Friday, September 11, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Siswi Diduga Keracunan MBG hingga Gangguan Ingatan, DPR Minta BGN Beri Kompensasi

Mistar.idJumat, 11 September 2026 pukul 10.59 WIB
siswi_diduga_keracunan_mbg_hingga_gangguan_ingatan_dpr_minta_bgn_beri_kompensasi

Siswi keracunan MBG dilarikan ke rumah sakit (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID — Kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendapat sorotan DPR. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP Charles Honoris meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan pertanggungjawaban konkret kepada korban dan keluarganya.

Sorotan tersebut muncul setelah Febiona Purba (16), salah satu siswi yang diduga mengalami keracunan MBG, disebut mengalami gangguan ingatan setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Charles menilai kondisi korban tidak bisa disimpulkan hanya dari kemampuan berkomunikasi. Menurutnya, klaim bahwa Febiona sudah dapat berbicara dengan baik tidak otomatis menunjukkan bahwa kondisi kesehatannya telah pulih sepenuhnya.

"Klaim bahwa korban saat ini sudah dapat berkomunikasi dengan baik tentu tidak serta-merta membuktikan bahwa kondisi kesehatannya sudah pulih," kata Charles, Jumat (11/9/2026).

Ia menegaskan kondisi Febiona harus dinilai berdasarkan pemeriksaan medis yang menyeluruh dan independen. Penilaian tersebut, kata dia, tidak semestinya hanya mengacu pada keterangan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program MBG.

DPR Minta Seluruh Biaya Pengobatan Ditanggung

Charles meminta pemerintah memastikan Febiona memperoleh pemeriksaan, pengobatan, serta rehabilitasi hingga kondisinya benar-benar pulih.

Jika kemudian ditemukan dampak kesehatan jangka panjang, penanganannya juga harus dilakukan sampai tuntas. Ia menegaskan seluruh biaya yang berkaitan dengan pemulihan korban harus menjadi tanggung jawab pemerintah.

"Seluruh biaya harus menjadi tanggung jawab pemerintah," tegasnya.

Tak berhenti pada biaya medis, Charles juga meminta BGN memberikan kompensasi kepada korban dan keluarganya. Menurut dia, kerugian akibat dugaan keracunan tidak hanya berkaitan dengan biaya rumah sakit.

Ada sejumlah dampak lain yang perlu diperhitungkan, mulai dari trauma, terganggunya aktivitas pendidikan, waktu orang tua yang tersita untuk mendampingi anak, hingga kemungkinan munculnya gangguan kesehatan dalam jangka panjang.

"BGN perlu memberikan kompensasi kepada korban dan keluarganya," ujarnya.

Febiona Disebut Sempat Tak Mengenali Keluarga

Sebelumnya, orang tua Febiona, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengungkap kondisi putrinya setelah menjalani perawatan akibat dugaan keracunan MBG.

Elvinus mengatakan gangguan ingatan tersebut mulai terlihat setelah Febiona pulang dari rumah sakit. Bahkan, putrinya disebut sempat mengalami kejang dan tidak mengenali sejumlah orang terdekat.

Menurut Elvinus, Febiona harus kembali mendapatkan perawatan setelah kondisinya berubah. Ia juga menyebut adanya informasi dari pihak rumah sakit mengenai kemungkinan gangguan pada otak yang berkaitan dengan racun, meski kondisi tersebut tetap memerlukan penjelasan dan pembuktian medis.

Keluarga mengaku khawatir karena perubahan kondisi Febiona berdampak terhadap aktivitas sehari-harinya.

Febiona sendiri dikenal sebagai siswi berprestasi. Ia disebut kerap meraih peringkat pertama di kelas dan menjabat sebagai wakil ketua OSIS di sekolahnya.

Keinginan untuk kembali bersekolah juga masih disampaikan Febiona. Namun, kondisi kesehatannya membuat keluarga belum dapat mengizinkannya kembali mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.

DPR Ingatkan Kondisi Korban Harus Berdasarkan Pemeriksaan Medis

Charles juga meminta agar komunikasi antara pihak penyelenggara MBG dan korban tidak dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa persoalan telah selesai.

Menurutnya, kondisi kesehatan Febiona harus disampaikan berdasarkan pemeriksaan dan penilaian tenaga medis.

"Jangan sampai komunikasi dengan korban kemudian dijadikan dasar untuk membangun narasi bahwa persoalan sudah selesai atau kondisi korban tidak serius," katanya.

Ia meminta pemerintah lebih fokus memastikan korban mendapatkan penanganan yang tepat daripada sekadar menyampaikan bahwa kondisi korban terus dipantau.

Sementara itu, keluarga Febiona berharap putrinya memperoleh pengobatan yang tepat sehingga tidak harus terus-menerus keluar masuk rumah sakit. Mereka juga berharap kondisi Febiona dapat segera membaik dan kembali menjalani aktivitas sekolah seperti sebelumnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN