Kata Kasar Jadi Konten, Pengamat Ingatkan Dampaknya pada Karakter Anak

Pengamat Kebijakan Publik Universitas HKBP Nommensen Kota Pematangsiantar, Rindu Erwin Marpaung. (Foto: Dokumentasi pribadi Rindu Erwin Marpaung)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Maraknya konten di jagat maya yang menggunakan kata-kata kasar, makian, dan penghinaan dinilai tidak hanya berkaitan dengan menurunnya etika berkomunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari ekonomi perhatian di ruang digital.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas HKBP Nommensen Kota Pematangsiantar, Rindu Erwin Marpaung, mengatakan fenomena tersebut menciptakan insentif bagi munculnya konten-konten provokatif. Konten yang memancing kemarahan, tawa, maupun kontroversi dinilai lebih mudah memperoleh perhatian.
"Perhatian kemudian dikonversi menjadi popularitas dan nilai ekonomi. Masalahnya bukan sekadar mengapa kreator berkata kasar, tetapi mengapa kekasaran dapat menjadi sesuatu yang menguntungkan dalam ekosistem digital," ujar Rindu Marpaung, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut memiliki konsekuensi terhadap pendidikan. Pelajar bukan hanya mengonsumsi konten, tetapi juga belajar mengenai cara berbicara, membangun identitas, dan memperoleh pengakuan sosial.
"Ketika kekasaran menghasilkan popularitas, anak dapat menerima pesan bahwa berkata kasar adalah cara untuk terlihat berani atau menarik. Di sinilah terjadi benturan antara pendidikan karakter di keluarga dan sekolah dengan nilai yang diproduksi ruang digital," katanya ketika dimintai pendapatnya.
Lebih lanjut, Rindu menilai upaya menghadapi persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui pelarangan. Diperlukan literasi digital kritis dengan mengajarkan anak membaca tujuan sebuah konten, memahami logika algoritma, serta membedakan kritik dari penghinaan.
"Anak tidak cukup diajarkan apa yang boleh dan tidak boleh ditonton. Mereka harus memahami mengapa sebuah konten dibuat dan siapa yang diuntungkan ketika mereka memberikan perhatian," ungkapnya.
Menurut Rindu, tantangan pendidikan karakter kini bukan hanya mengenai siapa yang mengajar di sekolah dan rumah, tetapi juga siapa yang paling banyak membentuk perhatian anak di ruang digital.
"Algoritma tidak menggantikan orang tua dan guru, tetapi jika kita tidak kritis, ia bisa ikut menentukan apa yang dipelajari anak setiap hari," ucapnya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Polres Simalungun Revitalisasi Jembatan Utama Warga Naga Dolok


































