Viral Diduga Asal Jadi, Konsultan Perintahkan Perbaikan Proyek Revitalisasi SMPN 3 Sinehu Dairi

Bangunan proyek revit SMP Negeri 3 Sinehu Dairi yang suda selesai dan diduga dikerjakan asal-asalan. (Foto: Heppy Julius Manurung/Mistar)
DAIRI, MISTAR.ID (27/10/2026) – Konsultan yang mengaku terlibat dalam proyek revitalisasi SMP Negeri 3 Siempat Nempu Hulu (Sinehu), Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, memerintahkan pihak sekolah memperbaiki pekerjaan yang menjadi sorotan di media sosial.
Iwan Sopar Sinaga mengatakan telah turun langsung ke lokasi dan berkoordinasi dengan Kepala SMPN 3 Sinehu, Jatonga Purba, setelah muncul kritik terhadap kualitas pekerjaan proyek revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026 tersebut.
“Terkait kualitas proyek revit yang viral di media sosial, saya sudah cek langsung ke lapangan dan konfirmasi langsung kepada kepala sekolahnya. Saya juga sudah memerintahkan supaya diperbaiki kembali sesuai gambar perencanaan,” ujar Iwan melalui WhatsApp kepada Mistar, Selasa (27/10/2026).
Namun, saat ditanya mengenai bagian konstruksi yang harus dibenahi berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB), Iwan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Kepala SMPN 3 Sinehu, Jatonga Purba, membenarkan adanya arahan perbaikan tersebut. Ia menyebut konsultan pengawas akan turun langsung ke lokasi.
“Betul, Pak. Konsultan pengawas akan turun langsung. Dengan secepatnya kita akan memperbaiki sesuai gambar di dalam RAB,” kata Jatonga melalui WhatsApp.
Proyek Rp919,9 Juta Disorot, Kemendikdasmen Diminta Turun Tangan
Sebelumnya, pengamat pembangunan di Dairi, Robinson S., meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengevaluasi proyek revitalisasi tersebut karena diduga dikerjakan asal-asalan.
Robinson menyampaikan permintaan itu pada Senin (26/10/2026), setelah menelusuri informasi warga dan memantau sejumlah bagian pekerjaan di lapangan.
Berdasarkan papan informasi proyek, revitalisasi SMPN 3 Sinehu bersumber dari APBN 2026 dengan anggaran Rp919.928.000 dan dilaksanakan secara swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).
Robinson menyoroti sejumlah kondisi yang dinilainya janggal, antara lain atap seng spandek dan rangka baja yang disebut sudah berlubang, bantalan rangka kuda-kuda atap yang diganjal batu bata dan kayu, serta bagian konstruksi yang diduga tidak menggunakan beton ring balok.
Ia juga mempertanyakan pengawasan proyek tersebut. Menurut informasi yang diterimanya, konsultan pengawas dari Medan disebut hanya satu kali datang untuk melihat pekerjaan.
Robinson meminta Kemendikdasmen melakukan pemeriksaan langsung agar dugaan penyimpangan kualitas pekerjaan dapat diklarifikasi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan terperinci dari pihak konsultan mengenai bagian konstruksi yang wajib diperbaiki maupun hasil pemeriksaan teknis atas pekerjaan tersebut. Karena itu, dugaan ketidaksesuaian konstruksi masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. (hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER











































