BRIN Bagikan Tips Bangun Kolaborasi Riset hingga Dapat Pendanaan

Ilustrasi riset laboratorium. (Foto: Freepik)
Medan, MISTAR.ID - Ketersediaan dana menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan penelitian. Keterbatasan pendanaan kerap menjadi kendala bagi peneliti di Indonesia sehingga penelitian tidak terlaksana atau hasilnya kurang maksimal.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Nanoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Angga Hermawan, membagikan sejumlah tips membangun kolaborasi riset sekaligus membuka peluang mendapatkan pendanaan dari dalam maupun luar negeri.
Menurut Angga, kolaborasi merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan riset dan inovasi. Kerja sama dengan peneliti lintas bidang dapat memperkuat kualitas penelitian sekaligus memperluas jaringan dan akses terhadap sumber daya.
"Dengan kolaborasi juga akan mendapatkan wider network dan resources yang lebih luas sehingga dapat memperluas networking. Masing-masing pihak dapat saling mengakses network yang dimiliki, sehingga nanti akan semakin besar network-nya," ujar Angga, Senin (10/8/2026), dikutip dari situs BRIN, Jumat (14/8/2026).
Ia mengatakan, kolaborasi riset tidak harus dilakukan dengan jejaring yang sudah dikenal. Peneliti dapat mencari mitra baru melalui berbagai ruang, seperti konferensi, media sosial, situs web hingga pendekatan langsung melalui surat elektronik.
Angga menyebut pertemuan langsung dalam konferensi atau kegiatan ilmiah menjadi salah satu cara yang efektif untuk menemukan calon mitra. Menurutnya, komunikasi secara tatap muka dapat mempermudah peneliti menemukan kolaborator yang sesuai.
"Kita perlu langsung datang, tatap muka lalu ngobrol. Susah kalau kita cuma nge-email untuk mendapatkan kolaborator yang cocok," katanya.
Selain pertemuan langsung, peneliti juga dapat memanfaatkan media sosial profesional seperti X dan LinkedIn. Angga mengatakan banyak peneliti saat ini memiliki akun media sosial profesional yang dapat dimanfaatkan untuk membangun jaringan.
"Mereka juga punya. Banyak sekali peneliti itu punya LinkedIn sendiri, kita connect ke dalam media sosial mereka," tambahnya.
Angga juga mengingatkan peneliti agar tidak ragu menghubungi calon mitra meskipun belum saling mengenal. Menurutnya, tidak ada kerugian dalam mencoba membuka komunikasi dengan calon kolaborator.
"Walaupun tidak kenal, coba saja. Kalau saya tidak dapat reply, follow-up lagi. Kalau tidak dapat, move on. Tidak usah dipikirin, berarti tidak cocok," ujarnya.
Ia menilai reputasi yang kuat juga dapat membuka peluang kolaborasi riset. Angga mencontohkan dirinya yang pernah mendapatkan email dari seorang peneliti asal Australia untuk bergabung dalam program e-ASIA Joint Research Programme.
Selain membangun kolaborasi, Angga menekankan pentingnya memahami misi dan tujuan lembaga pendanaan sebelum menyusun proposal penelitian.
Menurutnya, peneliti perlu memastikan riset yang ditawarkan selaras dengan kebutuhan dan prioritas lembaga pemberi dana.
"Yang paling penting kalau kita mau mendapatkan dana dari dalam maupun luar negeri, kita harus alignment, menyelaraskan riset kita dengan apa yang mereka inginkan. Sebelum kita bikin proposal, explore dulu mission mereka apa," jelasnya.
Angga mengatakan peneliti tidak harus meninggalkan fokus penelitian yang selama ini ditekuni. Peneliti justru perlu mencari cara agar riset yang dimiliki dapat diarahkan untuk menjawab prioritas lembaga pendanaan.
Selain itu, proposal penelitian perlu memperhatikan dampak dan value for money. Anggaran yang diajukan harus sebanding dengan hasil atau manfaat yang ditawarkan kepada lembaga pemberi dana.
Ia mengingatkan peneliti agar tidak mengajukan anggaran besar tanpa luaran yang sepadan.
"Karena itu, kita harus memikirkan dengan jelas, ketika meminta Rp1 miliar, apa yang bisa kita berikan sebagai feedback kepada funding agency," pungkasnya. (hm25/Kompas.com)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER






















