Tuesday, September 29, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Dekati 6.100, Rupiah Rp17.978 dan Brent US$105 Bayangi Perdagangan Selasa

Mistar.idSelasa, 29 September 2026 pukul 08.15 WIB
ihsg_dekati_6100_rupiah_rp17978_dan_brent_us105_bayangi_perdagangan_selasa

IHSG Dekati 6.100, Rupiah Rp17.978 dan Brent US$105 Bayangi Perdagangan Selasa. (foto ilustrasi:tangkapan layar google finance/idx/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (29/9/2026) — IHSG hari ini, Selasa 29 September 2026, memasuki perdagangan dengan tekanan yang belum mereda. Setelah anjlok 1,51% pada perdagangan Senin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini berada di level 6.147,86 dan semakin dekat dengan area psikologis 6.100.

Tekanan datang bersamaan dari pasar domestik dan global. Rupiah melemah ke Rp17.978 per dolar AS, sementara harga minyak Brent bertahan di sekitar US$105 per barel. Di pasar global, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat turut menekan aset berisiko.

Kombinasi tersebut membuat perdagangan IHSG hari ini menjadi penting. Pasar akan mencermati apakah indeks mampu bertahan di atas 6.100 atau kembali melanjutkan koreksi.

IHSG Anjlok 1,51%, Level 6.100 Jadi Perhatian

Pada penutupan Senin (28/9), IHSG turun 94,03 poin atau 1,51% ke 6.147,86. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.140,34 hingga 6.227,90.

Koreksi berlangsung luas. Data pasar menunjukkan 532 saham melemah, sedangkan 180 saham menguat dan 81 saham stagnan. Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp12,59 triliun dengan volume 37,37 miliar saham.

Dengan posisi penutupan hanya sekitar 48 poin dari 6.100, level tersebut berpotensi menjadi salah satu perhatian utama investor pada perdagangan Selasa.

Rupiah Dekati Rp18.000

Tekanan IHSG juga datang dari pasar valuta asing.

Rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,42% ke Rp17.978 per dolar AS pada Senin. Level ini membawa mata uang Garuda semakin dekat dengan batas psikologis Rp18.000.

Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta tingginya harga minyak menjadi sejumlah faktor yang menekan rupiah.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan pasar saham karena pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban bagi perusahaan yang memiliki kewajiban atau kebutuhan impor dalam dolar AS, meski dampaknya berbeda untuk setiap emiten.

Minyak Brent Tembus US$105, Risiko Inflasi Kembali Mengemuka

Harga energi menjadi persoalan lain yang membayangi IHSG hari ini.

Brent ditutup sekitar US$105,28 per barel pada Senin setelah sebelumnya sempat melonjak lebih tinggi di tengah ketidakpastian terkait konflik dan pasokan energi di Timur Tengah.

Harga minyak yang tinggi kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Bagi Indonesia, kenaikan harga energi juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya dan neraca eksternal apabila berlangsung lama.

Tekanan tersebut semakin kompleks ketika harga minyak tinggi berjalan bersamaan dengan kenaikan yield obligasi AS.

Yield US Treasury Naik, Wall Street Ikut Tertekan

Sentimen global belum memberikan banyak ruang bagi aset berisiko.

Pada Senin, Nasdaq Composite turun sekitar 0,92%, S&P 500 melemah 0,77%, sementara Dow Jones terkoreksi 0,67%. Pada saat yang sama, yield Treasury AS 10 tahun naik ke sekitar 5,23%, level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield membuat aset berpendapatan tetap AS menjadi semakin kompetitif dibandingkan aset berisiko seperti saham. Di sisi lain, meningkatnya biaya pendanaan juga menjadi perhatian bagi perusahaan yang membutuhkan investasi besar.

Bagi IHSG, perkembangan tersebut menjadi tambahan sentimen yang perlu dicermati setelah tekanan domestik sudah cukup kuat.

Sektor Teknologi Jadi Beban Terberat IHSG

Tekanan pasar juga terlihat jelas dari pergerakan sektoral.

Sektor teknologi menjadi yang paling dalam terkoreksi pada Senin dengan penurunan 4,46%. Berikutnya, sektor barang baku turun 3,33% dan barang konsumen non-primer melemah 3,04%.

Dari 11 sektor IDX-IC, sembilan sektor berakhir di zona merah. Hanya sektor transportasi dan logistik serta energi yang berhasil menguat, masing-masing 0,47% dan 0,04%.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan IHSG bukan hanya berasal dari satu atau dua saham, melainkan cukup luas di pasar.

Asing Net Sell Rp1,13 Triliun

Aksi investor asing turut menjadi perhatian pada perdagangan IHSG Senin.

Berdasarkan data RTI Business yang dikutip sejumlah media, investor asing mencatat net sell sekitar Rp1,13 triliun di seluruh pasar. Namun, pada pasar reguler, net sell asing jauh lebih kecil, sekitar Rp259,83 miliar. Beberapa saham yang banyak dilepas asing antara lain BMRI, TLKM, TINS, MDKA dan AADI.

Namun, aksi jual asing tidak berarti seluruh saham menjadi sasaran pelepasan. Pada hari yang sama, asing masih mencatat pembelian bersih pada sejumlah saham seperti BBRI dan BBCA.

Artinya, tekanan pasar juga perlu dilihat sebagai bagian dari perubahan posisi dan rotasi portofolio, bukan semata-mata keluarnya seluruh modal asing dari pasar Indonesia.

Aturan Saham Rp1 Mulai Berlaku

Perdagangan Senin juga menandai hari pertama penerapan aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni penurunan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1.

BEI menyatakan perubahan tersebut ditujukan untuk memperluas rentang perdagangan, meningkatkan kualitas price discovery, serta mendorong likuiditas. Penyesuaian tersebut juga disertai perubahan aturan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB).

Pada hari pertama penerapan aturan tersebut, IHSG memang melemah 1,51%. Namun, korelasi waktu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan harga minimum saham menjadi penyebab langsung kejatuhan IHSG. Tekanan pasar pada Senin juga berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak, ketidakpastian Timur Tengah, pelemahan rupiah dan aksi jual asing.

Sorotan Unggulan IHSG Hari Ini

IHSG berada di persimpangan penting. Posisi 6.147,86 membuat indeks hanya berjarak sekitar 48 poin dari level 6.100. Pada saat yang sama, rupiah berada di Rp17.978 per dolar AS dan Brent sekitar US$105 per barel.

Jika tekanan global berlanjut, perhatian pasar akan tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan area 6.100. Sebaliknya, apabila sentimen membaik, pergerakan indeks akan kembali diuji oleh area perdagangan Senin.

Yang perlu diperhatikan investor bukan hanya arah IHSG, tetapi juga rupiah, minyak, yield US Treasury, arus dana asing, dan sektor teknologi secara bersamaan.

Tidak Semua Saham Ikut Jatuh

Meski IHSG merosot 1,51%, tidak semua saham bergerak turun.

Sebanyak 180 saham menguat, sementara 532 saham melemah dan 81 saham stagnan. Bahkan sektor energi dan transportasi-logistik masih mampu mencatat penguatan ketika mayoritas sektor berada di zona merah.

Ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan indeks, pergerakan pasar tetap terfragmentasi. Karena itu, melihat IHSG saja belum cukup untuk menggambarkan seluruh dinamika perdagangan saham hari ini.

Apa yang Dipantau Pasar pada Selasa?

Perdagangan IHSG hari ini akan berlangsung dengan beberapa indikator utama yang saling berkaitan: level 6.100, rupiah Rp17.978, harga minyak sekitar US$105, yield US Treasury, serta arus dana asing.

Dengan tekanan yang datang dari berbagai arah, perdagangan Selasa berpotensi menjadi ujian bagi kemampuan IHSG untuk menghentikan rangkaian koreksi.

Kunci utamanya kini bukan sekadar apakah IHSG kembali melemah atau menguat, tetapi apakah level 6.100 mampu menjadi pijakan pasar setelah indeks kehilangan 1,51% dalam sehari.

(databoks/infobank/streetinsider/reuters/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN