BI Perkuat Pengawasan Devisa dan Likuiditas untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Gubernur BI Destry Damayanti. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID - Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tantangan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang dunia.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan dari sisi moneter, penguatan kebijakan akan terus dilakukan secara konsisten melalui sejumlah pilar. Salah satunya dengan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa dan kecukupan likuiditas.
"Kami akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa, kemudian juga kami akan terus memperkuat kecukupan likuiditas melalui repo operasi moneter untuk non-SBN," kata Destry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.
Destry mengatakan BI telah mulai membuka fasilitas repo untuk surat berharga non-SBN. Saat ini, fasilitas tersebut telah diterapkan pada surat berharga PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).
Mulai Oktober 2026, fasilitas tersebut akan diperluas untuk obligasi PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Surat berharga yang diterbitkan SMF dan SMI dapat direpokan kepada BI sehingga diharapkan turut memperdalam pasar uang bagi kedua instrumen tersebut.
Langkah tersebut dilakukan di tengah tantangan eksternal berupa penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia. Menurut Destry, kondisi tersebut dipicu tren suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada 16 September 2026 waktu AS. BI memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi pada triwulan IV 2026.
Menurut Destry, kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Hal itu tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang mencapai 101,11, sedangkan indeks dolar terhadap mata uang negara Asia mencapai 96,26.
Penguatan dolar AS tersebut juga berdampak terhadap aliran modal di negara berkembang. Arus modal yang sebelumnya berada di negara-negara berkembang kembali beralih ke negara maju.
Selain penguatan dolar AS, Destry menyoroti peningkatan tekanan inflasi global yang turut memengaruhi arah kebijakan moneter negara-negara di dunia.
Lebih lanjut, BI juga akan memperkuat kebijakan makroprudensial dengan mengoptimalkan kredit, menjaga ketahanan sistem keuangan, dan meningkatkan inklusi keuangan.
Dari sisi sistem pembayaran, BI akan memperluas pembayaran lintas negara atau cross-border payment serta mendorong inovasi aset keuangan digital.
BI juga memperkuat kapasitas talenta digital melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), termasuk pengembangan kompetensi di bidang kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).
"Kemudian juga penguatan talenta digital melalui program PIDI, yaitu Pusat Inovasi Digital Indonesia di mana kami di situ mencari talenta-talenta dan juga memberdayakan talenta-talenta muda yang mempunyai kemampuan dan kompetensi yang tinggi di bidang digital, termasuk AI dan kemudian kami berusaha melakukan matchmaking dengan pihak demand side," katanya. (hm25/antara)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Cabai Merah Naik 50 Persen, Pengamat Proyeksikan Sumut Alami Inflasi 0,3 Persen di September





































