Friday, August 7, 2026
home_banner_first
EDUKASI

BRIN: Tsunami Pangandaran 2006 Diduga Dipicu Pergerakan Massa Bawah Laut

Mistar.idJumat, 7 Agustus 2026 pukul 15.06 WIB
brin_tsunami_pangandaran_2006_diduga_dipicu_pergerakan_massa_bawah_laut

Paparan peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro tentang Tsunami Pangandaran 2006. (Foto: BRIN/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa mekanisme terjadinya tsunami Pangandaran pada 2006 diduga lebih kompleks dibandingkan pemahaman sebelumnya. Selain dipicu oleh gempa bumi, peristiwa tersebut diduga turut dipengaruhi oleh pergerakan massa bawah laut yang memperbesar gelombang sekaligus mempercepat waktu kedatangan tsunami ke pesisir.

Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, mengatakan tsunami Pangandaran merupakan salah satu contoh tsunami earthquake, yaitu kondisi ketika gelombang tsunami yang terbentuk jauh lebih besar daripada perkiraan berdasarkan parameter gempa yang tercatat.

Pernyataan itu disampaikan dalam webinar Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 sebagaimana dikutip dari laman BRIN, Jumat (7/8/2026).

Menurut Wiko, sejumlah penelitian mencatat tinggi gelombang tsunami di beberapa lokasi mencapai lebih dari delapan meter. Kesaksian para penyintas juga menyebutkan gelombang saat itu melampaui tinggi pohon kelapa di sejumlah kawasan pesisir.

Hasil investigasi dan analisis yang dilakukan BRIN menunjukkan adanya indikasi faktor nonseismik yang kemungkinan turut memperkuat dampak tsunami di daratan. Dengan demikian, pembangkitan tsunami diperkirakan tidak hanya berasal dari deformasi dasar laut akibat gempa, tetapi juga melibatkan faktor lain yang masih memerlukan kajian lebih lanjut.

"Setelah kami melakukan pengujian berbagai skenario, terdapat kemungkinan bahwa gempa bumi dan pergerakan massa bawah laut bersama-sama berkontribusi membangkitkan tsunami. Model ini mampu memberikan estimasi yang lebih mendekati kondisi tsunami yang sebenarnya terjadi," ujar Wiko.

Untuk menguji dugaan tersebut, tim peneliti menggabungkan berbagai data, mulai dari batimetri, topografi, katalog gempa historis, hingga hasil observasi lapangan.

Simulasi dilakukan menggunakan metode nesting grid system sehingga mampu menghasilkan pemodelan tsunami beresolusi tinggi, termasuk memetakan area genangan hingga tingkat bangunan. Beragam skenario kemudian dievaluasi melalui proses iterative calibration guna memperoleh model yang paling sesuai dengan kondisi tsunami Pangandaran 2006.

Dari 14 skenario yang dianalisis, model yang mengombinasikan sumber gempa dengan indikasi pergerakan massa bawah laut menunjukkan tingkat kecocokan tertinggi terhadap data lapangan. Kesesuaian tersebut terlihat dari tinggi gelombang, waktu kedatangan tsunami, hingga tingkat paparan terhadap infrastruktur dan korban jiwa.

Kajian itu juga mengindikasikan bahwa keberadaan pergerakan massa bawah laut berpotensi mempercepat kedatangan tsunami. Dalam simulasi yang hanya menggunakan sumber gempa, gelombang diperkirakan mencapai pantai dalam waktu sekitar 40 hingga 50 menit.

Sementara pada skenario yang memasukkan faktor pergerakan massa bawah laut, waktu tiba tsunami diperkirakan hanya sekitar 20 hingga 30 menit, sejalan dengan sejumlah kesaksian penyintas.

Pemodelan beresolusi tinggi yang dilakukan BRIN juga memperlihatkan bahwa tsunami tidak hanya menghantam garis pantai, tetapi turut merambat ke daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap. Penelitian tersebut turut mengidentifikasi beberapa wilayah yang relatif tidak terdampak sehingga dapat dipertimbangkan sebagai lokasi evakuasi pada masa mendatang.

Selain mengevaluasi mekanisme pembangkitan tsunami, tim peneliti juga menguji pendekatan penskalaan sumber gempa. Wiko menyebut formulasi Takemura menghasilkan estimasi yang lebih mendekati data observasi dibandingkan formulasi yang digunakan sebelumnya.

Menurutnya, temuan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memperkuat sistem mitigasi bencana melalui pemodelan risiko tsunami beresolusi tinggi dan pengembangan teknologi pemantauan yang lebih efisien.

Meski demikian, Wiko menegaskan dugaan keterlibatan pergerakan massa bawah laut masih memerlukan analisis sensitivitas dan penelitian lanjutan agar memperoleh konfirmasi ilmiah yang lebih kuat.

Ke depan, BRIN akan melanjutkan riset mengenai bahaya kelautan (ocean hazard) dengan mengembangkan prototipe sistem pemantauan tsunami berbiaya lebih terjangkau. Teknologi tersebut dirancang untuk memantau perubahan permukaan laut secara real time guna memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.

"Kami telah melakukan inisiasi bersama rekan-rekan dari bidang teknik untuk memproduksi alat monitoring tsunami yang lebih murah dan dapat diterapkan untuk mendukung pemantauan gelombang laut," kata Wiko.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN