Friday, August 7, 2026
home_banner_first
EDUKASI

SMAN 3 Medan Jadi Sekolah Induk Program PJJ untuk Anak Tidak Sekolah

Mistar.idJumat, 7 Agustus 2026 pukul 16.22 WIB
sman_3_medan_jadi_sekolah_induk_program_pjj_untuk_anak_tidak_sekolah

Ilustrasi anak tidak sekolah. (foto: Harian Disway/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pendidikan Khusus Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) meluncurkan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang menyasar Anak Tidak Sekolah (ATS).

Sejumlah persyaratan yang diperlukan yakni anak tersebut berusia 16 hingga 18 tahun, memiliki ijazah SMP atau MTs, sudah putus sekolah selama satu tahun ditandai dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang sudah tidak aktif, serta melampirkan dokumen pendukung berupa Kartu Keluarga dan Akte Lahir jika ada.

Di Sumatera Utara, Kemendikdasmen mencatat 1.300 lebih anak dengan rentang usia antara 16 hingga 18 tahun tidak bersekolah. Untuk menjangkau ATS di Sumut, Kemendikdasmen menunjuk SMA Negeri 3 Medan menjadi sekolah induk pelaksanaan PJJ dengan tiga sekolah mitra lainnya yakni SMAN 1 Hinai, SMAN 1 Siantar dan SMAN 2 Percut Sei Tuan.

Kepala SMAN 3 Medan, Susianto, mengatakan program yang baru pertama kali berjalan ini menawarkan fleksibilitas penuh tanpa mengikat waktu, seragam maupun gedung sekolah, sehingga para siswa tetap bisa bekerja atau membantu perekonomian keluarga sambil menyelesaikan pendidikan jenjang SMA.

Sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan, PJJ ini dapat diikuti oleh ATS yang disebabkan beberapa faktor termasuk ekonomi, geografi, kendala bencana alam dan lain-lainya, yang membuat siswa tersebut tidak dapat melanjutkan pendidikan reguler.

“Pemerintah meluncurkan program PJJ bagi siswa-siswi ATS untuk tahun ini serentak dilaksanakan di 23 provinsi di seluruh Indonesia, dengan kategori penjajakan kelas 10. Jadi baru dibuka kelas 10 untuk jenjang SMA,” katanya, Jumat (7/8/2026).

Pembelajaran PJJ, kata Susianto, dilakukan melalui sistem aplikasi melalui program sinkronus sebanyak 30 persen dan asinkronus sebesar 70 persen.

Pada sistem asinkronus, siswa diharapkan belajar mandiri dari modul yang sudah disiapkan oleh SMAN 3 Medan bersama Kemendikdasmen. Sementara pembelajaran sinkronus yakni tatap maya dengan guru pembimbing.

“Jadi kami SMAN 3 Medan, guru-guru terpilih sudah mendapatkan pelatihan dari kementerian melalui SEAMOLEC. Sudah pelatihan tiga hari untuk melatih guru-guru yang akan bertugas melayani PJJ. Sehingga prosesnya ditangani penuh oleh guru-guru SMAN 3 Medan dibantu sekolah mitra sebagai fasilitator,” tuturnya.

Saat ini siswa yang sudah mendaftar sebanyak 15 orang dari target satu rombongan belajar berisi 36 siswa. Dari jumlah tersebut, sebaran awal berasal dari tiga sekolah mitra yang menjadi pilot project yakni lima siswa dari Siantar, enam siswa dari Hinai dan empat lainnya dari Percut Sei Tuan. Meski demikian, PJJ ini menerima siswa dari 33 kabupaten/kota di Sumut.

“Sebenarnya tidak harus daerah itu saja yang menyumbang siswa itu. Tapi kementerian memilih tiga sekolah mitra itu saat ini, karena di wilayah sekitarnya banyak kantong-kantong data siswa yang ATS, sehingga kementerian mendorong jadi pilot project pertama dan nantinya dikembangkan ke kabupaten kota lainnya,” ujar Susianto.

Susianto menegaskan seluruh rangkaian pendidikan ini sepenuhnya gratis tanpa dipungut biaya dan tanpa kewajiban membeli seragam maupun perlengkapan sekolah. Menariknya lagi, meski menggunakan sistem jarak jauh para siswa dipastikan masuk dalam sistem resmi Dapodik Pusdatin.

Setelah merampungkan studi selama tiga tahun, para siswa akan mendapatkan ijazah resmi yang ditandatangani dan diterbitkan oleh SMAN 3 Medan yang juga dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

“Mereka dapat hak yang sama. Dapat prioritas dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan misalnya jalur prestasi, mereka bisa ikuti SNBP, SNBT atau mandiri. Jadi semua perlakuannya sama,” katanya.

Saat ini, para siswa yang sudah mendaftar program PJJ tengah mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung sejak 4-8 Agustus 2026. Meski demikian, pendaftaran PJJ masih diperpanjang hingga 31 Agustus 2026 untuk menambah jumlah proporsi siswa yang bergabung.

“MPLS dilakukan untuk penguatan informasi, regulasi agar anak-anak semakin paham seperti apa mereka nanti beradaptasi terhadap pembelajaran PJJ,” ujarnya.

Pelaksanaan MPLS juga dilakukan dengan dua sesi, yakni pembimbingan online langsung dari guru dan wali kelas, dan satu sesi lagi dikemas dalam bentuk tugas dan yang berkaitan dengan informasi.

Para orang tua juga dibekali informasi terkait PJJ baik pelaksanaannya sehingga mereka mengetahui bahwa jika ada anak yang harus bekerja membantu ekonomi keluarga, tidak akan terganggu dengan program PJJ ini.

“Kami juga bermohon publikasi PJJ ini untuk menjaring ATS untuk kembali bersekolah. Sistemnya sangat fleksibel, tidak terbatas oleh jam, waktu, anak-anak bisa lebih enjoy dalam menyelesaikan studinya,” katanya lagi.

Susianto optimis, dengan program pembelajaran yang fleksibel, pelaksanaan PJJ di tahun mendatang akan mendatangkan banyak respon baik dari masyarakat.

“Masyarakat yang ingin mendaftar di tahun ini bisa mengisi link pendaftaran untuk kami verifikasi. Atau berkomunikasi dengan narahubung kami di 081263710757 atau 081260488483 untuk informasi lebih lanjut. Semua pendidik, pembelajaran dan sistemnya tidak ada berbiaya. Cukup ikuti program secara aktif di waktu yang mereka punya,” ujarnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN