Friday, June 26, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

BRIN Ciptakan Kain Pintar Pendeteksi Pewarna Berbahaya, Bisa Cek Pangan dalam Hitungan Detik

Mistar.idJumat, 26 Juni 2026 pukul 06.30 WIB
brin_ciptakan_kain_pintar_pendeteksi_pewarna_berbahaya_bisa_cek_pangan_dalam_hitungan_detik

Ilustrasi, BRIN Ciptakan Kain Pintar Pendeteksi Pewarna Berbahaya, Bisa Cek Pangan dalam Hitungan Detik. (foto:ferry/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (26/6/2026) – Peneliti Pusat Riset Fotonika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan kain pintar (smart fabric) berbasis nanopartikel perak yang mampu mendeteksi zat pewarna berbahaya secara cepat, sensitif, dan praktis.

Inovasi yang dipimpin Prof. Isnaeni ini hadir sebagai solusi atas masih ditemukannya penggunaan pewarna sintetis berbahaya pada pangan, tekstil, hingga limbah industri.

Menurut Isnaeni, teknologi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan metode deteksi yang mudah digunakan di lapangan tanpa harus bergantung pada fasilitas laboratorium yang rumit.

Pasalnya, sejumlah zat pewarna seperti malachite green dan methylene blue diketahui berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan organ hingga meningkatkan potensi kanker akibat paparan jangka panjang.

Sensor ini dibuat dari lembaran fiberglass fleksibel yang dilapisi nanopartikel perak melalui metode sintesis gelombang mikro. Proses pembuatannya relatif singkat, hanya sekitar 30 detik untuk menghasilkan lapisan nanopartikel yang optimal.

Lapisan nanopartikel perak tersebut berfungsi memperkuat sinyal cahaya pada teknik Surface Enhanced Raman Spectroscopy (SERS), sehingga mampu mendeteksi molekul pewarna dalam konsentrasi sangat rendah.

Selain lebih ramah lingkungan dan berbiaya rendah, teknologi ini juga berpotensi diproduksi secara massal. Demikian dikutip dari situs resmi BRIN, Jumat (26/6/2026).

Hasil penelitian menunjukkan sensor memiliki sensitivitas tinggi dengan batas deteksi hingga 10⁻⁷ M untuk pewarna malachite green.

Tak hanya itu, sensor juga mampu mengenali beberapa jenis pewarna sekaligus dalam satu kali pengukuran, sehingga efektif digunakan pada sampel yang lebih kompleks.

Keunggulan lain terletak pada daya pakainya yang dapat digunakan kembali hingga delapan kali tanpa penurunan kinerja yang signifikan. Sifatnya yang fleksibel memungkinkan sensor diaplikasikan langsung pada berbagai permukaan.

Dalam pengujian, perangkat ini berhasil mendeteksi keberadaan pewarna pada permukaan mentimun, pare, terong, dan labu siam hanya melalui teknik usap sederhana.

Kemampuan tersebut membuka peluang penggunaan perangkat Raman portabel untuk inspeksi keamanan pangan secara langsung di lapangan. Dengan demikian, proses pengawasan kualitas pangan dapat dilakukan lebih cepat, praktis, dan efisien tanpa perlu membawa sampel ke laboratorium.

Isnaeni berharap platform sensor berbasis nanoteknologi ini dapat terus dikembangkan untuk mendeteksi berbagai kontaminan lain, seperti residu pestisida, bahan kimia berbahaya, mikroplastik, hingga biomarker kesehatan.

Menurutnya, inovasi tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengembangan perangkat sensor portabel generasi baru yang murah, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi, Biochemical Engineering Journal, edisi 2026 melalui artikel berjudul “Single-vessel Microwave-Assisted Fabrication of Flexible Ag@FG Substrates for Robust and Reusable SERS Multi-Dye Detection”.

(brin/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN