Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Kisah Peneliti BRIN Temukan Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Rasa Penasaran

Mistar.idJumat, 29 Mei 2026 pukul 09.40 WIB
kisah_peneliti_brin_temukan_cap_tangan_tertua_dunia_di_muna_berawal_dari_rasa_penasaran

Shinatria Adhityatama memeriksa seni gua di salah satu gua di Sulawesi, Indonesia. Baru-baru ini, para arkeolog menemukan seni cadas tertua yang diketahui di dunia di gua Liang Metanduno di pulau Muna, Indonesia. (foto: Maxime Aubert/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Indonesia kini resmi mencatat sejarah baru di dunia arkeologi. Lukisan cadas berupa cap tangan prasejarah di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), dinobatkan sebagai lukisan non-figuratif tertua di dunia oleh Guinness World Records (GWR).

Cap tangan tersebut diperkirakan berusia minimal 67.800 tahun. Di balik penemuan besar itu, tersimpan kisah panjang penuh rasa penasaran, penelitian bertahun-tahun, hingga kendala laboratorium akibat perang Rusia-Ukraina.

Peneliti BRIN sekaligus pakar arkeometri, Dr Adhi Agus Oktaviana, mengatakan pencarian itu bermula pada 2015 saat dirinya terlibat dalam proyek pendokumentasian gambar cadas prasejarah Indonesia bersama tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta almarhum Pindi Setiawan.

Saat menelusuri berbagai laporan lama, Gua Liang Metanduno dikenal memiliki banyak lukisan purba. Anehnya, tidak ada catatan mengenai cap tangan manusia prasejarah. “Dari situ saya penasaran, kenapa belum ada laporan cap tangan di gua itu,” ujar Adhi.

Rasa ingin tahu tersebut membuat tim menelusuri bagian dalam gua lebih jauh. Mereka awalnya menemukan tiga cap tangan samar di langit-langit bongkahan batu runtuhan gua. Meski bentuknya sudah aus dan sempat memicu perdebatan kecil, Adhi yakin itu merupakan jejak manusia purba.

Pencarian kemudian berlanjut hingga area belakang gua. Di lokasi itu, tim menemukan deretan cap tangan yang tertutup lapisan mineral gua atau coraloid speleothem. Lapisan inilah yang kemudian menjadi kunci penentuan usia lukisan.

Menariknya, saat pertama kali ditemukan, Adhi mengaku tidak menyangka usia lukisan tersebut bisa mencapai puluhan ribu tahun. Berdasarkan penelitian sebelumnya, sebagian besar lukisan serupa di Indonesia diperkirakan hanya berumur sekitar 17 ribu hingga 20 ribu tahun.

Pada 2019, Adhi bersama Profesor Maxime Aubert dari Griffith University Australia kembali ke Pulau Muna untuk mengambil sampel mineral dari dinding gua.

Lukisan yang berada di Goa Liang Metanduno, Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, disebut sebagai lukisan yang tertua di dunia, dengan usia mencapai 67.800 tahun. (foto: Defriatno Neke/Mistar)

Namun proses penelitian tidak berjalan cepat. Sampel yang telah dikumpulkan baru dapat dianalisis sepenuhnya pada 2023 karena laboratorium di Australia mengalami keterbatasan pasokan gas penelitian akibat dampak perang Rusia-Ukraina.

Untuk menentukan usia lukisan, tim menggunakan metode laser-ablasi uranium-series (LA-U-series), teknologi penanggalan modern dengan tingkat presisi tinggi.

Teknik ini memungkinkan peneliti mengambil sampel mineral super kecil dari lapisan kalsit di atas pigmen lukisan tanpa merusak banyak bagian dinding gua. “Ukuran sampelnya sangat kecil, sekitar setengah ukuran rambut manusia,” ucap Adhi.

Dari hasil pengujian tersebut, diketahui usia minimum cap tangan mencapai 67.800 tahun. Temuan itu kemudian dianalisis ulang pada 2025 untuk memastikan akurasinya sebelum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada awal 2026.

Selain usianya yang fantastis, cap tangan di Liang Metanduno juga memiliki ciri khas unik berupa bentuk “jari runcing”. Gaya seperti ini disebut hanya ditemukan di wilayah Sulawesi dan tidak dijumpai di daerah lain seperti Kalimantan.

Menurut Adhi, bentuk jari meruncing itu kemungkinan berkaitan dengan simbol spiritual atau mitologi manusia purba, termasuk dugaan hubungan manusia dengan makhluk setengah hewan atau theriantrop.

Penemuan ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam peta arkeologi dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa manusia purba di Nusantara telah memiliki kemampuan berpikir simbolik dan budaya yang maju sejak puluhan ribu tahun lalu.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN