Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Fenomena Blue Moon dan Micromoon Akan Hiasi Langit pada 31 Mei 2026, Apa Bedanya?

Mistar.idJumat, 29 Mei 2026 pukul 09.26 WIB
fenomena_blue_moon_dan_micromoon_akan_hiasi_langit_pada_31_mei_2026_apa_bedanya

Ilsutrasi. (foto: canva/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Pecinta astronomi akan disuguhkan fenomena langit yang cukup langka pada akhir Mei 2026. Setelah purnama pertama atau Flower Moon muncul pada 1 Mei lalu, langit malam kembali menghadirkan purnama kedua pada 30-31 Mei 2026 yang dikenal sebagai Blue Moon.

Menariknya, Blue Moon kali ini juga bertepatan dengan fenomena Micromoon, yakni kondisi ketika bulan berada di titik terjauh dari Bumi sehingga tampak lebih kecil dan redup dibandingkan purnama biasanya.

Dikutip dari EarthSky.org, Micromoon terjadi saat bulan berada di titik apogee atau posisi terjauh dalam orbitnya mengelilingi Bumi. Pada akhir Mei nanti, jarak bulan diperkirakan mencapai sekitar 406 ribu kilometer dari Bumi, lebih jauh dari jarak rata-rata biasanya.

Akibatnya, ukuran bulan akan terlihat sedikit lebih kecil dengan cahaya sekitar 7 persen lebih redup dibandingkan purnama normal. Bahkan, jika dibandingkan dengan Supermoon, tingkat kecerahannya bisa berkurang hingga 25–30 persen.

Meski demikian, perbedaan ukuran tersebut kemungkinan tidak terlalu terlihat jelas jika diamati langsung dengan mata telanjang.

Puncak fenomena ini diperkirakan terjadi pada 31 Mei 2026 pukul 08.45 UTC. Untuk wilayah Asia termasuk Indonesia, waktu terbaik menikmati purnama ini adalah pada malam 31 Mei 2026.

Fenomena tersebut juga akan semakin menarik karena bulan tampak berdekatan dengan Antares, bintang terang yang dijuluki “Jantung Kalajengking” di rasi Scorpius. Meski disebut Blue Moon, bulan tidak benar-benar berwarna biru. Istilah tersebut hanya digunakan untuk menyebut purnama kedua dalam satu bulan kalender.

Warna bulan nantinya tetap terlihat seperti biasanya, yakni putih keperakan atau sedikit kekuningan. Foto Blue Moon berwarna biru yang banyak beredar di internet umumnya berasal dari efek filter kamera atau hasil edit digital.

Namun, bulan berwarna biru secara alami memang pernah terjadi dalam sejarah. Fenomena itu muncul ketika atmosfer Bumi dipenuhi partikel debu atau asap akibat letusan gunung berapi besar maupun kebakaran hutan.

Catatan sejarah menyebut fenomena bulan biru alami pernah terlihat setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 dan Gunung Mount St. Helens pada 1980.

Secara astronomi, Blue Moon memiliki dua definisi yang dikenal luas, yakni purnama kedua dalam satu bulan kalender dan purnama ketiga dari empat purnama dalam satu musim astronomi.

Menariknya, istilah Blue Moon yang populer saat ini berasal dari kesalahan penafsiran artikel astronomi pada tahun 1946. Meski awalnya keliru, istilah tersebut justru terus digunakan dan akhirnya menjadi bagian dari budaya populer modern.

Fenomena Blue Moon dan Micromoon pada akhir Mei 2026 ini diprediksi menjadi salah satu pertunjukan langit paling menarik tahun ini dan sayang untuk dilewatkan para pengamat langit malam.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN