Karhutla Indonesia Membara, Kabut Asap Menyebar ke Tiga Negara

Kabut asap menyelimuti Kota Kuching, Sarawak Malaysia. (foto: Jennifer Kang via BBC)
Banjarbaru, MISTAR.ID - Kabut asap tebal dan beracun akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Asap kini juga menyebar hingga Malaysia, Singapura, dan Filipina setelah kebakaran berlangsung selama berminggu-minggu.
Dilansir BBC, Kamis (3/9/2026), Banjarbaru di Kalimantan Selatan menjadi salah satu kota yang terdampak paling parah. Kabut asap bahkan memaksa sekolah-sekolah di kota tersebut ditutup.
Seorang guru honorer di Banjarbaru mengatakan kepada BBC kondisi sempat begitu buruk hingga jarak pandang menjadi sangat terbatas.
“Anda bahkan tidak bisa melihat kaki sendiri karena asap,” katanya.
Dampak kesehatan juga mulai dirasakan masyarakat. Seorang ibu di Banjarbaru mengatakan putrinya yang berusia tiga tahun mengalami batuk, sakit tenggorokan, dan pilek setelah asap masuk ke dalam rumah.
Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan sepanjang Juli hingga Agustus yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Ribuan orang dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Sebagian besar kebakaran terjadi di wilayah Kalimantan, bagian Indonesia dari Pulau Borneo yang juga berbagi wilayah dengan Malaysia dan Brunei.
Di Sarawak, Malaysia, yang berbatasan dengan Kalimantan, Indeks Pencemaran Udara (API) di sejumlah daerah telah mencapai kategori tidak sehat.
Kabut asap juga bergerak lebih jauh hingga Filipina. Warga di Provinsi Palawan, yang berada di utara lokasi kebakaran Indonesia dan selatan Manila, melaporkan mencium bau seperti terbakar di tengah kabut yang semakin pekat.
Kondisi tersebut juga menyebabkan sebagian warga mengalami sakit kepala serta iritasi pada mata dan tenggorokan.
Sementara itu, Singapura mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap memburuknya kualitas udara. Pemerintah dan sejumlah peritel telah menyiapkan stok masker N95, sedangkan sekolah-sekolah menyusun langkah untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan jika polusi semakin parah.
BBC juga melaporkan pengalaman Jennifer Kang, seorang warga Malaysia yang mengunjungi Kuching, Sarawak, pada akhir pekan lalu.
Kang mengatakan kabut asap begitu tebal ketika pesawat yang ditumpanginya mendekati landasan.
“Kami tidak bisa melihat apa pun di bawah kami,” ujarnya kepada podcast Asia Specific BBC.
Kondisi tersebut mengingatkannya pada krisis kabut asap 1997 yang berlangsung lama dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat serta perekonomian.
Menurut Kang, hampir tiga dekade kemudian penyebab kebakaran dan cara pencegahannya sebenarnya sudah lebih dipahami. Namun, buruknya kualitas udara akibat kabut asap kembali terulang.
“Pertanyaan yang lebih besar bukan bagaimana kita menghadapi kabut asap saat ini, tetapi apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya,” katanya.
Kebakaran yang terus berlangsung membuat persoalan karhutla Indonesia kembali berkembang menjadi krisis pencemaran udara lintas batas di Asia Tenggara. (*)

























