3 Tim Promosi Liga 1 2026/2027: Ada Juara Baru, PSS Sleman, hingga Wajah Baru Kalimantan

3 Tim Promosi Liga 1 2026/2027: Ada Juara Baru, PSS Sleman, hingga Wajah Baru Kalimantan. (foto ilustrasi:wikipedia/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/9/2026) — Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim 2026/2027 bakal menghadirkan tiga wajah baru. Mereka adalah Garudayaksa FC, PSS Sleman, dan Isenmulang Kalteng FC.
Ketiganya datang dengan cerita berbeda. Garudayaksa FC melesat sebagai klub baru yang langsung menjadi juara Championship. PSS Sleman hanya membutuhkan satu musim untuk kembali ke kasta tertinggi setelah terdegradasi. Sementara itu, Isenmulang Kalteng FC hadir dengan identitas baru setelah sebelumnya dikenal sebagai Adhyaksa FC.
Musim 2026/2027 juga menjadi babak baru bagi kompetisi kasta tertinggi yang kini menggunakan nama Super League. Tiga klub promosi tersebut akan berhadapan dengan tim-tim yang lebih berpengalaman di level elite sepak bola Indonesia.
Lantas, bagaimana perjalanan ketiga tim tersebut hingga akhirnya mendapatkan tiket ke kasta tertinggi? Siapa sosok yang dipercaya menjadi pelatih dan kapten mereka?
Garudayaksa FC, Pendatang Baru yang Langsung Memburu Panggung Tertinggi
Jika ada satu tim yang memiliki perjalanan paling cepat menuju kasta tertinggi, jawabannya adalah Garudayaksa FC.
Klub yang baru memulai kiprah di kompetisi profesional pada musim 2025/2026 itu langsung membuat kejutan. Alih-alih sekadar beradaptasi, Garudayaksa justru mampu bersaing di papan atas Championship hingga akhirnya mengunci tiket promosi.
Garudayaksa memastikan promosi setelah menjadi pemuncak Grup Barat. Pencapaian tersebut menjadi sangat istimewa karena mereka baru menjalani musim perdana di kompetisi profesional.
Langkah mereka kemudian semakin sempurna. Garudayaksa mampu menundukkan PSS Sleman di partai final Championship 2025/2026 melalui drama adu penalti setelah pertandingan berakhir imbang.
Gelar tersebut sekaligus mempertegas bahwa Garudayaksa bukan sekadar klub baru yang datang untuk meramaikan kompetisi. Mereka langsung naik kasta dengan status juara.
Nama Prabowo Melekat, Struktur Klub Mulai Dibangun
Garudayaksa memiliki latar belakang yang cukup berbeda dibandingkan klub-klub tradisional Indonesia.
Klub ini lahir pada 2025 dan memiliki keterkaitan dengan ekosistem sepak bola Garudayaksa. Untuk memasuki kompetisi profesional, klub tersebut mengambil alih PSKC Cimahi.
Nama Presiden RI Prabowo Subianto kemudian sangat lekat dengan Garudayaksa dan kerap disebut-sebut sebagai pemilik klub. Sejumlah profil klub mencantumkannya sebagai pemilik. Di sisi operasional, struktur klub mencantumkan Widjono Hardjanto sebagai Presiden Klub, M. Reza Anugerah sebagai CEO, serta Derry Hidayat sebagai COO.
Dengan modal finansial, organisasi dan ambisi besar, Garudayaksa langsung memasang target tinggi setelah promosi.
Mereka tidak ingin sekadar menjadi tim penggembira di Super League 2026/2027. Target menembus papan atas menjadi tantangan berikutnya setelah sukses menguasai Championship.
Milos Joksic Jadi Sosok yang Dipercaya
Untuk menghadapi persaingan yang jauh lebih berat, Garudayaksa melakukan perubahan di kursi pelatih.
Pelatih asal Serbia, Milos Joksic, dipercaya menangani tim untuk musim 2026/2027. Joksic bukan sosok asing dalam sepak bola Asia karena memiliki pengalaman panjang berkarier di Thailand, termasuk menangani Rajpracha FC, Muangthong United, hingga Uthai Thani.
Kehadiran Joksic menunjukkan bahwa Garudayaksa ingin menaikkan standar setelah berhasil menjadi juara di kasta kedua.
Di ruang ganti, pengalaman Andik Vermansah juga menjadi salah satu aset penting. Mantan pemain Timnas Indonesia itu merupakan kapten Garudayaksa pada musim promosi.
Namun, posisi kapten untuk musim 2026/2027 belum bisa disebut mutlak. Andik sendiri menyerahkan keputusan tersebut kepada pelatih. Ia menyatakan siap kembali menjadi kapten apabila dipercaya, tetapi tetap akan menjalankan peran kepemimpinan meski ban kapten berpindah tangan.
Pada musim lalu, Andik tampil dalam 23 pertandingan dengan catatan dua gol dan 13 assist. Kontribusinya tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi juga dalam membimbing pemain-pemain muda.
Garudayaksa kini menghadapi ujian sesungguhnya: membuktikan bahwa kesuksesan di Championship bukan sekadar kejutan satu musim.
PSS Sleman, Sang Mantan Penghuni Liga 1 yang Langsung Bangkit
Cerita PSS Sleman berbeda.
Super Elja sebenarnya bukan klub baru di kasta tertinggi. PSS pernah menjadi bagian dari persaingan Liga 1 sebelum harus menerima kenyataan pahit terdegradasi ke Championship pada akhir musim 2024/2025.
Namun, PSS tidak ingin terlalu lama berada di kasta kedua.
Hanya satu musim setelah turun kasta, klub asal Sleman tersebut langsung mengamankan tiket kembali ke level tertinggi.
PSS memastikan promosi setelah tampil konsisten sepanjang Championship 2025/2026. Mereka bahkan mampu melangkah hingga final sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan Garudayaksa dalam drama adu penalti.
Status runner-up tidak mengurangi makna pencapaian tersebut. Bagi PSS, yang terpenting adalah satu hal: Super Elja kembali ke kasta tertinggi.
Pieter Huistra, dari Direktur Teknik Menjadi Pelatih Kepala
Ada sosok yang menarik dalam perjalanan PSS menuju Super League.
Namanya Pieter Huistra.
Pelatih asal Belanda itu sebelumnya tidak bisa menjadi pelatih kepala PSS di Championship karena regulasi kompetisi yang membatasi penggunaan pelatih asing. Huistra kemudian menjalankan peran sebagai Direktur Teknik.
Dari posisi tersebut, ia tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan PSS hingga mendapatkan tiket promosi.
Setelah PSS memastikan kembali ke kasta tertinggi, klub akhirnya memberikan kepercayaan kepada Huistra untuk kembali menjadi pelatih kepala. Manajemen menilai pengalaman, visi, serta pemahamannya terhadap karakter klub menjadi modal penting menghadapi Super League 2026/2027.
Keputusan tersebut juga membuat perjalanan Huistra bersama PSS terasa seperti sebuah lingkaran yang lengkap. Ia pernah menangani PSS ketika klub berada dalam situasi sulit, kemudian membantu dari balik layar saat proses kebangkitan, dan kini kembali berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih kepala.
Menjelang musim baru, Huistra menegaskan PSS tidak ingin minder meski berstatus tim promosi. Ia menyebut timnya tetap ambisius dan ingin memainkan sepak bola yang bagus.
Siapa Kapten PSS?
Untuk urusan kapten, situasi PSS sedikit berbeda dibandingkan Garudayaksa.
Cleberson merupakan salah satu sosok yang mengenakan ban kapten dalam perjalanan PSS di Championship 2025/2026. Namun, kontraknya berakhir sehingga belum ada kepastian bahwa ia akan kembali menjadi pemimpin tim pada musim Super League.
Karena itu, penetapan kapten PSS untuk musim 2026/2027 masih perlu menunggu keputusan resmi klub.
Yang sudah pasti, PSS datang bukan sebagai klub yang sekadar ingin bertahan. Setelah hanya satu musim di kasta kedua, Super Elja ingin menunjukkan bahwa tempat mereka memang berada di level tertinggi.
Isenmulang Kalteng FC, Promosi Lewat Playoff dan Membawa Identitas Baru
Tim ketiga memiliki kisah yang paling unik.
Mereka mendapatkan tiket promosi ketika masih menggunakan nama Adhyaksa FC. Klub tersebut sukses memenangkan pertandingan playoff melawan Persipura Jayapura dengan skor 1-0.
Gol Adilson Silva menjadi penentu kemenangan sekaligus mengantarkan Adhyaksa mendapatkan tiket terakhir menuju kasta tertinggi.
Jika Garudayaksa promosi sebagai juara grup dan PSS sebagai salah satu tim terbaik di fase kompetisi, Adhyaksa harus melewati jalur playoff untuk menggapai Super League.
Tetapi cerita mereka tidak berhenti setelah promosi.
Klub tersebut kemudian mengalami perubahan identitas dan kini tampil dengan nama Isenmulang Kalteng FC.
Perubahan tersebut membuat musim 2026/2027 menjadi lebih dari sekadar debut di kasta tertinggi. Isenmulang juga membawa nama dan identitas Kalimantan Tengah ke panggung sepak bola elite Indonesia.
Markas mereka kini berada di Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya. Profil resmi I.League mencatat Isenmulang Kalteng FC sebagai klub yang berdiri pada 2018 dan bermarkas di Kalimantan Tengah.
Dari Adhyaksa ke Isenmulang
Sebelum berganti identitas, Adhyaksa FC memiliki hubungan erat dengan ekosistem sepak bola Kejaksaan Agung.
Presiden klub saat itu adalah Eko Setyawan. Klub tersebut kemudian berkembang hingga mampu menembus kasta kedua dan akhirnya mendapatkan tiket promosi.
Namun, menghadapi musim baru, perubahan identitas membawa konsekuensi besar.
Isenmulang harus membangun kembali kekuatan agar mampu bersaing di level tertinggi. Klub bahkan mendatangkan sejumlah pemain baru, termasuk pemain lokal dan pemain asing untuk memperkuat skuad.
Ade Suhendra Tetap Punya Peran, Mundari Karya Terdaftar sebagai Head Coach
Ada dinamika menarik di kursi kepelatihan Isenmulang.
Ade Suhendra merupakan sosok yang berperan dalam perjalanan tim hingga promosi. Namun, ia belum mengantongi lisensi AFC Pro yang dibutuhkan untuk memenuhi regulasi sebagai pelatih kepala di kompetisi kasta tertinggi.
Karena itu, Isenmulang kemudian mendaftarkan Mundari Karya sebagai pelatih kepala untuk musim 2026/2027. Keputusan tersebut diumumkan pada 2 September 2026.
Mundari diharapkan melengkapi persyaratan regulasi sekaligus memperkuat tim kepelatihan. Sementara itu, pengalaman dan strategi Ade Suhendra tetap menjadi bagian dari persiapan tim.
Dengan kata lain, Isenmulang memasuki musim debutnya dengan kombinasi pengalaman pelatih senior dan sosok yang memahami perjalanan tim sejak masa promosi.
Untuk kapten, Ardi Ramdani menjadi figur penting. Bek tersebut merupakan kapten Adhyaksa dan telah mendapatkan perpanjangan kontrak untuk musim 2026/2027. Klub secara resmi menyebut Ardi sebagai pemimpin di lapangan sekaligus salah satu pilar pertahanan mereka.
Tiga Tim Promosi, Tiga Jalan Berbeda Menuju Super League
Kehadiran Garudayaksa FC, PSS Sleman, dan Isenmulang Kalteng FC membuat persaingan Super League 2026/2027 semakin menarik.
Ketiganya sama-sama berstatus tim promosi, tetapi datang dengan latar belakang yang berbeda.
Garudayaksa adalah pendatang baru yang langsung menjadi juara. Mereka memiliki ambisi besar, struktur klub yang terus dibangun, serta dukungan pemain berpengalaman seperti Andik Vermansah.
PSS adalah tim yang langsung bangkit setelah degradasi. Mereka tahu atmosfer kasta tertinggi dan memiliki pelatih yang sudah memahami karakter klub dalam diri Pieter Huistra.
Sementara Isenmulang adalah tim promosi yang sekaligus membawa identitas baru. Mereka harus beradaptasi dengan tuntutan kasta tertinggi sembari membangun fondasi baru sebagai representasi Kalimantan Tengah.
Menariknya, ketiga klub tersebut juga memiliki sosok pemimpin yang berbeda. Garudayaksa memiliki Andik sebagai figur senior, PSS masih menunggu keputusan final mengenai kapten musim baru, sedangkan Isenmulang mempertahankan Ardi Ramdani sebagai pemimpin di lapangan.
Kini, perjalanan promosi telah selesai.
Tantangan yang sebenarnya justru baru dimulai.
Super League memiliki tempo, tekanan, kualitas pemain, dan tuntutan kompetisi yang jauh berbeda dibandingkan Championship. Bagi tiga tim promosi tersebut, musim 2026/2027 akan menjadi panggung untuk menjawab satu pertanyaan besar: mampukah mereka mengubah tiket promosi menjadi tiket untuk bertahan dan bersaing di kasta tertinggi?
Garudayaksa datang dengan status juara, PSS membawa misi kebangkitan, sementara Isenmulang membawa identitas baru dari Kalimantan Tengah.
Tiga jalan berbeda, satu panggung yang sama.
(ileague/wikipedia/*/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Liga 1: Sejarah, Fakta Menarik, dan Laga Pembuka Musim 2026/2027



















