Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Israel Ngotot Usir Paksa Warga Palestina dari Gaza, Klaim didukung Trump

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 14.38 WIB
israel_ngotot_usir_paksa_warga_palestina_dari_gaza_klaim_didukung_trump_

Ilustrasi warga Palestina yang berulang kali mengungsi di Jalur Gaza. (Foto: Antara/Anadolu)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (2/9/2026) – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, kembali menegaskan niatnya mengusir warga Palestina dari Jalur Gaza. Ia menyebut depopulasi Gaza sebagai "satu-satunya solusi" keamanan bagi Israel.

Pernyataan itu disampaikan Katz dalam konferensi Ynet, Rabu (2/9/2026) waktu setempat.

"Pada akhirnya, tidak ada solusi nyata bagi Gaza tanpa migrasi ini," kata Katz, dikutip Al Jazeera dari Times of Israel.

Katz menyebut rencana pembersihan etnis itu hanya "dibekukan" Presiden AS Donald Trump, bukan dibatalkan.

"Untuk saat ini, Trump tidak membatalkannya, dia membekukannya," ujar Katz.

Ia menambahkan Israel siap mengambil alih Gaza "melalui laut, udara, dan cara apa pun yang diperlukan".

Namun Mesir menolak menerima pengungsi Palestina. Katz menilai negara lain yang bersedia menampung warga Palestina harus mendapat dukungan AS.

Sejumlah pejabat sayap kanan Israel secara terbuka menyebut upaya ini sebagai "migrasi sukarela".

Padahal aktivis HAM menilai ini sebagai upaya pengusiran paksa dan pembersihan etnis.

Sebelumnya Trump sempat mengusulkan AS "mengambil alih" Gaza setelah warga Palestina dipindahkan.

Usulan itu dikecam keras negara-negara Timur Tengah, termasuk sekutu Washington.

Kesepakatan gencatan senjata dilanggarKesepakatan gencatan senjata 12 poin yang diinisiasi Trump sebelumnya menegaskan, "Tidak seorang pun akan dipaksa meninggalkan Gaza. Mereka yang ingin pergi bebas melakukannya dan bebas kembali."

"Kami akan mendorong masyarakat untuk tetap tinggal dan membangun Gaza yang lebih baik," bunyi kesepakatan tersebut.

Katz justru menyebut rencana pengosongan Gaza "terus dibahas sepanjang waktu".

"Saya pikir pada akhirnya tidak ada solusi lain. Tetapi agar hal itu terjadi, kami membutuhkan Amerika Serikat," katanya.(CNN/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN