AS Kesulitan Rekrut Tentara untuk Perangi Iran, Utang Mahasiswa jadi Umpan Baru Pentagon

Ilustrasi, Marinir AS menghormati anggota layanan mereka yang tewas dalam aksi selama upacara ramp di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan.(Foto: Reuters)
New York, MISTAR.ID (3/9/2026) – Amerika Serikat menghadapi masalah serius dalam perekrutan militer di tengah eskalasi konflik dengan Iran di Timur Tengah. Jumlah pendaftar baru terus menurun, terutama dari kalangan anak muda.
Untuk mengatasi hal itu, Pentagon disebut mulai melirik strategi baru, dengan menawarkan penghapusan utang bagi mahasiswa yang bersedia bergabung menjadi tentara.
Gagasan tersebut diungkapkan mantan perwira militer Kanada, AJ Jaff, dalam kolom opini di The Jerusalem Post berjudul "The war with Iran will not be won through airstrikes, so what's left?".
Menurut Jaff, upaya membangun semangat nasionalisme untuk membela kepentingan Amerika di kalangan generasi muda telah gagal.
Banyak anak muda justru bersikap kritis terhadap perang yang dilakukan AS sehingga enggan mendaftar.
Data menunjukkan jumlah personel aktif Angkatan Darat AS saat ini sekitar 452 ribu orang. Padahal, untuk operasi darat besar-besaran ke Iran, dibutuhkan antara 750 ribu hingga 1,5 juta personel.
"Angka perekrutan saat ini berada di bawah kebutuhan untuk invasi darat ke Iran," tulis Jaff.
Skema penghapusan utang untuk pikat generasi mudaJaff menilai skema insentif ekonomi bisa menjadi jalan keluar.
Ia mencontohkan rata-rata warga AS berusia 18-34 tahun memiliki utang non-hipotek, seperti pinjaman mahasiswa, kartu kredit, kredit kendaraan, dan pinjaman pribadi, senilai lebih dari 40 ribu dolar AS.
Beberapa estimasi bahkan menyebut angkanya mencapai 100 ribu dolar AS."Inilah kelompok demografis yang dibutuhkan Pentagon," ujarnya.
Dalam skemanya, pemerintah federal akan melunasi seluruh pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, dan utang lainnya setelah yang bersangkutan menjalani masa tugas 24 atau 36 bulan.
Program GI Bill juga akan diperluas."Sebuah program perekrutan dengan insentif penghapusan utang akan memicu minat sukarelawan dalam jumlah besar," kata Jaff.
Ia menyebut strategi ini bukan hal baru. Pada Perang Dunia II ada GI Bill, pada Perang Vietnam ada penundaan wajib militer bagi mahasiswa, dan pasca-9/11 ada bonus perekrutan serta jalur kewarganegaraan.
"Perang melawan Iran nantinya perlu menawarkan keringanan utang. Kondisi ekonomi warga Amerika usia 20-an dan 30-an yang terlilit utang menjadikan skema ini mekanisme paling efisien bagi Pentagon dan pemerintahan Trump," tambahnya.
Secara moral, gagasan ini dinilai kontroversial. Namun Jaff menyebut negara memang membentuk tentaranya melalui insentif yang paling efektif sesuai kondisi masyarakatnya.(CNN/hm02)

























