Perang AS-Iran Dongkrak Minyak US$95, Rupiah dan Obligasi RI Tertekan

Ilustrasi. (foto: AI/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menekan pasar keuangan Asia. Harga minyak mentah menembus US$95 per barel setelah Washington melancarkan serangan terbaru terhadap Iran, Rabu (2/9/2026).
Kondisi tersebut turut menekan rupiah dan pasar obligasi Indonesia di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Dilansir dari Kontan yang mengutip Reuters, rupiah dan dolar Taiwan masing-masing melemah sekitar 0,3%. Sementara baht Thailand turun 0,1% setelah sebelumnya menyentuh level terlemah sejak awal Agustus.
Tekanan lebih besar terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun melonjak 23,9 basis poin menjadi 7,229%.
Berdasarkan data LSEG, harga obligasi tenor 10 tahun Indonesia telah turun 7,6% sepanjang tahun ini. Sementara harga obligasi tenor sama milik Filipina tercatat merosot 23,6%.
Tekanan terhadap pasar surat utang terjadi seiring meningkatnya harga energi dan ekspektasi terhadap suku bunga global.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor lima tahun mencapai rekor 2,295%.
Peso Filipina Catat Rekor Terendah
Tekanan di pasar Asia paling terasa terhadap peso Filipina. Mata uang tersebut jatuh ke level terendah sepanjang sejarah di 62,652 per dolar AS.
Analis Maybank menilai peso masih berpotensi berada di bawah tekanan akibat posisi eksternal Filipina yang kurang menguntungkan dan tingkat suku bunga riil yang rendah.
"Harga minyak yang tinggi dan prospek peningkatan impor barang modal kemungkinan akan membebani mata uang," kata analis Maybank.
Aliran remitansi pekerja Filipina di luar negeri juga dinilai memberikan dukungan yang lebih terbatas. Pertumbuhan remitansi dari sejumlah negara sumber utama, seperti AS dan negara-negara Timur Tengah, cenderung moderat atau mulai melambat.
Indeks mata uang negara berkembang global MSCI turun 0,2%. Jika tren tersebut bertahan, indeks berpotensi mencatat kinerja harian terburuk dalam sebulan sekaligus mengakhiri penguatan selama 10 sesi berturut-turut.
Bursa Asia Ikut Tertekan
Tekanan juga melanda pasar saham negara berkembang Asia. Indeks MSCI untuk saham negara berkembang Asia turun 1,8% ke level terendah dalam lebih dari sepekan.
Indeks KOSPI Korea Selatan merosot 3,1%, sedangkan indeks saham acuan Taiwan turun 1,3%.
Pasar saham Indonesia melemah 0,2% setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Mei. Bursa Thailand turun 0,4%, sementara pasar saham Singapura dan Malaysia relatif bergerak datar.
Di Filipina, indeks saham juga turun sekitar 1% seiring tekanan terhadap peso.
Investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan dirilis Jumat (4/9/2026).
Data ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam memperkirakan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir September.
Jika data tenaga kerja AS menunjukkan ekonomi masih kuat, tekanan terhadap aset negara berkembang berpotensi berlanjut karena investor dapat kembali memperhitungkan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. (*)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER







Kasasi Dua Terdakwa Kasus Sabu 89,6 Kg Asal Aceh Ditolak, Vonis 20 Tahun-Penjara Seumur Hidup Inkrah















