WISATA GELAP! Saat Lokasi Tragedi, Penjara, dan Sarang Narkoba Jadi Buruan Turis

Pelarian dari penjara Alcatraz dianggap sebagai sesuatu yang nyaris mustahil.(foto: bbc.com/Getty Image)
Jakarta, MISTAR.ID (2/9/2026) – Bayangkan berlibur dengan mengunjungi kamp konsentrasi, penjara bersejarah, atau bahkan menyusuri jalur penyelundupan narkoba.
Itulah yang disebut dark tourism atau wisata gelap. Sebuah fenomena yang kini semakin populer di tengah industri pariwisata global.
Musim panas ini, Laureano Oubiña, salah satu gembong narkoba paling terkenal di Galicia, Spanyol, meluncurkan sebuah tur unik.
Wisatawan diajak naik kapal menyusuri muara Arousa, lokasi yang dulunya menjadi jalur penyelundupan. Oubiña sendiri yang bercerita, lengkap dengan makan siang.
Namun pemerintah daerah Galicia akhirnya melarang tur tersebut karena dinilai melanggar aturan kepariwisataan. Kasus Oubiña hanyalah satu contoh.
Dark tourism adalah aktivitas mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan kematian, kekerasan, tragedi, atau kejahatan.
Popularitasnya yang terus naik menimbulkan pertanyaan besar. Sejauh mana praktik ini bisa diterima?
Istilah dark tourism memiliki dua sisi. Secara komersial, ini adalah cara industri pariwisata menciptakan pengalaman baru untuk menarik wisatawan.
Secara sosial, ini menjadi perhatian akademisi, khususnya di bidang kriminologi budaya. Bidang ini mempelajari bagaimana masyarakat memahami kejahatan dan memandang kekerasan.
Tren ini sejalan dengan booming-nya genre true crime berupa serial, podcast, buku, hingga film. Keduanya mencerminkan rasa ingin tahu manusia terhadap sisi kelam kehidupan.
Di balik itu ada kebutuhan untuk mengenang, merefleksikan peristiwa, memahami penyebabnya, dan mencari makna dari sebuah tragedi.
Sebagian besar destinasi dark tourism berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Contohnya kamp konsentrasi Auschwitz, monumen peringatan, atau lokasi Perang Dunia II dan Perang Vietnam.
Ada pula kunjungan ke penjara bersejarah seperti Alcatraz. Namun wisata gelap tidak selalu ke tempat masa lalu. Beberapa tur justru membawa wisatawan ke kawasan perkotaan dengan tingkat kriminalitas tinggi.
Misalnya kawasan berbahaya di New York atau favela di Rio de Janeiro, Brasil. Tujuannya ada yang untuk menghilangkan stigma.
Di Mexico City, pemerintah menggelar "Tepitour" untuk menunjukkan sisi lain Tepito, kawasan yang dikenal sebagai basis kartel Unión Tepito.
Bahkan ada tur yang mengikuti jejak tokoh kriminal, seperti tur Pablo Escobar di Medellin, Kolombia.
Tentu saja, mengunjungi Auschwitz tidak dapat disamakan dengan tur jalan kaki di London yang menelusuri jejak Jack the Ripper.
Industri pariwisata mempromosikan dark tourism sebagai cara mendongkrak ekonomi daerah. Bagi situs bersejarah, wisata juga bisa meningkatkan kesadaran dan nilai edukasi masyarakat.
Namun persoalannya tidak sederhana. Banyak lokasi ini awalnya dibangun sebagai ruang untuk berduka dan mengenang. Melayani wisatawan bukanlah tujuan utamanya.
Risiko terbesarnya adalah hilangnya makna asli sebuah situs. Contohnya perilaku tidak menghormati seperti berswafoto di Auschwitz.
Kasus lain adalah Valle de los Caídos di Spanyol, bekas tempat peristirahatan jenazah diktator Francisco Franco, yang menyimpan sejarah kontroversial.
Hal yang tak kalah penting adalah menghormati para korban dan memperhatikan dampaknya terhadap warga lokal. Pemasaran yang berpotensi mengagungkan pelaku kejahatan juga menjadi masalah serius.
Karena itu, dark tourism harus dilakukan secara etis. Wisatawan perlu mendapat konteks sejarah yang benar, dan penghormatan kepada korban harus diutamakan.
Jika dikelola dengan baik, wisata gelap bisa menjadi sarana belajar dan refleksi atas tragedi yang meninggalkan luka mendalam.
Seperti kata kriminolog Prancis, Alexandre Lacassagne: "Setiap masyarakat mendapatkan kriminal yang layak diterimanya." Dengan logika yang sama, setiap masyarakat juga akan melahirkan bentuk dark tourism yang mencerminkan nilai dan prioritasnya.(cnn/hm02)























