Tuesday, September 1, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Sekolah Tanpa PR? Pendidikan Harus Berubah karena AI

Mistar.idSelasa, 1 September 2026 pukul 21.02 WIB
sekolah_tanpa_pr_pendidikan_harus_berubah_karena_ai

Sekolah Tanpa PR? Pendidikan Harus Berubah karena AI. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (1/9/2026) — Bayangkan seorang siswa mendapat tugas membuat esai untuk dikumpulkan keesokan pagi. Dulu, ia mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk membaca buku, mencari referensi, menyusun argumen, lalu menulisnya.

Kini, dengan bantuan artificial intelligence (AI) generatif, tugas serupa bisa menghasilkan jawaban dalam hitungan detik.

Pertanyaannya pun berubah.

Bukan lagi sekadar, “Bolehkah siswa menggunakan ChatGPT?”

Pertanyaan yang lebih besar justru, “Kalau AI bisa mengerjakan PR dalam 30 detik, untuk apa PR masih diberikan?”

Pertanyaan tersebut bukan berarti semua pekerjaan rumah harus dihapus dari sekolah. Namun, kemunculan AI generatif membuat cara lama dalam memberikan tugas layak dipertanyakan kembali.

UNESCO telah mengingatkan bahwa kemampuan AI menghasilkan tulisan dan menjawab sejumlah jenis ujian membuat dunia pendidikan perlu memikirkan kembali apa yang sebenarnya harus dipelajari siswa, sekaligus bagaimana proses belajar tersebut dinilai.

Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apakah siswa menggunakan AI atau tidak. Persoalannya adalah apakah sebuah tugas masih mampu mengukur kemampuan siswa ketika jawabannya dapat dibuat oleh mesin.

Ketika Jawaban Bukan Lagi Ukuran Utama

Selama bertahun-tahun, pekerjaan rumah menjadi salah satu cara guru memastikan siswa memahami materi.

Siswa diminta menjawab soal, membuat rangkuman, menulis esai atau mengerjakan latihan secara mandiri. Nilai kemudian diberikan berdasarkan jawaban yang dikumpulkan.

Namun AI mengubah situasi tersebut.

Jawaban yang rapi, tata bahasa yang baik, bahkan struktur argumentasi yang terlihat meyakinkan tidak selalu menunjukkan bahwa siswa benar-benar memahami materi.

Di sinilah sekolah menghadapi tantangan baru.

Tugas yang hanya meminta siswa menghasilkan jawaban standar akan semakin mudah dialihkan kepada AI. Sebaliknya, tugas yang meminta siswa menjelaskan proses berpikir, mempertahankan argumen, melakukan eksperimen atau mempresentasikan hasil pekerjaannya akan jauh lebih sulit digantikan begitu saja.

UNESCO dalam panduannya mengenai AI generatif di pendidikan menempatkan pendekatan yang berpusat pada manusia sebagai prinsip penting. Penggunaan AI, menurut UNESCO, perlu memperhatikan agensi manusia, inklusi, kesetaraan, keragaman budaya dan bahasa, serta keamanan dan privasi.

Maka, sekolah mungkin tidak perlu berlomba mencari cara agar siswa sama sekali tidak menyentuh AI.

Sekolah justru perlu mengajarkan kapan AI boleh digunakan, bagaimana memeriksa jawabannya, kapan siswa harus bekerja tanpa bantuan AI, dan bagaimana mempertanggungjawabkan hasil yang dibuat dengan bantuan teknologi tersebut.

Dari PR ke Proses Berpikir

Perubahan paling besar mungkin bukan pada jumlah pekerjaan rumah, melainkan pada bentuknya.

Tugas membuat lima halaman esai dapat berubah menjadi presentasi yang harus dipertahankan di depan kelas.

Soal dengan satu jawaban benar dapat berubah menjadi proyek penelitian sederhana.

Rangkuman buku dapat diganti dengan diskusi mengenai bagian yang paling kontroversial dari buku tersebut.

Siswa juga dapat diminta menggunakan AI untuk menghasilkan sebuah jawaban, kemudian mencari kesalahan, bias atau informasi yang tidak akurat dari jawaban tersebut.

Dengan model seperti ini, AI bukan menjadi mesin untuk menghindari proses belajar, tetapi justru menjadi objek yang harus dipahami dan dikritisi.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Students bahkan menetapkan 12 kompetensi dalam empat dimensi, yakni pola pikir yang berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI. Kompetensi tersebut dibangun melalui tiga tingkat perkembangan: memahami, menerapkan dan menciptakan.

Artinya, kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan mengetahui cara menulis perintah atau prompt.

Siswa juga harus mampu menilai hasil AI, memahami konsekuensi penggunaannya, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Guru Juga Harus Berubah

Perubahan ini tentu tidak hanya menjadi pekerjaan siswa.

Guru juga menghadapi pertanyaan baru: bagaimana memberikan tugas yang tetap relevan ketika teknologi mampu menghasilkan jawaban dalam waktu singkat?

Jawabannya mungkin terletak pada tugas yang lebih menekankan proses daripada produk akhir.

Guru dapat meminta siswa menunjukkan tahapan pengerjaan, menjelaskan alasan memilih suatu sumber, mempresentasikan temuannya, melakukan observasi langsung atau mempertahankan kesimpulan melalui diskusi.

Dengan begitu, yang dinilai bukan hanya apa jawaban siswa, tetapi bagaimana siswa sampai pada jawaban tersebut.

UNESCO juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas guru dan kebijakan yang memadai agar AI digunakan secara aman dan berpusat pada kepentingan peserta didik.

Jadi, Apakah Sekolah Harus Menghapus PR?

Belum tentu.

Yang mungkin perlu dihapus adalah anggapan bahwa semua pekerjaan rumah otomatis menghasilkan pembelajaran.

Jika sebuah tugas dapat diselesaikan AI dalam 30 detik dan siswa tidak perlu memahami proses di balik jawabannya, maka sekolah patut bertanya kembali apa tujuan tugas tersebut.

Sebaliknya, jika tugas membuat siswa membaca, mengamati, berdiskusi, bereksperimen, memecahkan masalah dan mempertanggungjawabkan pikirannya, AI justru tidak serta-merta membuat tugas tersebut kehilangan makna.

Karena itu, masa depan pendidikan mungkin bukan sekolah tanpa PR, melainkan sekolah dengan PR yang berbeda.

AI membuat jawaban menjadi semakin murah dan mudah diperoleh.

Justru karena itu, sesuatu yang menjadi mahal dalam pendidikan adalah kemampuan untuk berpikir, mempertanyakan, memverifikasi dan menjelaskan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar sekolah di era AI bukan mengajari siswa bagaimana mengalahkan mesin.

Tantangannya adalah memastikan siswa tetap memiliki kemampuan berpikir ketika mesin sudah mampu memberikan hampir semua jawaban.

(unesco/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN