Tuesday, September 1, 2026
home_banner_first
SUMUT

Kemarau Ancam Produksi Jagung Dairi, Hasil Panen Diprediksi Turun hingga 50 Persen

Mistar.idSelasa, 1 September 2026 pukul 14.50 WIB
kemarau_ancam_produksi_jagung_dairi_hasil_panen_diprediksi_turun_hingga_50_persen

Tanaman jagung warga Desa Sukandebi, Kecamatan Tigalingga, Dairi, terlihat mengerdil dan terancam gagal panen. (foto: Heppy Julius Manurung/Mistar)

news_banner

Dairi, MISTAR.ID - Kemarau yang berlangsung hampir dua bulan mengancam produksi jagung di sejumlah sentra pertanian Kabupaten Dairi. Petani memperkirakan hasil panen dapat turun hingga 50 persen akibat tanaman mengerdil, layu, hingga menghasilkan tongkol yang lebih kecil.

Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah penghasil jagung, antara lain Kecamatan Tigalingga, Tanah Pinem, Gunung Sitember, Silima Pungga-pungga, Siempat Nempu, dan Lae Parira.

Sejumlah petani yang ditemui Mistar, Selasa (1/9/2026), mengaku khawatir kemarau berkepanjangan akan berdampak besar terhadap hasil panen tahun ini.

Salah seorang petani di Kecamatan Tigalingga, bermarga Malau, mengatakan tanaman jagung yang ditanam sejak awal Juli kini telah memasuki masa pertumbuhan tongkol. Namun minimnya curah hujan menyebabkan kondisi tanaman tidak berkembang optimal.

Menurut dia, banyak tanaman jagung terlihat mengerdil dan layu. Ukuran tongkol juga lebih kecil dibandingkan kondisi normal. Petani pun memperkirakan hasil panen dapat menurun hingga 50 persen apabila kemarau terus berlangsung.

Camat Tigalingga, Saut Marganda Sinaga, membenarkan wilayahnya tengah mengalami kemarau yang berdampak terhadap tanaman jagung maupun komoditas pertanian lainnya.

"Hampir dua bulan tidak datang hujan. Hal ini sangat berdampak pada petani jagung atau tanaman lainnnya. Kondisi tanaman jagung bervariasi karena sebaran bibit yang berbeda waktu tanam. Ada usia 8 minggu, musim kemarau sangat berdampak pada kuantitas hasil panen nantinya," katanya.

Saut menyebut luas lahan jagung di Kecamatan Tigalingga mencapai sekitar 4.500 hektare yang tersebar di 14 desa.

Dalam kondisi normal, produktivitas jagung di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 6 hingga 7 ton per hektare. Sejumlah desa dengan produksi jagung cukup besar antara lain Lau Mil, Bertungen Julu, Lau Sireme, Sukan Debi, dan Palding.

Terkait perkiraan penurunan hasil panen hingga 50 persen, Saut mengaku telah menerima informasi serupa dari warga. Kondisi tersebut terutama dipicu kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Dairi, pada 2025 luas panen jagung tercatat 9.820 hektare dengan produksi mencapai 66.216,3 ton dalam satu musim tanam.

Masa tanam hingga panen jagung berlangsung sekitar empat hingga lima bulan. Karena itu, dampak kemarau terhadap produksi secara keseluruhan masih akan bergantung pada kondisi cuaca hingga masa panen mendatang. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN