Kopi Dairi Paling Diminati di Pasar Eropa dan Amerika Serikat

Tanaman kopi arabika di Desa Kalang Simbara, Kecamatan Sidikalang. (foto: manurung/mistar)
Dairi, MISTAR.ID - Kopi asal Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut), ternyata memiliki permintaan tinggi di pasar internasional. Eksportir kopi, PT Varion Sukses Makmur (VSM), menyebut sekitar 80 persen permintaan dari pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS) mengarah pada varian kopi Dairi.
Hal itu disampaikan Staf Pembelian PT VSM, Yoga, saat ditemui Mistar di tempat penampungan kopi, Jalan Sisingamangaraja, Sidikalang, Sabtu (29/8/2026).
Yoga mengatakan, PT VSM membeli kopi arabika dan robusta dari sejumlah daerah di Sumatera Utara, di antaranya Karo, Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, serta daerah lainnya.
Namun, kata dia, kopi asal Dairi memiliki permintaan yang cukup dominan di pasar internasional, khususnya Eropa dan AS.
“Sekitar 80 persen pasar internasional, seperti Eropa dan Amerika Serikat, mencari varian kopi Dairi. Untuk itu, kami berharap petani kopi Dairi dapat meningkatkan produksi dan kualitas agar mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional,” ujar Yoga.
Saat ini, volume pembelian kopi Dairi oleh PT VSM mencapai sekitar 25-50 ton per minggu dari para toke atau pengumpul. Harga pembelian berada di kisaran Rp54 ribu per kilogram ke atas, tergantung kadar air dan jenis kopi, seperti gabah, cherry, maupun salai.
Yoga menambahkan, PT VSM juga telah menggagas rencana pembangunan kebun percontohan atau demonstration plot (demplot) kopi arabika di Kecamatan Sumbul. Lokasi tersebut direncanakan berada di lahan dengan luas mencapai ribuan hektare.
“Rencana kebun kopi percontohan sekaligus produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional sudah digagas di daerah Sumbul,” katanya.
Di lokasi yang sama, salah seorang toke pengumpul kopi, Naek Nadapdap, mengatakan volume pembelian kopi saat ini mengalami penurunan cukup signifikan.
Dari empat kecamatan yang menjadi daerah pembelian, yakni Sidikalang, Sitinjo, Parbuluan, dan Sumbul, pihaknya saat ini hanya mampu mengumpulkan sekitar 12-15 ton kopi per minggu. Padahal, sebelumnya volume pembelian bisa mencapai lebih dari 30 ton per minggu.
Menurut Naek, kondisi tersebut berkaitan dengan siklus panen kopi. Panen besar biasanya berlangsung pada September hingga Desember. Sementara Januari hingga April merupakan periode sepi, sedangkan April hingga Agustus tergolong periode panen sedang.
Sementara itu, sejumlah petani kopi arabika di Sidikalang yang ditemui Mistar di sejumlah perladangan kopi, Senin (31/8/2026), mengakui produksi kopi saat ini mengalami penurunan.
Seorang petani bermarga Nababan mengatakan, penurunan produksi antara lain disebabkan berkurangnya perawatan tanaman serta banyaknya tanaman kopi yang sudah perlu diremajakan. “Kalau produksi kopi saat ini minus, faktornya ya perawatan yang berkurang, kemudian banyak tanaman yang harus diremajakan,” katanya.
























