Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Krisis Migran Ceuta, 50 Ribu Warga Spanyol Demo di Madrid

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 15.36 WIB
krisis_migran_ceuta_50_ribu_warga_spanyol_demo_di_madrid

Para demonstran berunjuk rasa mendukung Ceuta dalam peringatan hari jadi kota tersebut di wilayah enklave Spanyol di Ceuta, Rabu (2/9/2026). (foto: AP/Francis González)

news_banner

Ceuta, MISTAR.ID - Puluhan ribu warga turun ke jalan di berbagai kota di Spanyol, Rabu (2/9/2026), memprotes penanganan krisis migran di Ceuta yang telah berkembang menjadi krisis perbatasan terburuk negara itu dalam beberapa dekade terakhir.

Dilansir Associated Press (AP), Kamis (3/2/2026), aksi berlangsung bertepatan dengan hari jadi resmi Ceuta, wilayah kecil Spanyol di pesisir utara Afrika. Perayaan tahunan yang biasanya berlangsung sederhana kali ini berubah menjadi gelombang demonstrasi besar.

Di Madrid, sekitar 50.000 orang mengikuti aksi. Setelah demonstrasi berakhir, jurnalis Associated Press mendengar suara tembakan dan ledakan. El País melaporkan polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Aksi besar juga berlangsung di Barcelona, Valencia, dan Sevilla.

Sambil membawa bendera Spanyol, massa meneriakkan slogan dukungan untuk Ceuta sekaligus kritik terhadap Perdana Menteri Pedro Sánchez. Sebagian demonstran juga meneriakkan seruan agar para migran meninggalkan wilayah tersebut.

Krisis bermula pada akhir Juli, ketika sekitar 72.000 orang berenang, memanjat, maupun menerobos perbatasan menuju Ceuta dari wilayah Maroko. Sedikitnya 90 orang dilaporkan tewas dalam upaya mencapai wilayah Eropa tersebut.

Sebagian besar migran kemudian kembali atau dipulangkan ke Maroko. Namun, pemerintah Spanyol menyebut sekitar 5.000 orang masih bertahan di Ceuta, termasuk 1.200 anak di bawah umur.

Pemerintah daerah Ceuta memperkirakan jumlah migran yang masih berada di kota itu lebih banyak.

Lonjakan tersebut menimbulkan tekanan berat terhadap Ceuta yang hanya berpenduduk sekitar 84.000 jiwa. Sejumlah migran, termasuk anak-anak tanpa pendamping, masih tidur di jalan maupun mendirikan tenda di kawasan pantai.

Pemimpin regional Ceuta, Juan Jesús Vivas, menilai peristiwa tersebut tidak bisa semata-mata disebut sebagai krisis migrasi.

“Apa yang terjadi pada kami bukanlah krisis migrasi. Yang terjadi adalah pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol,” kata Vivas dalam acara peringatan hari jadi Ceuta.

Vivas merupakan anggota Partai Rakyat atau Popular Party (PP). Partai konservatif itu bersama Vox, yang berhaluan kanan, menjadikan krisis Ceuta sebagai salah satu isu utama untuk menekan pemerintahan Sánchez.

Aksi di Madrid dan lebih dari 200 kota serta wilayah lainnya secara resmi digelar Federasi Kota dan Provinsi Spanyol. Namun, demonstrasi juga mendapat dukungan kuat dari PP dan Vox.

Menteri Kebijakan Teritorial Spanyol Ángel Víctor Torres menilai demonstrasi tersebut sarat kepentingan politik.

“Ini bukan untuk menunjukkan dukungan kepada Kota Ceuta atau penduduknya. Ini untuk menyerang pemerintah Spanyol,” ujarnya.

Pemerintah pusat membantah telah mengabaikan Ceuta. Madrid pekan ini mengalokasikan 309 juta euro atau sekitar US$357 juta untuk memperkuat layanan sosial, penampungan migran, perekonomian, dan keamanan.

Di tengah tekanan politik, muncul pula pertanyaan mengenai peran Maroko dalam mencegah gelombang penyeberangan massal tersebut.

Namun Sánchez membela otoritas Maroko dan mengatakan negara tetangga itu telah membantu pemulangan sebagian besar migran.

Ia juga menyebut tidak ada informasi dari badan intelijen Spanyol yang menunjukkan keterlibatan pemerintah Maroko dalam insiden tersebut.

Sánchez menilai kesalahan penafsiran terhadap putusan Mahkamah Agung serta penyebaran disinformasi di media sosial ikut mendorong ribuan orang menyerbu perbatasan pada 30 dan 31 Juli.

Ia juga menuduh akun media sosial yang terkait dengan Rusia, Israel, serta kelompok sayap kanan ikut mengeksploitasi dan memperbesar krisis tersebut.

Rusia dan Israel membantah tudingan itu.

Pemerintah Spanyol sejauh ini belum membeberkan bukti rinci mengenai dugaan kampanye disinformasi tersebut dan hanya merujuk laporan internal Kementerian Luar Negeri serta layanan diplomatik Komisi Eropa.

Sementara itu, kondisi di Ceuta belum sepenuhnya kembali normal.

Sejumlah migran masih bertahan di Pantai El Trampolín dan kawasan lain sambil menunggu kepastian mengenai nasib mereka.

“Kami menderita dan ingin pergi ke Eropa atau mendapatkan solusi sekarang. Kami semua tidur di pantai dan mengalami kondisi yang sangat sulit,” kata migran asal Maroko, Nebil Tazi.

Vivas mendesak pemerintah pusat memperkuat perbatasan dengan Maroko dan tidak hanya mengandalkan kerja sama dengan negara tersebut.

Para migran berada di dekat tenda-tenda mereka di Pantai El Trampolín, wilayah enklave Spanyol di Ceuta, Rabu (2/9/2026). (foto: AP/Francis González)

“Jika kita tidak melakukan ini, akan selalu ada pihak yang tergoda menggunakan migrasi sebagai alat untuk tujuan politik,” katanya.

Sánchez dalam pesan video mengatakan pemerintah telah mengerahkan seluruh sumber daya agar kehidupan warga Ceuta dapat kembali normal.

Hari jadi Ceuta diperingati setiap 2 September, merujuk pada kedatangan gubernur Portugis pertama pada 1415, beberapa pekan setelah pasukan Portugal menguasai wilayah tersebut. Ceuta kemudian berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN