New York City Larang Siswa SD-SMP Gunakan AI Selama Setahun

Wali Kota New York Zohran Mamdani berbicara dalam pertemuan tahunan Dewan Pengawas Keuangan Negara Bagian New York, 12 Agustus 2026, di New York. (foto: AP/Yuki Iwamura)
New York, MISTAR.ID - Pemerintah New York City akan melarang sementara penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif bagi siswa sekolah dasar hingga kelas delapan selama satu tahun ajaran.
Kebijakan itu ditempuh di tengah kekhawatiran siswa terlalu bergantung pada teknologi tersebut dalam proses belajar, termasuk potensi penggunaannya untuk berbuat curang.
Dilansir Associated Press (AP), Kamis (3/9/2026), Wali Kota New York City Zohran Mamdani mengatakan moratorium tersebut menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh mengenai bagaimana anak-anak di sistem sekolah terbesar di Amerika Serikat berinteraksi dengan AI.
Larangan berlaku terhadap seluruh perangkat lunak AI generatif yang berinteraksi langsung dengan siswa hingga kelas delapan. Kantor wali kota menyebutnya sebagai kebijakan larangan AI paling luas yang diterapkan di Amerika Serikat.
“Setiap hari ketika anak-anak kita datang ke sekolah, kita mengajarkan mereka untuk bertanya, menantang asumsi, menguji premis, dan bertanya mengapa. Dalam hal AI di sekolah kita, kita memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang sama,” kata Mamdani dalam konferensi pers, Rabu.
Meski membatasi penggunaannya bagi siswa yang lebih muda, New York tidak sepenuhnya menjauhkan AI dari lingkungan sekolah.
Seluruh siswa SMA negeri akan mengikuti kelas literasi AI dua kali setahun. Pemerintah kota juga akan menggelar program percontohan yang memungkinkan sebagian siswa SMA menggunakan sejumlah platform AI di bawah pengawasan pendidik.
Namun, chatbot pendamping akan dilarang untuk seluruh jenjang pendidikan.
Guru tetap diperbolehkan menggunakan AI untuk menyusun rencana pembelajaran maupun membantu pekerjaan operasional.
Selain AI, pemerintah New York City juga akan merekomendasikan pembatasan waktu penggunaan layar bagi siswa.
Siswa kelas tiga hingga lima disarankan menggunakan layar maksimal 30 menit per hari, sedangkan siswa kelas enam hingga delapan maksimal 45 menit.
Pejabat pendidikan juga akan meninjau seluruh perangkat teknologi yang digunakan di sekolah dan menghapus produk yang dinilai tidak penting bagi proses pembelajaran.
Kebijakan ini muncul ketika sekolah-sekolah di Amerika Serikat masih mencari titik keseimbangan antara memanfaatkan AI sebagai alat belajar dan mencegah siswa terlalu bergantung pada teknologi tersebut.
Sedikitnya 37 negara bagian telah memiliki panduan resmi mengenai AI untuk sekolah. Namun, belum ada definisi tunggal mengenai literasi AI ataupun kesepakatan mengenai cara terbaik mengajarkannya.
Negara bagian New York sebelumnya juga telah menyetujui larangan penggunaan telepon seluler oleh siswa di sekolah.
Langkah serupa dilakukan Los Angeles Unified School District (LAUSD), distrik sekolah terbesar kedua di Amerika Serikat.
LAUSD mengatakan larangan AI akan tetap berlaku selama pejabat pendidikan menyusun kebijakan penggunaan teknologi tersebut oleh siswa.
Pada Juni, LAUSD juga menjadi distrik sekolah besar pertama yang menghentikan penggunaan perangkat sekolah bagi siswa termuda sebagai bagian dari kebijakan pembatasan waktu layar.
Perangkat dilarang untuk siswa sebelum kelas dua, sementara batas waktu layar diberlakukan bagi seluruh jenjang. YouTube dan sejumlah situs media sosial juga diblokir selama jam sekolah.
Presiden United Federation of Teachers New York, Michael Mulgrew, menyambut pembatasan waktu layar tersebut. Namun, ia menilai kebijakan AI pemerintah kota masih menyisakan banyak pertanyaan.
Salah satunya menyangkut bagaimana Departemen Pendidikan memastikan produk teknologi yang dibeli sekolah memiliki perlindungan memadai terkait penggunaan AI.
Kritik juga datang dari Direktur Eksekutif kelompok advokasi anak Fairplay, Josh Golin.
Ia menilai moratorium selama satu tahun belum cukup untuk mengevaluasi dampak AI terhadap anak-anak.
“Waktu satu tahun untuk melakukan evaluasi sama sekali tidak cukup,” katanya.
Menurut Golin, perusahaan pengembang AI seharusnya terlebih dahulu membuktikan bahwa produk mereka efektif untuk membantu pembelajaran, aman bagi anak-anak, tidak menggantikan interaksi tatap muka, serta tidak mendorong praktik kecurangan secara luas.
Siswa sekolah negeri New York City dijadwalkan kembali masuk kelas pada pekan depan. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Wajah Trump Akhirnya Muncul di Koin 1 Dolar AS


























