Harga Sayur di Pematangsiantar Melonjak, Erupsi Sinabung Bukan Satu-satunya Penyebab

Sayur-mayur yang diperjualbelikan di Pasar Dwikora. (foto:abdi/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/9/2026) - Harga sayur di Pematangsiantar akhir-akhir ini benar-benar bikin kepala pusing, terutama buat warga yang setiap hari belanja ke pasar tradisional. Banyak orang langsung menuding erupsi Gunung Sinabung sebagai penyebabnya. Tapi, masalahnya ternyata tidak sesederhana itu. Lonjakan harga ini terjadi karena banyak faktor, mulai dari cuaca yang tidak bersahabat sampai permintaan pasar yang makin tinggi.
Darwin Damanik, pengamat ekonomi dari Universitas Simalungun, mengatakan kalau erupsi Sinabung memang berpengaruh setidaknya secara psikologis dan teknis, apalagi buat pasokan dari daerah dekat gunung itu. Tapi, situasi Sinabung sekarang katanya sudah tidak seheboh beberapa tahun lalu.
“Gangguan dari erupsi itu sifatnya sementara, cuma berpengaruh buat area bencana saja. Jadi, bukan itu yang bikin harga sayur tiap tahun melonjak di Siantar. Kecuali nanti erupsinya makin sering dan parah, baru itu bisa jadi faktor utama,” ujar Darwin waktu diwawancarai Mistar.id, Kamis (3/9/2026).
Dia juga menjelaskan, harga buncis, wortel, cabai, sama timun yang sedang naik gila-gilaan, malah lebih banyak disebabkan cuaca ekstrem di sentra produksi seperti Karo, Simalungun, dan Toba. Kalau hujan tidak berhenti atau malah kemarau panjang, petani susah panen karena banyak tanaman busuk dan gagal tumbuh.
Masalah lain, rantai distribusi yang tidak lancar bikin stok dari petani tidak cukup buat menutupi kebutuhan pasar. Permintaan naik gara-gara program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang langsung menyedot sayur besar-besaran dari petani.
“Stok terbatas, permintaan meningkat, ya sudah, hukum pasar main. Harga pasti naik,” kata Darwin lagi.
Dalam kondisi seperti ini, Darwin menyuruh Pemkot Pematangsiantar bareng Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) supaya tidak cuma kasih imbauan, tapi turun ke lapangan ambil tindakan nyata.
Beberapa langkah yang menurut Darwin perlu dilakukan, misalnya:
- Kerja Sama Antardaerah (KAD): Buka jalur pasokan langsung dari wilayah yang panennya sedang melimpah (misal Simalungun atau Toba) ke pasar Siantar, biar tidak kebanyakan perantara.
- Sidak dan pemantauan rutin: Pantau harga di Pasar Horas sama Pasar Dwikora biar tidak ada yang mainkan harga atau menimbun stok.
- Subsidi angkutan: Bantu biaya logistik dari sentra penghasil langsung ke pasar supaya pedagang tidak keteteran biaya transportasi.
Soal Gerakan Pasar Murah (GPM), Darwin mengatakan langkah itu lumayan oke buat jangka pendek, biar warga tidak panik.
“Pasar murah itu cocok buat solusi cepat. Tapi, kalau mau pengaruhnya lebih lama, pemerintah juga harus potong jalur distribusi, pastikan pupuk tersedia, serta kasih asuransi pertanian buat petani yang pasok sayur ke Siantar saat cuaca sedang buruk,” tutup Darwin. (hm27)


























