Fenomena Shrinkflation di Medan, Ukuran Barang Mengecil dan Stok Mulai Langka

Ilustrasi produk detergen dan sabun kemasan sachet yang dipajang di sebuah toko kelontong. (foto: gemini/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Fenomena ekonomi yang mengkhawatirkan mulai membayangi pasar tradisional dan ritel di Sumatera Utara. Lonjakan harga plastik yang tidak terkendali kini memicu terjadinya shrinkflation, sebuah kondisi di mana harga barang di label tetap sama, namun kuantitas atau ukuran di dalamnya menyusut.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan dampak kenaikan harga kemasan plastik kini telah merambah ke kebutuhan dasar rumah tangga, bahkan menyebabkan beberapa produk mulai hilang dari peredaran.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah pedagang mulai mengeluhkan pasokan barang-barang dalam kemasan kecil atau sachet.
"Beberapa produk kebutuhan kamar mandi dan pakaian seperti pewangi, detergen, sabun, hingga kebutuhan rumah tangga ukuran sachet dikeluhkan pasokannya oleh pedagang," ujarnya, Senin (20/4/2026).
Gunawan menilai ini adalah dampak dari harga bahan baku plastik yang naik dan langka, sehingga produsen melakukan shrinkflation harga tetap tapi isi berkurangatau bahkan menahan produksi.
Situasi ini membuat masyarakat, khususnya kelas bawah yang bergantung pada produk eceran, akan kesulitan mendapatkan barang-barang tersebut di pasar.
Plastik merupakan komponen dasar bagi hampir seluruh industri modern. Gunawan memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor yang lebih masif.
Di sektor pangan, berdampak pada jajanan anak-anak dan industri air mineral dalam kemasan. Sektor industri berdampak pada komponen otomotif yang banyak menggunakan unsur plastik. Logistik berdampak pada kenaikan harga kemasan akan memicu inflasi di seluruh rantai pasok.
Lonjakan harga dan terganggunya pasokan plastik ini berkaitan erat dengan konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah, yang merupakan pusat produksi bahan baku petrokimia dunia.
"Produsen saat ini sedang diposisi sulit. Mereka lebih memilih menahan beban kenaikan harga atau mengurangi kuantitas daripada menaikkan harga jual secara langsung. Namun, kebijakan ini tidak akan bertahan lama. Jika geopolitik tidak membaik, rawan memicu terhentinya operasional banyak industri," ucap Gunawan.
Menurut Gunawan, plastik bukan sekadar alat bungkus, melainkan variabel penentu ketersediaan barang. Kenaikan harga plastik yang ekstrem berpeluang memicu inflasi tinggi sekaligus kelangkaan barang (skarsitas).
Jika produsen sudah tidak sanggup menahan beban produksi akibat harga plastik yang melambung, maka pilihan terakhir adalah menaikkan harga secara signifikan atau menghentikan produksi sementara. Hal ini tentu akan memberikan tekanan besar pada sektor usaha di Sumatera Utara dan mengganggu stabilitas ekonomi daerah.
PREVIOUS ARTICLE
IHSG Melemah ke Level 7.594 Awali Pekan























