Friday, July 24, 2026
home_banner_first
SUMUT

Masinton Paparkan Solusi Penanganan Banjir di Tapteng

Mistar.idSabtu, 25 Juli 2026 pukul 06.30 WIB
masinton_paparkan_solusi_penanganan_banjir_di_tapteng

Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, memaparkan kondisi kerusakan perbukitan di Tapteng serta solusi penanganan banjir. (Foto: Feliks/Mistar)

news_banner

Tapteng, MISTAR.ID - Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu, mengatakan banjir berulang yang melanda wilayah Kecamatan Tukka pada Sabtu (18/7/2026) lalu disebabkan adanya pendangkalan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan tersebut.

Menurutnya, pendangkalan itu terjadi akibat banyaknya sedimen berupa lumpur, pasir, dan batu yang terus-menerus terbawa dari hulu sungai. Kondisi tersebut diperparah karena tidak adanya lagi penahan alami akibat erosi.

Ia menjelaskan, bukan hanya faktor curah hujan yang menyebabkan banjir. Sedimen dari hulu tetap turun setiap hari dalam jumlah ratusan meter kubik sehingga menyebabkan pendangkalan. Saat musim hujan tiba, volume sedimen dipastikan meningkat hingga ribuan meter kubik dan memicu banjir berulang.

"Upaya pengerukan sungai memang salah satu solusi mengatasi permasalahan pendangkalan DAS itu, namun itu hanya solusi sementara karena besoknya juga sedimen itu akan datang lagi, pendangkalan terjadi lagi, dan banjir lagi," ujar Masinton kepada Mistar, di ruang kerjanya, Jumat (24/7/2026).

Ia menegaskan kerusakan alam di bagian hulu sudah sangat parah sejak bencana banjir bandang pada November 2025 lalu. Menurutnya, kondisi perbukitan kini menyerupai "cakaran ayam" akibat longsor dan erosi.

Masinton kemudian menunjukkan gambar dari Google Maps terkait kondisi Tapteng pascabencana November 2025 kepada wartawan Mistar. Dalam gambar tersebut tampak perbukitan di atas permukiman warga di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, dan Kelurahan Sipange telah rusak sehingga saat hujan turun, kawasan permukiman dengan mudah tergenang banjir.

"Solusinya yang kita lakukan untuk menahan sedimen yang turun dari hulu sungai adalah hanya dengan cara merawat alam. Alam sudah murka, maka itu perlu ada tindakan dinding penahan sedimen itu yang dari alam juga," katanya.

Masinton mengatakan, pihaknya telah merancang penanganan banjir sekaligus memperbaiki kondisi alam dengan menggerakkan gotong royong membuat ribuan titik pancang bambu di kawasan perbukitan yang mengalami longsor.

Pancang bambu tersebut nantinya diharapkan menjadi penahan sedimen berupa lumpur, tanah, dan bebatuan yang turun dari bagian hulu.

Ia menjelaskan, pancang bambu dibuat berjajar dan dapat diisi batu, ijuk pohon aren, atau sabut kelapa sehingga menyerupai bronjong. Selain menjadi penahan sedimen, bambu tersebut nantinya juga akan tumbuh secara alami.

Dari laptop yang tersambung ke televisi layar lebar, Masinton memaparkan bahwa banjir bukan hanya disebabkan oleh tingginya volume air, melainkan juga oleh partikel sedimen berupa tanah berlumpur dan bebatuan yang tergerus dari perbukitan akibat hujan. Kondisi itu membuat debit air tampak semakin besar.

"Timbunan tanah dan lumpur yang awalnya sudah dibersihkan dari DAS dan di sekitar permukiman di Kecamatan Tukka kembali tertimbun sedimen. Bahkan tanggul jebol akibat sedimen menumpuk sehingga air meluber dari atas," katanya.

Masinton menilai, bahkan PT WIKA (Persero) selaku pelaksana penanganan DAS pascabencana yang ditunjuk pemerintah pusat pun tidak bisa berbuat banyak. Selain menjalankan pekerjaan sesuai perencanaan, perusahaan juga harus mengantisipasi apabila terjadi hujan deras.

"Lihat itu saat peristiwa banjir tanggal 18, Sabo Dam yang dibangun turut tertimbun sedimen. Maaf, kalau memang ada pawang hujan yang bisa menghentikan hujan, PT WIKA pun kurasa akan membayarnya mahal itu. Namun tidak ada, dan belum pernah ada sepanjang peradaban manusia. Atau kalau ada yang tahu, coba sampaikan," ucapnya.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN