Tuesday, September 8, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Bansos September 2026 Cair, Ekonom Ungkap Alasan Sulit Ditabung dan Tak Cukup Atasi Kemiskinan

Mistar.idSelasa, 8 September 2026 pukul 12.13 WIB
bansos_september_2026_cair_ekonom_ungkap_alasan_sulit_ditabung_dan_tak_cukup_atasi_kemiskinan

Ilustrasi Bansos September 2026 (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Penyaluran sejumlah bantuan sosial (bansos) pemerintah tahap ketiga kembali berlangsung pada September 2026. Bagi keluarga penerima manfaat, bantuan tersebut menjadi penopang penting untuk memenuhi kebutuhan di tengah tekanan ekonomi.

Namun, ada persoalan yang lebih besar di balik penyaluran bansos: apakah bantuan yang diterima masyarakat cukup untuk disisihkan sebagai tabungan dan menjadi modal menghadapi kondisi darurat?

Ekonom menilai jawabannya tidak sesederhana mendorong penerima bansos agar menyimpan sebagian uang bantuan. Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, dana yang diterima sering kali langsung terserap untuk kebutuhan paling mendasar.

Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengatakan bansos pada dasarnya memiliki fungsi yang beragam. Bantuan dapat menjadi jaring pengaman dalam jangka pendek, menjaga daya beli ketika terjadi guncangan ekonomi, maupun mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Untuk bantuan yang memang ditujukan memenuhi kebutuhan dasar, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), atau bantuan pangan, penggunaan dana untuk konsumsi bukan sesuatu yang otomatis keliru.

"Sehingga menabung bukan pilihan realistis dan bansos yang diberikan memang harus segera dipakai untuk makan, mencukupi kebutuhan kesehatan, atau pendidikan anak," ujar Suhindarto kepada Kompas.com, Senin (7/9/2026).

Kenapa Dana Bansos Sulit Ditabung?

Persoalannya terletak pada kondisi ekonomi keluarga penerima. Sebagian besar penerima bansos berada pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan paling rendah.

Dalam kondisi ketika penghasilan hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari, tambahan bansos akan lebih mungkin digunakan untuk membeli makanan, membayar kebutuhan kesehatan, biaya pendidikan, atau pengeluaran rumah tangga lainnya.

Nominal bantuan yang relatif terbatas juga membuat ruang untuk menabung menjadi semakin sempit.

Suhindarto menjelaskan bahwa rumah tangga miskin umumnya menghadapi kondisi ketika pemasukan dan pengeluaran berada sangat dekat. Bahkan, pengeluaran dapat lebih besar dibandingkan pendapatan yang tersedia.

Karena itu, mengharapkan penerima menyimpan dana bantuan tanpa memperhitungkan kondisi tersebut justru berisiko membuat kebutuhan dasar dikorbankan.

Bansos Bisa Jadi Bantalan Saat Ekonomi Terguncang

Fungsi lain bansos adalah memberikan perlindungan ketika rumah tangga mengalami guncangan ekonomi.

Dalam kondisi seperti kehilangan pekerjaan, anggota keluarga sakit, atau terkena bencana, bantuan dapat menjaga agar daya beli tidak jatuh secara tiba-tiba.

Idealnya, bantalan tersebut membuat keluarga tidak perlu menjual aset produktif yang menjadi sumber penghasilan, seperti alat kerja, ternak, atau tanah.

Jika kebutuhan pokok masih terpenuhi, sebagian dana bantuan memang dapat dialihkan menjadi simpanan. Namun, kondisi setiap keluarga berbeda sehingga menabung bukan selalu pilihan yang tersedia.

Masalah muncul ketika seluruh dana habis untuk konsumsi. Rumah tangga memang dapat menjadi lebih stabil dalam jangka pendek, tetapi tetap rentan ketika menghadapi kebutuhan mendadak.

Tanpa dana cadangan, satu kejadian seperti kehilangan pekerjaan atau biaya pengobatan dapat kembali mendorong keluarga ke kondisi ekonomi yang lebih berat.

PKH Diharapkan Putus Rantai Kemiskinan

Berbeda dengan bantuan yang fokus pada kebutuhan sehari-hari, sebagian program sosial pemerintah memiliki tujuan jangka panjang, terutama meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

PKH menjadi salah satu contoh bantuan dengan pendekatan tersebut. Penerima memiliki kewajiban tertentu, seperti memastikan anak tetap bersekolah atau ibu hamil memperoleh pemeriksaan kesehatan.

Dengan desain seperti itu, bantuan tidak hanya diarahkan untuk konsumsi saat ini. Ada tujuan yang lebih panjang, yakni meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan keluarga sehingga dapat membantu memutus rantai kemiskinan antar-generasi.

"Sehingga memang dengan begitu, pemberian bantuan akan lebih banyak digunakan bukan untuk konsumsi hari ini saja, tapi harapannya bisa menjadi tabungan untuk memutus siklus kemiskinan antar-generasi," jelas Suhindarto.

Jangan Paksa Keluarga Miskin Menabung dari Bantuan Kecil

Menurut Suhindarto, kebijakan untuk mendorong masyarakat miskin menabung perlu dirancang secara hati-hati.

Sejumlah kajian di negara berkembang menunjukkan bahwa insentif menabung lebih mungkin berhasil apabila nilai bantuan cukup besar dan didukung literasi keuangan atau mekanisme tabungan tertentu.

Artinya, persoalannya bukan sekadar meminta penerima menyimpan uang bansos.

Memaksa keluarga dengan kebutuhan dasar yang belum terpenuhi untuk menabung justru dapat menghasilkan efek sebaliknya. Mereka mungkin mengurangi belanja makanan bergizi, kesehatan, atau kebutuhan penting lainnya demi memenuhi target tabungan.

Karena itu, desain bantuan menjadi faktor penting. Pemerintah dapat menggabungkan bantuan tunai dengan pelatihan, akses pembiayaan, pengembangan usaha, maupun tabungan berjangka.

Bansos Bisa Diubah Menjadi Jalan Menuju Kemandirian

Salah satu skema yang dapat dikembangkan adalah memberikan sebagian bantuan dalam bentuk tabungan berjangka yang hanya dapat dicairkan pada periode atau kondisi tertentu.

Dengan model tersebut, kebutuhan sehari-hari tetap memperoleh dukungan, sementara sebagian dana disiapkan untuk tujuan jangka menengah.

Pemerintah juga dapat menghubungkan bantuan dengan program pemberdayaan ekonomi. Misalnya, penerima memperoleh pelatihan keterampilan sekaligus akses modal untuk membangun usaha.

Tujuannya jelas: ketika bantuan tunai akhirnya dihentikan, keluarga tidak kembali ke titik awal karena sudah memiliki sumber pendapatan yang lebih mandiri.

Dengan demikian, bansos tidak berhenti sebagai uang yang habis dikonsumsi, tetapi menjadi jembatan menuju peningkatan kapasitas ekonomi penerima.

Ekonom: Bansos Tak Bisa Sendirian Menghapus Kemiskinan

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai bansos memang berperan sebagai penyangga ekonomi masyarakat. Namun, bantuan sosial bukan solusi tunggal untuk menghapus kemiskinan.

"Tetapi tidak akan mengatasi pengentasan kemiskinan karena di Indonesia sifat kemiskinannya struktural," kata Esther.

Menurut dia, persoalan kemiskinan membutuhkan akses terhadap pekerjaan yang lebih baik. Pendidikan juga menjadi faktor penting karena dapat memperbesar peluang masyarakat memperoleh pekerjaan dengan pendapatan lebih tinggi.

Struktur pengeluaran masyarakat berpendapatan rendah turut menjelaskan mengapa tabungan sulit terbentuk.

Ketika sebagian besar pendapatan sudah terserap untuk makanan dan kebutuhan transportasi, ruang untuk menyimpan uang menjadi sangat terbatas.

Kondisi tersebut sejalan dengan Hukum Engel dalam ekonomi: semakin rendah pendapatan rumah tangga, semakin besar proporsi pendapatan yang harus dialokasikan untuk kebutuhan makanan.

Sebaliknya, ketika pendapatan meningkat, porsi pengeluaran untuk makanan cenderung menurun sehingga ruang untuk kebutuhan lain, termasuk tabungan, menjadi lebih besar.

Bansos Tahap 3 Masih Disalurkan September 2026

Pada September 2026, sejumlah program bansos tahap ketiga masih memasuki periode penyaluran. Periode tahap ketiga mencakup Juli, Agustus, dan September.

Beberapa bantuan yang masih disalurkan antara lain:

  1. Program Keluarga Harapan (PKH)
  2. Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau bansos sembako
  3. Bantuan pangan beras
  4. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JK)

Penetapan penerima mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang telah terintegrasi dengan data kependudukan berbasis NIK.

Karena data terus diperbarui, status penerima bantuan dapat berubah mengikuti hasil pemutakhiran data.

Pada akhirnya, persoalan bansos bukan semata soal berapa banyak uang yang diterima dan apakah uang tersebut ditabung. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana bantuan yang bersifat sementara dapat menjadi pijakan bagi keluarga miskin untuk membangun pendapatan yang lebih kuat, memiliki aset produktif, dan akhirnya tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN