Tuesday, September 8, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Sayuran Terkena Abu Vulkanik Tak Harus Dibuang, Ini Cara Membersihkannya

Mistar.idSelasa, 8 September 2026 pukul 07.00 WIB
sayuran_terkena_abu_vulkanik_tak_harus_dibuang_ini_cara_membersihkannya

Ilustrasi. (Foto: Antara Foto)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Sayuran yang terkena abu vulkanik setelah erupsi gunung api tidak otomatis harus dibuang. Sayuran masih dapat dikonsumsi apabila abu hanya menempel di permukaan dan telah dicuci menggunakan air bersih sebelum dimakan.

Melansir United States Geological Survey (USGS), sayuran dari kebun yang terkena abu vulkanik masih dapat dikonsumsi setelah dicuci terlebih dahulu. Namun, tingkat keamanannya bergantung pada jumlah abu yang menempel, jenis tanaman, karakter abu, hingga kemungkinan adanya zat tertentu yang terserap tanaman.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebaran hujan abu yang cukup luas. Sejumlah wilayah terkena paparan hujan abu vulkanik, seperti Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta hingga Jawa Barat.

Embusan angin juga membuat paparan abu vulkanik dapat mengenai berbagai benda, termasuk sayuran.

Pada kondisi ketika abu hanya menempel di permukaan sayuran, langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membersihkannya menggunakan air bersih. USGS secara khusus menyarankan sayuran dari kebun yang terkena abu untuk dicuci sebelum dikonsumsi.

Dampak abu terhadap tanaman dapat berbeda-beda, tergantung ketebalan abu, jenis tanaman, kondisi pertumbuhan, hingga kandungan fluorida yang dapat larut dari abu.

Jenis sayuran juga berpengaruh. Mengutip penelitian dari Geosciences & Environment, respons tanaman terhadap abu vulkanik dapat berbeda.

Dalam studi tersebut, peneliti menguji selada, kubis, bawang dan wortel dengan paparan abu vulkanik buatan sebanyak 5-40 kilogram per meter persegi. Hasilnya, semakin banyak abu yang menumpuk, semakin besar pula kehilangan produksi tanaman.

Selada dan kubis juga mengalami dampak lebih besar dibandingkan bawang dan wortel. Salah satu alasannya berkaitan dengan bentuk tanaman. Daun selada dan kubis memiliki permukaan lebih banyak untuk menangkap dan menahan abu.

Artinya, sayuran berdaun dan sayuran yang bagian makannya berada di permukaan tanah dapat menghadapi paparan abu dengan cara berbeda dibandingkan tanaman umbi.

Persoalan lain muncul jika abu vulkanik membawa unsur kimia tertentu. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), abu dan gas dari erupsi gunung api dapat mengandung zat yang berpotensi berbahaya, termasuk fluorida, logam berat dan senyawa sulfur.

Karena itu, kontaminasi makanan dan tanaman menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah bencana vulkanik.

Ada perbedaan antara abu yang sekadar menempel di permukaan dan unsur yang sudah masuk ke lingkungan tempat tanaman tumbuh.

Jika hanya menempel di permukaan, pencucian dapat membantu menghilangkannya. Namun, jika tanah atau tanaman sudah terpapar unsur tertentu dalam jumlah tinggi, mencuci permukaan sayuran tidak otomatis menghilangkan zat yang sudah terserap.

Jika Sayuran di Rumah Terkena Abu

Jika abu hanya menempel tipis pada sayuran, masyarakat tidak perlu langsung membuangnya. Sayuran dapat dipisahkan, kemudian bagian yang rusak atau sangat kotor dibuang sebelum dicuci menggunakan air bersih.

USGS juga menyatakan sayuran dari kebun yang terkena abu dapat dimakan setelah dicuci. Masyarakat tidak disarankan menggunakan sabun atau deterjen untuk mencuci sayuran.

Yang perlu dilakukan adalah menghilangkan partikel abu dari permukaan menggunakan air bersih.

Namun, jika sayuran tertutup abu dalam jumlah sangat banyak, berada sangat dekat dengan sumber erupsi, atau terdapat informasi dari otoritas setempat mengenai kontaminasi bahan pangan, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan pencucian.

Sebab, yang menentukan keamanan bukan sekadar apakah sayuran masih terlihat segar atau sudah bersih, tetapi juga apa yang terkandung dalam abu dan seberapa jauh paparan tersebut memengaruhi tanaman. (hm25/CNN Indonesia)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN