Monday, September 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Mulai Bangkit, Benarkah Bursa Siap Balik ke Level 7.000? Ini Sinyalnya

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 10.31 WIB
ihsg_mulai_bangkit_benarkah_bursa_siap_balik_ke_level_7000_ini_sinyalnya

IHSG Mulai Bangkit, Benarkah Bursa Siap Balik ke Level 7.000? Ini Sinyalnya. (foto ilustrasi:nanobanana2/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/9/2026) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah melewati periode penuh tekanan. Indeks berhasil kembali bertahan di level 6.600-an, sementara investor asing mulai mencatatkan arus dana masuk ke pasar saham Indonesia.

Pada perdagangan Jumat (4/9/2026), IHSG ditutup di level 6.636, meski terkoreksi 0,47% pada hari tersebut. Secara mingguan, indeks masih mencatat penguatan sekitar 1,82%.

Yang membuat pasar mulai optimistis adalah munculnya kembali aliran dana asing. Sepanjang pekan 31 Agustus–4 September, investor asing tercatat membukukan net inflow sekitar Rp2,306 triliun di seluruh pasar dan Rp1,608 triliun di pasar reguler.

Namun, apakah kondisi tersebut cukup untuk membawa IHSG kembali ke level psikologis 7.000?

Jawabannya belum sesederhana itu.

IHSG 6.600-an, Level Mana yang Wajib Dipantau?

Area 6.600 kini menjadi medan penting bagi IHSG.

Sejumlah analis melihat indeks masih memiliki peluang melanjutkan penguatan, tetapi ruang geraknya diperkirakan belum lepas dari fase konsolidasi. Untuk perdagangan Senin (7/9), Kiwoom Sekuritas menempatkan support IHSG di sekitar 6.575 dan resistance 6.718.

Sementara itu, MNC Sekuritas melihat IHSG masih rawan koreksi dengan support 6.596 dan resistance 6.705.

Artinya, investor perlu memperhatikan dua zona.

Pertama, 6.600 sebagai area pertahanan.

Jika indeks mampu bertahan di atas area tersebut, struktur rebound masih relatif terjaga.

Kedua, 6.700–6.718 sebagai zona konfirmasi.

Penembusan resistance dengan dukungan volume transaksi dan foreign flow dapat menjadi sinyal bahwa IHSG memiliki tenaga untuk melanjutkan kenaikan.

Sebaliknya, jika indeks kembali jatuh di bawah area 6.575–6.596, risiko koreksi akan meningkat.

Setelah Jatuh Dalam, Saham Indonesia Mulai Diburu Lagi?

Salah satu alasan munculnya optimisme adalah perubahan perilaku investor asing.

Sepanjang pekan lalu, dana asing mulai mengalir kembali ke pasar saham domestik. Bahkan, pembelian terkonsentrasi pada sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar.

Data yang dikutip Indo Premier menunjukkan BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI secara bersama-sama mencatat net foreign buy lebih dari Rp3,19 triliun di pasar reguler selama periode tersebut.

Ini menjadi sinyal yang cukup menarik.

Sebab, ketika asing masuk ke saham-saham big caps, dampaknya terhadap IHSG biasanya lebih terasa dibandingkan jika dana hanya masuk ke saham berkapitalisasi kecil.

Namun, investor juga perlu melihat konsistensinya.

Pada perdagangan Jumat (4/9) saja, investor asing kembali mencatat net sell sekitar Rp317 miliar di pasar reguler. Artinya, arus dana asing belum sepenuhnya bergerak satu arah.

Dengan kata lain, foreign flow memang mulai membaik, tetapi belum cukup untuk disebut sebagai pembalikan tren yang solid.

Big Banks Jadi Kunci Pergerakan IHSG

Sektor perbankan berpotensi menjadi salah satu penentu arah indeks dalam beberapa hari ke depan.

Masuknya dana asing ke BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI menunjukkan bahwa investor global mulai kembali melihat peluang pada saham-saham dengan kapitalisasi besar.

Sebelumnya, pada perdagangan 3 September, investor asing juga tercatat aktif membeli sejumlah saham seperti BMRI, CPIN, dan TPIA.

Jika pola akumulasi big banks berlanjut, ruang IHSG untuk menguji kembali resistance 6.700 akan semakin terbuka.

Sebaliknya, apabila saham-saham perbankan besar mulai mengalami aksi jual dan foreign flow kembali negatif, rebound IHSG berpotensi kehilangan tenaga.

IHSG Rebound, Sektor Apa yang Menarik?

Investor tidak hanya perlu melihat IHSG, tetapi juga mencari sektor yang mendapatkan dukungan katalis.

Perbankan menjadi salah satu sektor yang patut diperhatikan karena mendapat dukungan dari aliran dana asing.

Selain itu, saham berbasis komoditas juga berpotensi menjadi perhatian ketika harga komoditas global bergerak tinggi.

Namun, sektor komoditas memiliki risiko tersendiri. Kenaikan harga minyak, misalnya, juga dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan kebijakan suku bunga.

Karena itu, strategi yang lebih defensif adalah memperhatikan saham dengan likuiditas tinggi, fundamental relatif kuat, dan dukungan foreign flow.

Ada Ancaman dari Global

Meski IHSG mulai rebound, investor belum bisa mengabaikan sentimen eksternal.

Pergerakan pasar global masih dipengaruhi ketegangan geopolitik, harga minyak, arah kebijakan The Federal Reserve, serta data ekonomi Amerika Serikat.

Pada pekan ini, pelaku pasar juga mencermati data cadangan devisa Indonesia, perkembangan rupiah, serta sejumlah data ekonomi dari negara-negara besar.

Data perdagangan China juga menjadi perhatian karena China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Perbaikan aktivitas perdagangan China berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia.

Jadi, Bisakah IHSG Kembali ke 7.000?

Secara matematis, target 7.000 masih cukup realistis.

Dari posisi 6.636, IHSG membutuhkan kenaikan sekitar 5,5% untuk mencapai level tersebut.

Tetapi perjalanan menuju 7.000 tidak akan berlangsung otomatis.

Pasar membutuhkan beberapa konfirmasi sekaligus:

- IHSG mampu mempertahankan area 6.600.

- Resistance 6.700–6.718 berhasil ditembus.

- Foreign flow kembali konsisten positif.

- Saham big banks tetap menjadi tujuan akumulasi.

- Rupiah tidak mengalami tekanan signifikan.

- Sentimen global tidak kembali memburuk secara tajam.

Bahkan, salah satu proyeksi sebelumnya memperkirakan IHSG pada September masih bergerak konsolidatif. Jika mampu menembus 6.600 dengan volume kuat dan foreign flow positif, peluang menuju 6.700 terbuka. Namun, apabila support 6.450 ditembus, risiko koreksi menuju 6.350 masih ada.

Investor Sebaiknya Tidak Terburu-buru Mengejar Harga

Rebound IHSG memang memberikan angin segar bagi pasar saham Indonesia.

Tetapi investor sebaiknya tidak langsung mengartikan penguatan ini sebagai tanda bahwa seluruh risiko sudah hilang.

Justru fase seperti sekarang membutuhkan disiplin.

IHSG di atas 6.600 menunjukkan pasar mulai membangun kembali kepercayaan. Tetapi level 6.700 akan menjadi ujian berikutnya.

Jika resistance tersebut berhasil ditembus dengan dukungan transaksi dan dana asing, target psikologis 7.000 akan semakin masuk radar.

Sebaliknya, kegagalan melewati 6.700 dan kembalinya IHSG ke bawah 6.600 dapat menjadi tanda bahwa kenaikan sebelumnya masih sebatas technical rebound.

Jadi, pertanyaannya bukan sekadar apakah IHSG bisa kembali ke 7.000.

Pertanyaan yang lebih penting bagi investor adalah: apakah kenaikan menuju 7.000 akan ditopang oleh uang asing, saham big caps, volume transaksi, dan fundamental yang cukup kuat?

Untuk saat ini, jawabannya mulai terlihat positif—tetapi belum terkonfirmasi sepenuhnya.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi membeli atau menjual efek. Investor perlu mempertimbangkan profil risiko dan melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

(investortrust/topbusiness/pasardana/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN