Monday, September 7, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Kebakaran Gambut Bawah Tanah Mengancam Indonesia di Tengah El Nino

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 06.00 WIB
kebakaran_gambut_bawah_tanah_mengancam_indonesia_di_tengah_el_nino

Kebakaran gambut Indonesia meningkat akibat kekeringan parah dan El Nino, memicu kekhawatiran terulangnya krisis 2015. (foto: NASA Earth Observatory/Lauren Dauphin vis Science Daily).

news_banner

New York, MISTAR.ID - Kebakaran lahan gambut di Indonesia meningkat pada awal musim kebakaran 2026 di tengah kekeringan parah dan penguatan El Nino.

Dilansir Science Daily, Minggu (6/9/2026), NASA Earth Observatory melaporkan, kebakaran gambut termasuk yang paling berbahaya karena dapat membara di bawah tanah selama berbulan-bulan dan sangat sulit dipadamkan. Kebakaran jenis ini juga menghasilkan polusi jauh lebih besar dibanding kebakaran hutan tropis biasa.

Salah satu perkiraan menyebut kebakaran gambut menghasilkan tiga kali lebih banyak partikel halus, lima kali sulfur dioksida, tiga kali karbon organik, serta sekitar dua kali metana dan karbon monoksida.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyatakan El Nino telah terbentuk dan menguat pada Agustus 2026. Kondisi ini mengurangi curah hujan di Indonesia dan diperparah fase positif Indian Ocean Dipole.

Sekitar 90 persen wilayah Indonesia dilaporkan menerima sedikit atau tidak mendapat hujan pada awal Agustus.

Peneliti Columbia University Robert Field mengatakan aktivitas kebakaran meningkat tajam dan menunjukkan pola yang menyerupai krisis 2015.

“Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan 2015,” katanya.

Pada 2015, kebakaran selama lebih dari tiga bulan menghasilkan emisi setara 1,75 miliar ton gas rumah kaca. Hingga 2 September 2026, kebakaran tahun ini diperkirakan telah menghasilkan sekitar 10 persen dari jumlah tersebut.

Kekeringan membuat gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua cukup kering untuk terbakar hingga ke bawah permukaan.

“Kebakaran permukaan tidak terlalu menjadi perhatian, tetapi ketika api masuk ke bawah tanah, kebakaran itu tidak akan berhenti,” kata Field. Menurutnya, api dapat terus membara hingga hujan datang pada Oktober atau November.

Indonesia memantau kebakaran menggunakan data satelit MODIS dan VIIRS. Sistem SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 946 hotspot pada 31 Agustus 2026.

Namun, kebakaran gambut tidak selalu mudah terdeteksi satelit karena dapat tertutup asap, awan, kanopi hutan, atau berada di bawah tanah.

“Peristiwa asap terburuk, secara paradoks, justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS,” kata ekolog University of Maryland Center for Environmental Science, Mark Cochrane.

Kerentanan gambut Indonesia juga berkaitan dengan pengeringan lahan dan pembangunan kanal sejak 1990-an yang menurunkan muka air tanah. Setelah kebakaran besar 2015, berbagai upaya dilakukan, termasuk penutupan kanal, pembasahan kembali gambut, dan peningkatan pencegahan kebakaran.

Musim kebakaran 2026 dinilai menjadi ujian terhadap efektivitas langkah tersebut.

Dampak asap mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh, sembilan taman nasional ditutup, dan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.

Para peneliti mengingatkan, penanganan kebakaran gambut perlu dilakukan secara konsisten karena dampaknya besar terhadap kesehatan, aktivitas masyarakat, dan emisi gas rumah kaca. (NOAA/Science Daily)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN