Monday, September 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, Nasib Bunga Kredit Jadi Sorotan

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 08.30 WIB
destry_damayanti_resmi_jadi_gubernur_bi_nasib_bunga_kredit_jadi_sorotan

Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI. (foto ilustrasi:wikipedia/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/9/2026) — Destry Damayanti resmi menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026–2031. Ia dilantik pada 2 September 2026, menggantikan Perry Warjiyo, di tengah tantangan menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pergantian kepemimpinan ini menjadi sorotan karena Destry menghadapi kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Salah satu isu yang paling ditunggu masyarakat adalah arah BI Rate dan dampaknya terhadap bunga kredit, mulai dari KPR, kredit kendaraan, hingga pinjaman usaha.

Saat Destry resmi memimpin, BI masih mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Agustus 2026.

Lantas, seperti apa sosok Destry Damayanti dan apa yang bisa terjadi pada suku bunga kredit di era kepemimpinannya?

Destry Damayanti, Gubernur BI Perempuan Pertama

Destry Damayanti bukan nama baru dalam perekonomian Indonesia. Sebelum menjadi Gubernur BI, ia telah lama berkecimpung di sektor keuangan, perbankan, pemerintahan, hingga kebijakan moneter.

Destry lahir di Jakarta pada 1963. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan Master of Science bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat.

Kariernya dimulai sebagai Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000–2003. Ia kemudian menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia serta berkarier sebagai ekonom di Mandiri Sekuritas dan Bank Mandiri.

Pada 2015–2019, Destry menjabat Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Setelah itu, ia masuk ke Bank Indonesia dan menjadi Deputi Gubernur Senior BI hingga 2026.

Sejak 25 Juli 2026, Destry menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI sebelum akhirnya resmi ditetapkan sebagai Gubernur BI periode 2026–2031 melalui Keputusan Presiden Nomor 92/P Tahun 2026.

Pengalaman panjang tersebut membuat Destry memiliki rekam jejak di berbagai sisi sistem keuangan, dari perbankan dan pasar keuangan hingga kebijakan moneter.

Reuters mencatat Destry sebagai perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia. Dalam proses pencalonannya, ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi, koordinasi antarlembaga, serta tetap mempertahankan independensi bank sentral.

Era Destry Dimulai, BI Rate Masih 5,75%

Destry mulai menjalankan mandatnya ketika BI Rate berada di level 5,75%.

Berdasarkan data BI, suku bunga acuan tersebut dipertahankan pada RDG Agustus. Sebelumnya, BI Rate berada di 4,75% pada April 2026, naik menjadi 5,25% pada Mei dan 5,50% pada Juni, sebelum mencapai 5,75% pada 18 Juni dan bertahan pada level tersebut hingga Agustus.

Keputusan mempertahankan BI Rate bukan tanpa alasan. BI menyatakan kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Dengan demikian, tantangan pertama Destry bukan sekadar menentukan apakah suku bunga perlu naik atau turun. Ia harus mencari keseimbangan antara stabilitas rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Kapan Bunga Kredit Bisa Turun?

Bagi masyarakat, pertanyaan yang lebih penting adalah kapan kebijakan BI mulai terasa di kantong.

Penurunan BI Rate memang dapat membuka ruang bagi turunnya bunga kredit. Namun, perubahan tersebut tidak otomatis terjadi pada hari yang sama dan dengan besaran yang sama.

Bank perlu mempertimbangkan biaya dana, kondisi likuiditas, risiko kredit, margin, serta persaingan di industri perbankan sebelum mengubah suku bunga pinjaman.

Karena itu, apabila BI nantinya memangkas BI Rate, bunga KPR, kredit kendaraan, dan pinjaman usaha belum tentu langsung turun sebesar penurunan BI Rate.

Di sisi lain, kondisi kredit perbankan saat ini menunjukkan penyaluran masih tumbuh. BI mencatat kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% secara tahunan, meningkat dari 12,67% pada Juni. Setelah awal Agustus, BI menaikkan insentif KLM dari 5,5% menjadi 6,0% mulai September 2026.BI juga terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong kredit ke sektor prioritas.

Artinya, kebijakan BI di era Destry tidak hanya akan dilihat dari angka BI Rate, tetapi juga dari seberapa efektif kebijakan tersebut diteruskan menjadi pembiayaan yang lebih murah dan lebih mudah diakses.

Nasib Bunga KPR, Kredit Motor, dan Pinjaman Usaha

Bunga KPR

Bagi pemilik atau calon pemilik rumah, arah BI Rate menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan.

Jika tekanan inflasi dan rupiah mereda sehingga BI memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran moneter, biaya dana perbankan berpotensi ikut turun. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi bank untuk menawarkan bunga kredit yang lebih kompetitif.

Namun, dampaknya akan berbeda untuk setiap produk KPR. Nasabah dengan bunga tetap tidak serta-merta merasakan perubahan, sementara KPR dengan skema floating lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Kredit Motor

Hal serupa berlaku untuk kredit kendaraan.

Penurunan biaya pendanaan dapat memberikan ruang bagi perusahaan pembiayaan dan bank untuk menawarkan pembiayaan lebih kompetitif. Namun, cicilan konsumen tetap dipengaruhi oleh harga kendaraan, uang muka, tenor, biaya pembiayaan, dan profil risiko debitur.

Jadi, BI Rate turun tidak berarti cicilan motor otomatis turun dengan persentase yang sama.

Pinjaman Usaha

Bagi pelaku usaha, terutama UMKM, transmisi kebijakan suku bunga justru menjadi sangat penting.

Bunga pinjaman yang lebih rendah dapat mengurangi biaya modal dan memberikan ruang bagi perusahaan untuk menambah kapasitas produksi, investasi, maupun modal kerja.

BI sendiri terus mendorong penyaluran kredit melalui kebijakan makroprudensial yang lebih longgar. Pada Agustus 2026, BI menyebut insentif KLM yang diperoleh perbankan mencapai Rp446,5 triliun hingga minggu pertama Agustus.

Destry Dihadapkan pada Tantangan Rupiah

Selain bunga kredit, rupiah menjadi pekerjaan rumah penting bagi Destry.

Data BI menunjukkan JISDOR berada di level Rp17.636 per dolar AS pada 4 September 2026. Sementara itu, inflasi tahunan Agustus tercatat 3,19%, masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5% plus-minus 1%.

Stabilitas rupiah menjadi penting karena pelemahan mata uang dapat meningkatkan tekanan terhadap harga barang impor dan pada akhirnya memengaruhi inflasi.

Karena itu, ruang Destry untuk memangkas suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar, inflasi, arus modal, serta kondisi ekonomi global.

BI dalam kebijakan Agustus juga menekankan penguatan stabilitas rupiah, peningkatan likuiditas, penarikan modal asing, serta pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Strategi Destry: Jaga Stabilitas, Dorong Pertumbuhan

Di bawah kepemimpinan Destry, pasar akan mencermati apakah BI melanjutkan arah kebijakan yang sudah berjalan atau melakukan penyesuaian terhadap bauran kebijakan moneter dan makroprudensial.

Destry sendiri membawa pengalaman panjang di BI dan sektor keuangan. Dalam pandangannya yang disampaikan saat proses pencalonan, stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas, tetapi koordinasi dengan pemerintah diperlukan untuk mendukung pertumbuhan.

Ini berarti era Destry kemungkinan tidak hanya diukur dari seberapa rendah BI Rate, tetapi juga dari kemampuan BI menjaga stabilitas rupiah dan memastikan kebijakan moneter benar-benar mengalir ke sektor riil.

Jadi, Apakah Bunga Kredit Akan Turun di Era Destry?

Belum ada kepastian bahwa bunga kredit akan langsung turun setelah Destry menjadi Gubernur BI.

Untuk saat ini, BI Rate masih 5,75% dan BI masih menempatkan stabilitas rupiah serta pengendalian inflasi sebagai bagian penting dari kebijakannya.

Jika tekanan eksternal mereda, inflasi tetap terkendali, dan rupiah lebih stabil, ruang pelonggaran suku bunga bisa semakin terbuka. Dalam skenario tersebut, bunga kredit berpotensi ikut turun seiring membaiknya transmisi kebijakan ke perbankan.

Sebaliknya, jika tekanan terhadap rupiah atau inflasi meningkat, BI dapat memilih untuk mempertahankan suku bunga lebih lama.

Dengan demikian, era Destry Damayanti bukan sekadar soal BI Rate turun atau naik. Ujian utamanya adalah bagaimana bank sentral menjaga rupiah dan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Bagi masyarakat, perkembangan BI Rate patut diperhatikan. Namun, sebelum mengambil KPR, kredit kendaraan, atau pinjaman usaha, tetap penting membandingkan bunga efektif, tenor, biaya tambahan, serta kemampuan membayar.

Kini, pasar menunggu langkah Destry berikutnya: apakah ia akan membuka ruang pelonggaran suku bunga, atau memilih mempertahankan BI Rate 5,75% demi menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

(bi/reuters/bps/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN