Monday, September 7, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Erupsi Gunung Anak Krakatau Meluas, Ini Penyebab, Dampak, dan Mitigasinya

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 08.53 WIB
erupsi_gunung_anak_krakatau_meluas_ini_penyebab_dampak_dan_mitigasinya

Erupsi Gunung Anak Krakatau meluas (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4-6 September 2026 memicu penyebaran abu vulkanik ke wilayah yang cukup luas di Jawa dan Sumatra. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari penerbangan, kesehatan hingga kegiatan pendidikan.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) pukul 07.10 WIB. Letusan tersebut berlangsung selama 16 detik dan terekam pada seismograf.

Sebelumnya, aktivitas erupsi juga tercatat pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.

Hasil analisis citra satelit pada pukul 08.00 WIB menunjukkan terdapat dua kelompok utama sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, kelompok pertama berada pada ketinggian hingga 20.000 kaki. Abu pada lapisan tersebut bergerak menuju timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.

Sementara kelompok kedua berada pada ketinggian hingga 50.000 kaki. Pergerakan abu pada lapisan ini mengarah ke barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda dan kawasan Samudra Hindia.

Mengapa Abu Vulkanik Menyebar Begitu Luas?

Profesor klimatologi dan perubahan iklim BRIN Erma Yulihastin menilai luasnya sebaran abu kali ini berkaitan dengan kekuatan erupsi yang terjadi pada Jumat (4/9/2026) malam.

Menurut Erma, erupsi yang terjadi sekitar pukul 23.00 WIB tersebut memiliki daya dorong jauh lebih besar dibandingkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya.

Sejak status gunung dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026, aktivitas erupsi memang telah berulang. Namun, sebagian besar letusan sebelumnya relatif kecil sehingga kolom erupsinya tidak menjulang tinggi dan sebaran abu cenderung terbatas.

Kondisi berbeda terjadi pada erupsi kali ini. Kolom material vulkanik diperkirakan mencapai sekitar 13-17 kilometer atau berada di dekat batas atas troposfer.

Ketinggian tersebut membuat material vulkanik dapat terbawa sistem angin pada lapisan atmosfer yang berbeda.

Erma menjelaskan, sebagian besar material pada lapisan tinggi terdorong ke arah barat akibat pengaruh angin dari timur dan bergerak menuju Samudra Hindia.

Namun, material yang berada lebih rendah dapat bergerak ke daratan. Sebagian abu kemudian berputar mengikuti pola angin lokal sebelum akhirnya turun ke permukaan akibat gravitasi.

Proses tersebut membuat hujan abu masih mungkin terjadi selama beberapa hari setelah erupsi, tergantung kondisi atmosfer dan pergerakan angin.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Siti Sumilah Rita Susilawati juga menyampaikan bahwa arah penyebaran abu dipengaruhi perbedaan ketinggian atmosfer.

Material vulkanik pada lapisan sekitar 15 kilometer bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia. Sementara abu pada lapisan sekitar enam kilometer terdorong ke arah timur.

Sisa material halus dari erupsi sebelumnya juga masih terpantau bergerak menuju kawasan timur dan perairan bagian selatan Selat Sunda.

PVMBG menegaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dinamis. Penurunan amplitudo seismik yang teramati pada 6 September tidak dapat langsung diartikan bahwa aktivitas erupsi telah berakhir.

Masih terdapat kemungkinan aktivitas kembali meningkat sehingga pemantauan harus terus dilakukan.

Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik

Sebaran abu vulkanik juga memengaruhi sektor penerbangan. Pemerintah mengambil keputusan menutup sementara sejumlah bandara demi menjaga keselamatan penerbangan.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan terdapat enam bandara yang sempat ditutup akibat dampak abu vulkanik, yakni Bandara Radin Inten II Lampung, Soekarno-Hatta, Budiarto, Pondok Cabe, Halim Perdanakusuma dan Husein Sastranegara.

Keputusan tersebut diambil setelah pemeriksaan menunjukkan adanya abu vulkanik.

Data InJourney Airport mencatat sebanyak 459 penerbangan dibatalkan hingga pukul 09.15 WIB. Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu lokasi dengan jumlah penerbangan terdampak terbesar, yakni 209 penerbangan dengan 22.798 penumpang.

Sejumlah bandara kemudian disiapkan sebagai alternatif, termasuk Kertajati di Jawa Barat, Ahmad Yani di Jawa Tengah dan Juanda di Jawa Timur.

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat?

Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena mengandung partikel mineral dan material silika yang dapat masuk ke mesin pesawat.

Ketika tersedot ke dalam turbin, partikel tersebut berpotensi menyebabkan erosi pada komponen mesin. Material juga dapat menempel dan mengganggu aliran udara sehingga dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan hilangnya tenaga mesin.

Abu yang menempel pada kaca kokpit juga dapat mengurangi jarak pandang pilot. Selain itu, endapan pada bagian pesawat dapat memengaruhi kondisi aerodinamis.

Karena alasan tersebut, penerbangan yang berada di jalur atau kawasan dengan potensi abu vulkanik harus mengutamakan keselamatan. Pesawat dapat dialihkan ke rute lain atau mendarat di bandara alternatif apabila kondisi tidak memungkinkan.

Sementara itu, layanan transportasi darat dan penyeberangan laut masih berjalan. Lintasan Merak-Bakauheni tetap beroperasi, meskipun terjadi kecenderungan penurunan jumlah penumpang.

PT KAI juga menambah sejumlah perjalanan menuju Jakarta dari Yogyakarta, Malang dan Semarang serta meningkatkan kapasitas beberapa kereta dari Surabaya.

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Kesehatan

Dampak abu vulkanik tidak hanya dirasakan sektor transportasi. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak juga menghadapi risiko gangguan kesehatan.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, abu vulkanik dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama apabila terhirup dalam jumlah cukup banyak.

Keluhan yang mungkin muncul antara lain batuk, iritasi tenggorokan dan gangguan pernapasan. Kondisi penderita penyakit paru kronis, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), juga berpotensi memburuk.

Partikel abu dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Jika abu mencemari makanan atau sumber air, konsumsi material yang terkontaminasi juga dapat menimbulkan gangguan pada saluran pencernaan.

Gas vulkanik yang menyertai erupsi juga dapat menimbulkan keluhan seperti sakit kepala, pusing dan sesak napas.

Pada paparan abu dalam jumlah ekstrem, terutama di sekitar sumber letusan, risiko kekurangan oksigen atau asfiksia dapat meningkat.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Masker N95 atau KN95 dapat digunakan untuk membantu mengurangi paparan partikel abu, terutama oleh kelompok yang rentan.

Ketika konsentrasi abu tinggi, penggunaan pelindung mata dan pakaian berlengan panjang juga dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan abu.

Rumah sebaiknya ditutup agar abu tidak mudah masuk. Setelah beraktivitas di luar, pakaian perlu segera dibersihkan dan tubuh dicuci untuk menghilangkan sisa abu.

Masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan atau gangguan kesehatan lainnya dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Kementerian Kesehatan juga melakukan pemantauan bersama dinas kesehatan di daerah terdampak. Fasilitas kesehatan disiapkan dengan tambahan obat, oksigen konsentrator dan nebulizer untuk menangani gangguan pernapasan.

Sekolah di Wilayah Terdampak Terapkan PJJ

Sebaran abu vulkanik turut memengaruhi kegiatan belajar mengajar.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyatakan sekolah yang berada di wilayah dengan dampak cukup berat dapat menyesuaikan kegiatan pembelajaran berdasarkan kondisi kualitas udara.

Beberapa daerah yang disebut mengalami dampak cukup berat antara lain Serang di Banten serta Tanggamus, Lampung Selatan dan Bandar Lampung di Lampung.

DKI Jakarta menjadi salah satu daerah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan tersebut berlaku untuk sekolah negeri maupun swasta mulai Senin (7/9/2026) dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi.

Lampung juga menerapkan PJJ selama dua hari. Pemerintah daerah meminta kegiatan luar ruangan, termasuk olahraga dan upacara, dihentikan sementara.

Di Jawa Barat, sekolah yang terkena dampak abu vulkanik juga diperbolehkan menerapkan PJJ sesuai kondisi masing-masing daerah.

Sementara Kabupaten Pandeglang, Banten, telah mengeluarkan kebijakan PJJ selama dua hari sejak Senin (7/9/2026).

Berbeda dengan Erupsi 2018

Pemerintah menegaskan erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 memiliki karakteristik yang berbeda dengan peristiwa Desember 2018.

Pada 2018, sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau runtuh. Material longsoran tersebut masuk ke laut dan memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Bencana tsunami tersebut menewaskan 437 orang, menyebabkan lebih dari 14 ribu orang mengalami luka-luka dan membuat puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini sudah berbeda akibat runtuhan pada 2018.

Pertumbuhan tubuh gunung juga masih relatif kecil berdasarkan pemetaan terbaru sehingga kondisi saat ini tidak menunjukkan indikasi yang sama dengan peristiwa 2018.

Namun, pemerintah tetap mengingatkan bahwa aktivitas gunung api bersifat dinamis dan perkembangan erupsi tidak dapat dipastikan secara tepat.

Bahaya yang masih harus diwaspadai mencakup lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu serta gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi.

Zona larangan aktivitas saat ini berada dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Radius tersebut dapat diperluas jika energi erupsi meningkat, lontaran material semakin jauh, terjadi perubahan deformasi atau tekanan internal, maupun terdapat perubahan morfologi gunung.

Mitigasi Tidak Bisa Hanya Dilakukan Saat Bencana

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan pentingnya sistem mitigasi bencana yang terintegrasi.

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik sehingga memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai bencana geologi dan hidrometeorologi. Karena itu, mitigasi idealnya tidak berhenti pada respons ketika bencana telah terjadi.

Erma Yulihastin menilai Indonesia membutuhkan pemetaan multiancaman atau multi-hazard mapping. Peta tersebut tidak hanya memuat potensi letusan, tetapi juga memperhitungkan risiko kesehatan, lingkungan, sosial hingga kerugian ekonomi.

Penyusunannya perlu melibatkan berbagai bidang keahlian, mulai dari meteorologi, klimatologi, vulkanologi dan seismologi hingga kesehatan, ekologi serta ekonomi.

Menurutnya, peta risiko harus diperbarui secara berkala agar dapat menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan.

Sistem mitigasi juga perlu memperkuat koordinasi antarlembaga sehingga informasi mengenai bahaya dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang cepat dan seragam di lapangan.

Pengalaman Jepang menjadi salah satu contoh penting dalam membangun sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat. Negara tersebut memiliki sistem pemantauan bencana yang terintegrasi dan terus mengembangkan teknologi berdasarkan pengalaman menghadapi gempa, tsunami dan letusan gunung api.

Dalam kasus Gunung Anak Krakatau, pemantauan dari luar negeri juga menunjukkan pentingnya kerja sama regional. Jepang ikut memantau kemungkinan dampak tsunami, sementara citra satelit Himawari-9 membantu menyediakan gambaran kondisi atmosfer dan pergerakan material vulkanik.

Pada akhirnya, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menjadi persoalan aktivitas gunung api. Sebaran abu yang mencapai wilayah luas menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan koordinasi antara lembaga kebencanaan, meteorologi, kesehatan, transportasi, pendidikan dan pemerintah daerah.

Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau pun masih terus dilakukan karena kondisi gunung dinilai belum sepenuhnya stabil.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN