Monday, September 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Inflasi 3,19%: 5 Barang yang Bikin Dompet Makin Tipis, Ada Ayam dan Beras

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 07.58 WIB
inflasi_319_5_barang_yang_bikin_dompet_makin_tipis_ada_ayam_dan_beras

Inflasi 3,19%: 5 Barang yang Bikin Dompet Makin Tipis, Ada Ayam dan Beras. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/9/2026) — Inflasi Indonesia kembali naik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari 2,88% pada Juli 2026.

Kenaikan ini menunjukkan tekanan harga kembali menguat. Namun, bukan berarti seluruh barang mengalami kenaikan dengan besaran yang sama. Sejumlah komoditas pangan justru menjadi penyumbang utama yang membuat pengeluaran rumah tangga berpotensi ikut membengkak.

Lantas, barang apa saja yang paling berpengaruh terhadap inflasi Agustus 2026?

Inflasi Agustus 2026 Tembus 3,19%

BPS mencatat inflasi bulanan atau month to month (mtm) pada Agustus 2026 sebesar 0,21%. Sementara itu, inflasi sejak awal tahun mencapai 1,86%.

Inflasi tahunan sebesar 3,19% juga lebih tinggi dibandingkan Juli yang berada di level 2,88%. Adapun inflasi inti tercatat 2,92% secara tahunan.

Kenaikan inflasi terutama berkaitan dengan meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan. Dewan Ekonomi Nasional mencatat inflasi komponen harga pangan bergejolak (volatile food) naik menjadi 4,06% secara tahunan, dari 2,52% pada Juli.

Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan cukup signifikan adalah daging ayam ras, yang harganya naik sekitar 12,2% secara tahunan.

Daging Ayam Jadi Salah Satu Pendorong Utama

Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang perlu diperhatikan ketika membahas inflasi Agustus 2026.

Kenaikan harga ayam tidak hanya berdampak pada konsumen yang membeli ayam untuk kebutuhan rumah tangga. Biaya bahan baku yang meningkat juga dapat memengaruhi harga makanan yang menggunakan ayam sebagai bahan utama.

Menurut Dewan Ekonomi Nasional (DEN), kenaikan harga daging ayam ras berkaitan dengan meningkatnya permintaan, termasuk seiring kembalinya aktivitas sekolah dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Beras dan Cabai Tetap Jadi Perhatian

Selain ayam, komoditas pangan lain juga ikut memengaruhi pergerakan harga.

Beras menjadi salah satu barang yang perlu dicermati karena merupakan kebutuhan pokok dengan frekuensi konsumsi tinggi. Perubahan harga yang relatif kecil sekalipun dapat terasa dalam anggaran belanja bulanan rumah tangga.

Cabai rawit juga termasuk komoditas yang ikut memberikan tekanan harga di sejumlah daerah. Di sejumlah daerah, komoditas seperti cabai rawit dan beras juga memberikan tekanan terhadap harga. Di Jawa Tengah, misalnya, cabai rawit dan daging ayam ras termasuk penyumbang utama inflasi kelompok makanan..

Artinya, tekanan inflasi pangan tidak hanya berasal dari satu komoditas.

Emas Perhiasan Ikut Mengerek Inflasi

Inflasi bukan hanya persoalan harga kebutuhan dapur.

Emas perhiasan juga menjadi salah satu komoditas yang mendorong inflasi inti. Dewan Ekonomi Nasional mencatat kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi inti naik menjadi 2,92% pada Agustus 2026.

Harga emas Antam bahkan tercatat meningkat sekitar 38,9% secara tahunan. Selain emas, harga minyak goreng juga meningkat sekitar 7,6% secara tahunan.

Dengan demikian, kenaikan biaya hidup yang tercermin dalam inflasi 3,19% tidak semata-mata berasal dari bahan pangan.

Tidak Semua Harga Barang Naik

Meski inflasi meningkat, bukan berarti semua harga barang mengalami kenaikan.

Pada Agustus, sejumlah komponen justru membantu menahan laju inflasi. Dewan Ekonomi Nasional mencatat komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami penurunan inflasi tahunan menjadi 3,32% dari 3,58% pada Juli.

Penurunan harga sejumlah BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Turbo, ikut memberikan tekanan yang lebih rendah pada komponen tersebut.

Karena itu, angka inflasi 3,19% sebaiknya tidak dimaknai sebagai semua harga barang naik 3,19%. Angka tersebut merupakan perubahan tingkat harga konsumen secara umum dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Apa Dampaknya ke Pengeluaran Rumah Tangga?

Dampak inflasi akan berbeda pada setiap rumah tangga karena pola konsumsi tidak sama.

Keluarga yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk membeli bahan makanan akan lebih sensitif terhadap kenaikan harga pangan. Sebaliknya, rumah tangga dengan porsi pengeluaran yang lebih besar untuk transportasi, pendidikan atau kebutuhan lainnya bisa merasakan dampak yang berbeda.

Karena itu, ukuran yang paling relevan bagi konsumen bukan hanya inflasi nasional, tetapi seberapa besar pengeluaran rumah tangga berubah dibandingkan pendapatan.

Jika harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada pendapatan, daya beli akan semakin tertekan.

Inflasi Naik, Apa yang Harus Dilakukan?

Kenaikan inflasi menjadi pengingat bagi rumah tangga untuk kembali mengecek pola pengeluaran.

Belanja makanan, transportasi, tagihan rutin hingga kebutuhan pribadi perlu dipantau untuk melihat pos mana yang mengalami kenaikan paling besar.

Dengan inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19%, konsumen juga perlu membedakan antara kenaikan harga sementara pada komoditas tertentu dan kenaikan harga yang lebih luas.

Pada akhirnya, bukan angka inflasi saja yang menentukan apakah dompet terasa makin tipis, tetapi kombinasi antara harga barang yang dibeli dan pertumbuhan pendapatan rumah tangga.

Inflasi 3,19% masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5% plus-minus 1% untuk 2026. Namun, perkembangan harga pangan tetap menjadi perhatian karena langsung bersentuhan dengan pengeluaran masyarakat sehari-hari.

(bps/den/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN