NTP Sumut Naik Tipis Jadi 156,96 pada Agustus 2026

Ilustrasi petani merawat tanaman teh. (foto: antara/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatat peningkatan pada daya beli petani di wilayah perdesaan selama Agustus 2026.
Indikator kesejahteraan yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) berada pada angka positif, meski subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan harga komoditas karet dan kelapa sawit.
Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan pada Agustus 2026 NTP Sumut mengalami kenaikan 0,01 persen menjadi 156,96, jika dibanding NTP Juli 2026 yang berada di posisi 156,95.
Kenaikan tersebut merupakan dampak dari pertumbuhan positif empat subsektor pertanian utama, sementara satu subsektor lainnya mengalami kontraksi.
"Kenaikan NTP Agustus 2026 disumbang dari naiknya empat subsektor. NTP subsektor hortikultura mencatat kenaikan 1,34 persen, kemudian perikanan 1,07 persen, peternakan 0,62 persen, dan tanaman pangan 0,59 persen. Di sisi lain, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 0,42 persen," kata Asim, Minggu (6/9/2026).
Pergerakan positif NTP dipengaruhi dinamika harga komoditas yang diproduksi petani. Pada subsektor tanaman pangan, komoditas gabah, ketela pohon, dan kacang tanah menjadi pendorong utama kenaikan harga jual.
Untuk subsektor hortikultura, terbesar disumbang kenaikan harga jeruk, cabai rawit, dan ketimun. Subsektor peternakan, harga ayam ras pedaging dan babi berhasil membuat pendapatan peternak naik.
Dari pesisir, nelayan subsektor perikanan diuntungkan oleh kenaikan harga ikan kembung, tamban, dan tongkol.
"Berbanding terbalik, kesejahteraan petani di subsektor tanaman perkebunan rakyat justru tertekan. Penurunan daya tukar didorong oleh anjloknya harga jual komoditas karet, kelapa sawit, dan kelapa di tingkat petani," ucapnya.
Asim mengatakan, kondisi tersebut membuat indeks harga yang diterima petani perkebunan, tidak mampu mengimbangi harga yang harus dibayarkan untuk kebutuhan sehari-hari termasuk biaya produksi.
Kesejahteraan petani juga dipengaruhi oleh Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang mencerminkan besaran pengeluaran mereka.
BPS mencatat, penyumbang terbesar kenaikan beban pengeluaran rumah tangga petani di hampir seluruh subsektor, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, hingga perikanan, didominasi kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti daging ayam ras, beras, dan cabai rawit.
"Indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di Sumut pada Agustus 2026 terpantau menguat. NTUP mengalami kenaikan 0,12 persen, sehingga berada di 160,86. Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 0,35 persen, kemudian Biaya Penambahan Barang Modal (BPPBM) hanya naik 0,24 persen," ujarnya.
Kenaikan NTUP dikarenakan empat subsektor utama, subsektor hortikultura mengalami kenaikan terbesar yaitu 1,58 persen. Namun, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 0,32 persen.



























